RISING 8 Siap Ubah Peta Cloud Dan AI Indonesia, Kabel Laut 400 Tbps Dikebut Ke 2026

Proyek kabel laut RISING 8 menjadi salah satu sinyal paling jelas bahwa kebutuhan konektivitas digital Indonesia sudah masuk fase baru. Jaringan bawah laut berkapasitas hingga 400 Tbps ini ditargetkan siap beroperasi penuh atau Ready For Service pada 2026 untuk memperkuat tulang punggung internet nasional.

Pekerjaan ini juga menegaskan peran talenta lokal dalam proyek infrastruktur digital berskala internasional. PT Nica Globalmarin Indonesia berhasil mengeksekusi pemasangan kabel laut internasional tersebut, termasuk pekerjaan shore end installation dan cable landing di Tanjung Pakis, Jawa Barat.

Koneksi strategis Jakarta, Batam, dan Singapura

RISING 8 dirancang untuk menghubungkan jalur krusial antara Jakarta, Batam, dan Singapura. Secara keseluruhan, sistem ini membentang sepanjang 1.128,5 kilometer dengan segmen Jakarta–Batam mencapai sekitar 1.053,5 kilometer.

Dalam pengerjaan awal, tim ahli PT Nica Globalmarin Indonesia menggelar kabel sepanjang 9 kilometer di jalur Jakarta–Batam. Porsi itu menjadi bagian penting dari proyek yang ditujukan untuk memperkuat konektivitas digital kawasan.

Dorongan untuk cloud, AI, dan data center

Kehadiran jaringan ini dinilai sangat penting karena kebutuhan terhadap cloud computing, infrastruktur AI, dan hyperscale data center terus meningkat. Tanpa jalur bawah laut yang memadai, ekosistem digital Indonesia akan sulit mengikuti laju perubahan teknologi global.

Kebutuhan itu juga terlihat dari perkembangan pengguna internet nasional. Data APJII menunjukkan jumlah pengguna internet di Indonesia telah menembus sekitar 221 juta jiwa dengan tingkat penetrasi 79,5 persen.

Lonjakan konsumsi data membuat penguatan backbone internet menjadi mendesak. Infrastruktur kabel laut yang lebih kuat dibutuhkan agar risiko bottleneck dan gangguan koneksi bisa ditekan.

Pasar data center ikut mendorong kebutuhan infrastruktur

Tekanan pada jaringan tidak datang dari pengguna internet saja. Pasar data center di Indonesia diprediksi tumbuh dari USD 1,83 miliar menjadi USD 3,48 miliar pada 2031.

Di saat yang sama, beban IT atau IT load diperkirakan melonjak hingga 3,56 GW pada 2030. Proyeksi itu memperlihatkan bahwa kapasitas jaringan bawah laut harus ikut naik untuk menopang pertumbuhan ekosistem digital.

Kerja presisi tinggi di laut lepas

Pengerjaan kabel laut ini menuntut operasi teknis yang rumit. Tim di lapangan menerapkan ship-to-ship transpooling cable di tengah laut lepas dengan dukungan armada Landing Craft Tank yang dimodifikasi.

Stabilitas kapal juga dijaga lewat anchor mooring operation agar transfer kabel antar-vessel berjalan aman. Koordinasi antara tim laut lepas, penanganan kabel, dan personel darat menjadi kunci agar instalasi tetap presisi.

Peluang Indonesia jadi hub digital Asia Tenggara

Direktur PT Nica Globalmarin Indonesia, Arnezus Ayal, menilai pembangunan infrastruktur bawah laut bukan lagi pilihan, melainkan elemen vital untuk transformasi digital regional. Ia juga menyebut Indonesia punya peluang besar untuk menjadi hub konektivitas digital terdepan di Asia Tenggara.

Keterlibatan perusahaan lokal dalam proyek skala internasional ini menjadi penanda bahwa kemampuan marine engineering anak bangsa semakin diperhitungkan. Di saat pasar kabel laut nasional diproyeksikan tumbuh sekitar 12 persen CAGR hingga 2030, proyek seperti RISING 8 memperlihatkan arah baru penguatan infrastruktur digital Indonesia.

Source: id.mashable.com

Berita Terkait

Back to top button