Benarkah iPhone Menekan Angka Kelahiran, Studi Menyorot Dampak Tak Terduga Smartphone

Penurunan angka kelahiran selama ini lebih sering dikaitkan dengan naiknya taraf hidup, pendidikan yang lebih baik, urbanisasi, layanan kesehatan, partisipasi perempuan di dunia kerja, serta akses kontrasepsi. Namun, riset terbaru mulai menguji faktor lain yang terdengar tidak biasa: apakah smartphone, termasuk iPhone, ikut mendorong tren itu.

Data National Bureau of Economic Research menunjukkan tingkat fertilitas di Amerika Serikat relatif stabil di kisaran 65 hingga 70 kelahiran per 1.000 perempuan sepanjang 1980 hingga 2007. Setelah itu arahnya berubah tajam, dan pada 2024 angkanya turun menjadi 54 kelahiran per 1.000 perempuan, atau merosot hampir 22 persen dalam 17 tahun.

Perubahan waktu itu berdekatan dengan peluncuran iPhone pada Juni 2007. Meski begitu, para peneliti tidak menyimpulkan bahwa iPhone menjadi satu-satunya penyebab, karena krisis keuangan global 2008 dan faktor sosial-ekonomi lain juga dapat memengaruhi keputusan berkeluarga.

Akses smartphone dan penurunan kelahiran

Peluncuran awal iPhone justru memberi ruang bagi peneliti untuk melihat pola yang lebih spesifik. Saat pertama hadir di Amerika Serikat, perangkat itu hanya tersedia melalui operator AT&T, sehingga aksesnya sangat bergantung pada cakupan jaringan AT&T di tiap wilayah.

Dari situ, peneliti membandingkan daerah dengan konektivitas AT&T yang kuat dengan wilayah yang minim atau tidak terjangkau. Hasilnya menunjukkan pola yang mencolok: daerah yang memiliki akses iPhone lebih besar mencatat penurunan angka kelahiran yang lebih dalam.

Efek itu paling terlihat pada kelompok usia muda. Pada perempuan usia 15 hingga 19 tahun, akses ke iPhone dikaitkan dengan penurunan angka kelahiran sebesar 4,5 persen hingga 8 persen.

Pada perempuan usia 20 hingga 24 tahun, penurunannya berkisar 3,2 persen hingga 6,6 persen. Menurut para peneliti, akses smartphone mungkin menjelaskan sekitar 33 persen hingga 52 persen dari total penurunan angka kelahiran perempuan usia 15 hingga 44 tahun antara 2007 dan 2011.

Jika dilihat berdasarkan cakupan jaringan, polanya makin jelas. Angka kelahiran remaja turun 13,8 persen di wilayah tanpa cakupan AT&T, turun 18,9 persen di daerah dengan cakupan parsial, dan turun 26 persen di wilayah dengan cakupan yang nyaris penuh.

Kelompok muda berubah paling cepat

Penurunan angka kelahiran ternyata tidak merata di semua umur. Sepanjang 2007 hingga 2024, angka kelahiran pada perempuan usia 15 hingga 19 tahun anjlok 70 persen.

Pada kelompok usia 20 hingga 24 tahun, penurunannya mencapai 47 persen. Sebaliknya, pada perempuan usia 30 hingga 34 tahun, penurunannya hanya 7 persen.

Bahkan, pada perempuan usia 35 hingga 39 tahun justru tercatat kenaikan 14 persen. Angka-angka ini menunjukkan perubahan perilaku reproduksi jauh lebih tajam terjadi pada generasi yang lebih muda.

Perbedaan antarkelompok umur ini menjadi salah satu alasan mengapa smartphone mendapat perhatian khusus dalam kajian tersebut. Generasi muda merupakan kelompok yang paling cepat mengadopsi perangkat dan kebiasaan digital baru, sehingga dampaknya dinilai lebih mudah terlihat.

Mengapa smartphone diduga berpengaruh

Peneliti mengajukan beberapa kemungkinan penjelasan tidak langsung. Salah satunya, orang kini menghabiskan lebih banyak waktu di perangkat dan lebih sedikit waktu untuk interaksi tatap muka serta membangun relasi.

Smartphone juga mengubah cara orang menikmati hiburan, bersosialisasi, dan mengisi waktu luang. Perubahan kebiasaan ini dinilai dapat memengaruhi frekuensi interaksi romantis atau seksual di dunia nyata.

Penjelasan lain menyangkut konsumsi konten dewasa di internet. Selama periode studi, pencarian untuk konten pornografi dilaporkan meningkat lebih dari dua kali lipat, sementara survei menunjukkan semakin banyak orang dewasa yang melaporkan menonton konten berperingkat X.

Sebagian peneliti menilai konsumsi semacam itu dapat menjadi pengganti aktivitas seksual. Meski begitu, hubungan ini tetap bersifat penjelasan kemungkinan, bukan bukti sebab-akibat tunggal.

Informasi kontrasepsi makin mudah diakses

Faktor yang dianggap paling praktis adalah akses informasi. Dengan smartphone, anak muda bisa lebih cepat memperoleh informasi tentang kontrasepsi, pencegahan kehamilan, kesehatan reproduksi, hingga layanan aborsi.

Informasi yang dulu lebih sulit dicari kini tersedia hanya lewat layar ponsel. Peneliti menilai kemudahan ini dapat membuat orang lebih siap mengambil keputusan tentang kapan ingin memiliki anak, atau apakah ingin menundanya.

Temuan ini tidak berarti iPhone atau smartphone harus “disalahkan” atas turunnya angka kelahiran. Peneliti tetap menegaskan bahwa ketidakpastian ekonomi, perubahan norma sosial, penundaan pernikahan, pendidikan yang lebih tinggi, dan prioritas karier masih menjadi faktor penting.

Yang berubah adalah cara teknologi kini dipandang dalam pembahasan demografi. Smartphone bukan hanya alat komunikasi dan hiburan, tetapi juga bisa ikut membentuk pola hubungan, keputusan reproduksi, dan arah pertumbuhan populasi.

[crp] Source: sundayguardianlive.com

Terkait