Kelompok 4 Program Studi Sistem Informasi Universitas Pamulang menghadirkan website antrean digital di SMAN 1 Warunggunung untuk mendukung distribusi program Makan Bergizi Gratis. Langkah ini menonjol karena menyasar masalah yang paling sering muncul di lapangan, yakni antrean manual yang memicu kerumunan, waktu tunggu panjang, dan kelelahan siswa saat jam istirahat.
Di tengah percepatan pelaksanaan MBG, efisiensi distribusi menjadi faktor penting agar manfaat program tidak terhambat oleh persoalan teknis. Sistem yang dibangun mahasiswa UNPAM ini dirancang agar siswa bisa mengakses antrean lebih tertib tanpa harus menghabiskan banyak waktu di barisan.
Inisiatif tersebut dikembangkan sebagai bentuk pengabdian masyarakat yang terukur, bukan sekadar pemenuhan kewajiban akademik. Fokus utamanya adalah membantu sekolah mengelola distribusi logistik dalam skala besar dengan cara yang lebih praktis dan profesional.
Vania Denty dari Kelompok 4 menjelaskan, sistem ini lahir dari hasil observasi terhadap pola manajemen sekolah konvensional yang mulai kewalahan menangani pembagian layanan kepada banyak siswa. Menurut dia, antrean manual sering tidak tertib dan memakan waktu lama sehingga menciptakan kerumunan yang tidak efisien dalam pelaksanaan MBG.
Ia menyebut visi timnya adalah menghadirkan teknologi yang inklusif agar siswa tetap mendapatkan hak gizi mereka tanpa harus membuang waktu dalam kekacauan antrean. Pendekatan itu juga menempatkan waktu istirahat sebagai bagian penting dari pemulihan kognitif siswa sebelum kembali mengikuti pelajaran di kelas.
Akses lewat browser tanpa aplikasi tambahan
Salah satu keputusan penting dalam pengembangan sistem ini adalah pemilihan platform berbasis website. Dengan model tersebut, siswa tidak perlu mengunduh aplikasi tambahan dan cukup memakai browser untuk mengakses layanan antrean.
Melalui laman itu, siswa dapat mengambil nomor antrean dan memantau posisi urutan secara real-time. Mereka juga bisa datang ke loket distribusi saat nomor mereka sudah mendekati giliran, sehingga waktu menunggu di area layanan dapat ditekan.
Model ini menjawab masalah umum dalam antrean manual, terutama ketika informasi pemanggilan hanya mengandalkan suara petugas. Dalam praktik konvensional, siswa kerap harus tetap berdiri di sekitar loket agar tidak tertinggal giliran.
Kelompok 4 mencoba mengubah pola itu lewat sistem digital yang lebih terukur. Dengan cara ini, antrean tidak hanya menjadi lebih tertib, tetapi juga lebih ramah bagi ritme kegiatan sekolah.
Didukung sistem admin dan pembaruan sangat cepat
Di sisi teknis, sistem antrean digital tersebut dikembangkan menggunakan PHP dan MySQL. Achmad Fauzi, yang memimpin pemaparan teknis, menyebut platform ini dilengkapi dashboard admin untuk memberi kontrol penuh kepada petugas pengelola.
Selain itu, sistem juga memiliki fitur monitoring layar yang diperbarui setiap detik. Fitur ini ditujukan untuk memastikan informasi antrean tetap akurat dan mudah dipantau oleh pengguna maupun petugas di lokasi distribusi.
Achmad Fauzi menjelaskan bahwa sistem dirancang dengan prinsip real-time update. Setiap kali petugas memanggil nomor antrean, informasi itu langsung terdorong ke perangkat siswa dalam waktu kurang dari satu detik.
Kecepatan pembaruan tersebut dinilai penting untuk mengurangi risiko informasi terlewat yang sering terjadi pada pemanggilan manual. Dengan notifikasi pergerakan antrean yang cepat, siswa tidak perlu terus-menerus memusatkan perhatian ke satu titik layanan.
Hasil survei menunjukkan dampak nyata
Untuk mengukur efektivitas inovasi ini, tim melakukan pengumpulan data melalui kuesioner kuantitatif. Hasilnya menunjukkan respons yang sangat positif dari siswa sebagai pengguna utama sistem.
Sebanyak 95 persen siswa menyatakan waktu tunggu menjadi lebih pendek setelah memakai website antrean digital. Angka ini memperlihatkan bahwa sistem tidak hanya menarik dari sisi konsep, tetapi juga memberi dampak operasional yang langsung terasa.
Sebanyak 92 persen siswa juga menilai antarmuka website sangat mudah dioperasikan. Temuan ini memperkuat alasan pemilihan platform web, karena akses yang sederhana menjadi syarat penting agar teknologi benar-benar bisa dipakai secara luas di lingkungan sekolah.
Dampak lain terlihat pada kondisi fisik di area layanan. Penurunan kerumunan di area kantin dilaporkan mencapai 70 persen, sebuah angka yang menunjukkan perubahan signifikan dalam pengelolaan antrean distribusi.
Capaian itu menegaskan bahwa digitalisasi layanan sekolah tidak selalu harus dimulai dari sistem yang rumit. Solusi sederhana yang tepat sasaran justru bisa memberi perubahan besar bila menyentuh kebutuhan harian siswa dan petugas.
Kelompok 4 juga sudah menyiapkan pengembangan lanjutan untuk tahun 2025. Rencana itu mencakup integrasi notifikasi WhatsApp serta peningkatan kapasitas server agar sistem mampu mendukung skalabilitas yang lebih luas.
Langkah mahasiswa UNPAM di SMAN 1 Warunggunung memperlihatkan bagaimana kolaborasi perguruan tinggi dan sekolah dapat menghasilkan solusi konkret. Inovasi ini sekaligus menunjukkan bahwa penerapan teknologi di lingkungan pendidikan bisa diarahkan langsung untuk menyelesaikan persoalan operasional yang dekat dengan kebutuhan siswa.







