Instagram memperluas fitur “Your Algorithm” ke Feed utama, memberi pengguna cara baru untuk mengatur rekomendasi konten yang muncul di beranda. Langkah ini penting karena Feed menjadi ruang paling sering dilihat pengguna, sekaligus tempat algoritma selama ini sangat menentukan apa yang tampil setiap hari.
Sebelumnya, kontrol serupa hanya tersedia untuk Reels dan Explore. Dengan perluasan ini, pengguna kini bisa melihat langsung minat apa saja yang diasosiasikan Instagram dengan akun mereka, lalu menyesuaikannya agar rekomendasi di Feed terasa lebih relevan.
Pengguna bisa melihat dan mengubah topik minat
Melalui bagian “Your Algorithm”, Instagram menampilkan daftar topik yang menurut sistem relevan dengan kebiasaan pengguna. Topik itu bisa mencakup bidang seperti perjalanan, kebugaran, teknologi, atau mode, tergantung pada pola interaksi masing-masing akun.
Jika ada topik yang sudah tidak ingin dilihat, pengguna dapat menghapusnya dari daftar. Pengguna juga bisa menambahkan minat baru untuk memengaruhi jenis rekomendasi yang akan muncul berikutnya di Feed.
Perubahan ini menandai upaya Instagram untuk memberi kontrol yang lebih nyata atas pengalaman menggunakan platform. Selama bertahun-tahun, banyak keputusan soal konten yang tampil ditentukan oleh sistem rekomendasi, bukan oleh pilihan langsung dari pengguna.
Adam Mosseri, kepala Instagram, menyebut langkah ini sebagai bagian awal dari dorongan yang lebih besar. Arah utamanya adalah membantu pengguna membentuk pengalaman mereka sendiri di platform, alih-alih sepenuhnya menyerahkannya pada keputusan algoritma.
Algoritma makin dominan di media sosial
Dalam satu dekade terakhir, sistem rekomendasi menjadi inti dari banyak platform media sosial. TikTok, YouTube, X, Threads, dan Instagram sama-sama mengandalkan rekomendasi berbasis AI untuk menampilkan konten dari akun yang belum tentu diikuti pengguna.
Model ini membuat pengguna lebih mudah menemukan kreator dan konten baru. Namun, menurut Mosseri, pendekatan itu juga mengurangi rasa kendali karena pengguna punya sedikit cara untuk memberi tahu sistem secara langsung tentang apa yang benar-benar ingin mereka lihat.
Selama ini, algoritma belajar dari sinyal seperti suka, waktu menonton, bagikan, dan bentuk interaksi lain. Data itu dipakai untuk menebak minat pengguna, lalu menyusun rekomendasi yang dianggap paling mungkin menarik perhatian.
Masalahnya, proses tersebut sering berjalan seperti kotak hitam. Pengguna melihat hasil akhirnya di layar, tetapi tidak selalu tahu alasan di balik munculnya topik atau jenis konten tertentu.
Instagram ingin rekomendasi lebih transparan
Instagram menilai kemajuan terbaru di bidang kecerdasan buatan mulai membuka jalan untuk kontrol yang lebih jelas. Menurut Mosseri, model bahasa besar kini dapat menafsirkan kelompok konten lalu menerjemahkannya menjadi topik yang lebih mudah dipahami manusia.
Dengan pendekatan itu, sistem rekomendasi tidak lagi hanya membaca pola perilaku secara diam-diam. Sistem juga bisa menjelaskan minat yang diasumsikan, sehingga pengguna memiliki titik masuk yang lebih transparan untuk mengubah hasil rekomendasi.
Bagi pengguna, manfaat paling langsung dari fitur ini adalah kemampuan untuk mengoreksi asumsi algoritma. Jika sistem salah membaca minat akun, pengguna tidak harus menunggu lama sampai pola interaksi berubah dengan sendirinya.
Kehadiran kontrol semacam ini juga menunjukkan perubahan sikap platform terhadap personalisasi. Instagram tampaknya ingin bergerak dari model rekomendasi yang sepenuhnya otomatis ke model yang tetap cerdas, tetapi lebih bisa diarahkan oleh pengguna.
Baru langkah awal, kontrol lain sedang disiapkan
Instagram menyebut topik sebagai tahap pertama dari pembaruan yang lebih luas. Perusahaan itu sudah menyiapkan kontrol tambahan yang dapat membantu pengguna memengaruhi rekomendasi berdasarkan kreator tertentu, format konten, suasana hati, atau minat yang lebih spesifik.
Artinya, personalisasi di masa depan tidak hanya berhenti pada daftar tema umum. Pengguna berpeluang mendapat alat yang lebih rinci untuk membentuk isi aplikasi sesuai kebiasaan dan preferensi mereka sendiri.
Mosseri menggambarkan fitur ini bukan sekadar menu pengaturan tambahan. Ia menempatkannya sebagai bagian dari gagasan yang lebih besar bahwa orang seharusnya punya kendali yang bermakna atas produk digital yang mereka gunakan setiap hari.
Ia juga memberi sinyal bahwa sistem AI ke depan dapat memungkinkan personalisasi pengalaman aplikasi secara real time. Arah ini menunjukkan bahwa hubungan antara pengguna dan algoritma tidak lagi hanya satu arah, melainkan semakin interaktif.
Bagi Instagram, perluasan “Your Algorithm” ke Feed menegaskan bahwa rekomendasi tetap akan menjadi bagian penting dari platform. Bedanya, pengguna kini mulai diberi ruang lebih besar untuk menentukan sendiri konten seperti apa yang seharusnya muncul di layar mereka.
