Kacamata pintar sedang naik kelas di China. Perangkat ini tidak lagi diposisikan sebagai eksperimen futuristis, melainkan sebagai produk yang mulai masuk ke kebutuhan harian.
Perubahan itu terlihat dari cara perusahaan teknologi merancangnya. AI, penerjemahan bahasa, kamera, dan augmented reality kini dikemas dalam bentuk yang makin ringan dan mendekati kacamata biasa.
AI mendorong kacamata pintar jadi relevan
Kemunculan AI generatif menjadi alasan utama kebangkitan smart glasses. Sebelumnya, banyak kacamata pintar kesulitan menawarkan fungsi yang benar-benar terasa penting bagi pengguna.
Rokid menjadi salah satu pemain yang paling agresif di area ini. Perusahaan itu baru mengumumkan integrasi Gemini dari Google ke platform smart glasses mereka.
Integrasi tersebut membuat interaksi AI berjalan lebih kontekstual dan responsif. Percakapan dengan perangkat juga terasa lebih natural langsung lewat kacamata.
Rokid menilai smart glasses kini menjadi salah satu antarmuka paling alami untuk berinteraksi dengan AI. Pengguna tidak perlu membuka aplikasi atau mengetik perintah panjang di smartphone.
Fitur yang bergerak dari penerjemah ke asisten pribadi
Generasi terbaru smart glasses di China tidak berhenti pada fungsi audio. Rokid dan INMO juga membawa fitur penerjemahan langsung ke produk mereka.
Perangkat itu disebut mampu menerjemahkan interaksi suara dalam 12 bahasa serta menerjemahkan hingga 89 bahasa. Fitur ini membuat kacamata pintar semakin berguna untuk komunikasi lintas bahasa.
Pendekatan tersebut menunjukkan arah baru smart glasses sebagai asisten pribadi yang selalu aktif. Pengguna bisa meminta informasi, melakukan navigasi, menerjemahkan percakapan, dan menjalankan perintah lewat suara.
Rokid juga membangun Agent Store untuk pengembang. Wadah ini memungkinkan pembuatan workflow AI yang berjalan langsung di perangkat.
Hingga saat ini, perusahaan mengaku menerima lebih dari 3.000 pengajuan workflow AI. Ratusan di antaranya sudah tersedia untuk pengguna.
AR glasses mulai menyasar penggunaan yang lebih nyata
Di luar AI glasses tanpa layar, perusahaan China juga mendorong adopsi augmented reality dengan desain yang lebih praktis. INMO Air3 menjadi salah satu contoh yang menonjol.
Perangkat ini menggabungkan layar AR penuh warna, sistem operasi mandiri, dan dukungan berbagai aplikasi Android melalui Google Mobile Services. Kombinasi itu membuatnya terasa lebih dekat ke komputer wearable daripada sekadar aksesori smartphone.
Pengguna dapat memakai layar virtual berukuran besar untuk menonton video. Perangkat itu juga mendukung game cloud, membaca dokumen, dan menjalankan aplikasi produktivitas.
Kehadiran produk seperti INMO Air3 memperlihatkan pergeseran fokus industri. Perusahaan China tidak lagi hanya mengejar teknologi AR sebagai demonstrasi kemampuan teknis.
China membangun ekosistem yang mendorong adopsi
Maraknya smart glasses di China juga terkait dengan ekosistem teknologinya yang luas. Negara itu menjadi rumah bagi perusahaan yang mengembangkan AI, wearable, augmented reality, dan robotika secara bersamaan.
Arah pengembangan ini memperlihatkan perubahan besar dalam cara AI dibawa ke pengguna. Jika sebelumnya AI tumbuh lewat chatbot dan aplikasi mobile, kini perusahaan mulai memindahkannya ke perangkat yang lebih dekat dengan keseharian.
Pameran teknologi Global Connect Show di China juga menunjukkan tren serupa. Teknologi kacamata cerdas dan kacamata AI tampil menonjol di antara produk AI dan robotika lainnya.
Kondisi itu menegaskan bahwa kacamata pintar perlahan berubah dari produk niche menjadi kategori perangkat yang semakin serius diperhitungkan. Di China, persaingan kini bergerak bukan hanya soal membuat perangkat pintar, tetapi juga soal menjadikannya benar-benar berguna saat dipakai setiap hari.
