Demam Pokémon pada era Game Boy memicu banyak studio lain mencoba masuk ke formula yang sama. Dari luar, sebagian game itu terlihat seperti tiruan, tetapi beberapa di antaranya justru membawa ide baru yang cukup kuat untuk berdiri sendiri.
Fenomena ini menarik karena muncul sangat awal, bahkan sejak Pokémon Red dan Blue mulai sukses besar di Jepang. Di sisi lain, ada juga judul yang lahir dari waralaba lain yang sebenarnya lebih dulu hadir, lalu ikut terdorong oleh popularitas Pokémon dan genre RPG pengoleksi monster.
GeGeGe no Kitarō: Yōkai Sōzōshu Arawaru!
GeGeGe no Kitarō bukan waralaba baru. Manga karya Shigeru Mizuki itu pertama kali terbit pada 1960, jauh sebelum Pokémon lahir, dan ceritanya berfokus pada Kitarō, sosok setengah manusia yang menjaga keseimbangan antara dunia manusia dan yōkai.
Salah satu adaptasi gamenya, Yōkai Sōzōshu Arawaru!, rilis untuk Game Boy tidak lama setelah Pokémon Red & Green diluncurkan. Gameplay-nya sangat mirip, terutama pada sistem pertarungan dan mekanik mengumpulkan monster, sehingga sering dipandang sebagai kloningan yang jelas.
Metal Walker
Capcom mencoba mengambil jalur berbeda lewat Metal Walker dengan latar futuristik. Ceritanya berlangsung pada akhir abad ke-21, ketika logam baru bernama Core ditemukan dan sebuah pulau berubah menjadi wilayah tandus yang dipenuhi robot jahat bernama Metal Busters.
Game ini kemudian membawa pemain ke masa 50 tahun setelahnya, mengikuti seorang anak dan Metal Walker miliknya dalam misi mencari sang ayah. Kemiripan dengan Pokémon masih terasa pada sistem evolusi monster, tetapi combat-nya memakai sistem giliran yang diatur lewat arah dan kecepatan gerak seperti bermain biliar.
Dragon Quest Monsters 2
Dragon Quest punya hubungan penting dalam sejarah lahirnya Pokémon. Satoshi Tajiri dan Ken Sugimori sama-sama menyukai Dragon Quest II, terutama karena item langka bernama Mysterious Hat, dan dari kebiasaan saling berbagi item itu muncul gagasan trading yang kemudian menjadi salah satu ciri utama Pokémon.
Setelah Pokémon Red dan Blue sukses, arah inspirasi itu seperti berbalik. Enix merilis Dragon Quest Monsters di Game Boy dengan konsep mengoleksi monster dan sistem breeding, bahkan sebelum Pokémon memakai ide serupa di Gold and Silver.
Dragon Quest Monsters 2 lalu membawa pendekatan yang makin unik. Alih-alih monster eksklusif, game ini memakai item eksklusif yang membuka quest berbeda, sehingga pemain perlu bertukar item untuk menjangkau seluruh konten.
Keitai Denju Telefang
Keitai Denjū Telefang sempat lebih dikenal lewat nama Pokémon Diamond dan Jade, dua game bootleg yang beredar pada masa keemasan Game Boy. Keduanya bukan game resmi, melainkan terjemahan asal-asalan dari versi Jepang berjudul Power dan Speed, sehingga dialog bahasa Inggrisnya terkenal kacau.
Secara konsep, Telefang masih dekat dengan Pokémon karena pemain mengoleksi monster, bertarung, dan memakai statistik seperti HP, Attack, dan Defense. Namun, game ini punya ciri khas sendiri karena monster yang disebut Denjū tidak ditangkap, melainkan dipanggil ke pertempuran lewat nomor telepon yang dikumpulkan pemain.
Robopon
Hudson Soft juga ikut mencoba peruntungan pada Desember 1998, saat kesuksesan Pokémon sedang berada di puncak. Mereka merilis game adaptasi Pokémon Trading Card Game untuk Game Boy Color, lalu menghadirkan Robopon sebagai versi mereka sendiri dengan dua edisi, Sun dan Star.
Berbeda dari Pokémon, Robopon berpusat pada robot yang bisa dikoleksi, di-upgrade, dan dimodifikasi untuk bertarung. Total robotnya lebih dari 150, dan pemain juga berpetualang sambil menantang kelompok bernama Legend 7.
Hudson bahkan meniru skala Pokémon lebih jauh lewat versi N64 yang bisa terhubung dengan versi Game Boy menggunakan Transfer Pak. Mereka juga merilis edisi ketiga bernama Moon, yang posisinya mirip Pokémon Yellow, meski tetap sulit menandingi daya tarik Pokémon yang membuatnya begitu ikonik.
Source: www.idntimes.com






