Samsung diperkirakan menghadapi tekanan biaya yang lebih besar pada tiga ponsel andalannya berikutnya. Kelangkaan komponen global, terutama di pasar RAM dan penyimpanan, mulai memengaruhi Galaxy S27 serta keluarga foldable yang akan datang, dan dampaknya tidak akan sama untuk semua model.
Kondisi ini penting karena pengaruhnya bukan hanya pada harga jual, tetapi juga pada isi fitur di model termurah. Di sisi lain, model kelas atas justru tampak lebih dulu menyerap komponen baru, sehingga jarak kemampuan antarvarian Galaxy S27 berpotensi makin lebar.
Menurut Yeux1122, kelangkaan berbagai komponen, terutama DRAM dan memori, sudah memaksa Samsung membuat kompromi dalam pengembangan Galaxy S27. Ia juga menyebut adanya kemungkinan Samsung memakai panel BOE asal China untuk salah satu model flagship Galaxy S-series, bukan panel dari pabrik internal sendiri.
Meski belum pasti terjadi, kabar itu sejalan dengan tekanan rantai pasok yang sedang berlangsung. Untuk Galaxy S27, masalah paling nyata tampaknya muncul di model dasar, karena fitur perangkat itu disebut telah “diparkir” setidaknya pada bagian layar.
Sumber industri lain menyebut peningkatan kamera seperti yang diharapkan pada Galaxy S27 Ultra atau Galaxy S27 Pro baru sangat kecil kemungkinannya hadir di model Galaxy S27 paling terjangkau. Tidak ada tanda yang terlihat dari rantai pasok, sehingga untuk saat ini dua model Galaxy S27 yang lebih mahal justru berpeluang menerima keuntungan dari komponen baru.
Dampak berbeda pada keluarga Galaxy S27
Pola ini menunjukkan strategi yang semakin tersegmentasi. Samsung tampaknya menjaga model premium tetap menarik lewat komponen yang lebih segar, sementara model dasar berisiko tertahan oleh keterbatasan pasokan.
Bagi pembeli, arti praktisnya jelas: harga dan fitur bisa bergerak ke arah yang berlawanan. Model paling murah tidak otomatis mendapat penyegaran besar, sedangkan model teratas bisa makin menonjol meski total pasar sedang mengalami pengetatan komponen.
Tekanan serupa juga merembet ke lini foldable Samsung yang akan meluncur pada Juli. Menurut laporan yang beredar, Galaxy Z Flip 8 dan Galaxy Z Fold 8 Ultra ikut terdampak kekurangan komponen penting, terutama karena ekspansi pusat data AI dan tingginya minat konsumen terhadap perangkat terkait.
Di pasar Eropa dan Asia, sejumlah saluran penjualan dikabarkan pesimistis terhadap harga jual kedua ponsel lipat itu. Kenaikan harga disebut tak terhindarkan, setidaknya untuk opsi penyimpanan kelas atas, meski Samsung masih diperkirakan menyiapkan penawaran pre-order dan trade-in untuk perangkat lama saat peluncuran.
Harga berpotensi naik, fitur awal makin terbatas
Situasi ini membuat dua tekanan berjalan bersamaan. Di satu sisi, biaya komponen naik dan mendorong harga jual lebih tinggi, sementara di sisi lain ruang untuk menambah fitur baru di varian entry-level makin sempit.
Bagi Samsung, tantangannya bukan hanya menjaga margin, tetapi juga memastikan tiap model tetap punya alasan beli yang jelas. Untuk Galaxy Z Flip 8 dan Galaxy Z Fold 8 Ultra, kemampuan memberi insentif peluncuran bisa membantu, tetapi belum tentu cukup menahan efek dari mahalnya komponen storage berkapasitas lebih tinggi.
Kelangkaan DRAM dan memori kini menjadi faktor yang sangat menentukan arah produk premium Samsung berikutnya. Jika tekanan pasokan ini bertahan, Galaxy S27 dan foldable generasi baru kemungkinan akan memperlihatkan perbedaan yang lebih tajam antara model dasar dan model paling mahal.
