Usai PHK 4.000 Karyawan, Block Pamer BuilderBot yang Kini Menyentuh Jutaan Baris Kode

Author: Qoo Media

Block memperkenalkan Builderbot, alat AI internal untuk pemrograman yang diklaim mampu bekerja di ratusan juta baris kode dan ratusan layanan di seluruh perusahaan. Pengumuman ini langsung menarik perhatian karena datang tidak lama setelah perusahaan memangkas lebih dari 4.000 pekerja dalam restrukturisasi yang didorong fokus pada AI.

Langkah ini memperlihatkan arah baru perusahaan teknologi milik Jack Dorsey tersebut. Di saat efisiensi tenaga kerja menjadi sorotan, Block justru menonjolkan alat yang disebut sudah ikut menangani sebagian nyata dari perubahan kode produksi perusahaan.

Jack Dorsey menyebut peluncuran ini baru permulaan dari rangkaian alat kecerdasan buatan lain yang akan diperkenalkan Block. Dalam unggahan di X, ia mengatakan perusahaan akan mulai lebih sering membicarakan alat-alat “intelligence” miliknya.

AI internal untuk skala besar

Block menjelaskan alasan membangun alat sendiri meski asisten pemrograman seperti Claude Code dan Codex sudah tersedia. Menurut perusahaan, alat yang ada bekerja baik di satu repositori, tetapi belum cukup untuk menangani keseluruhan skala sistem perangkat lunak Block.

Perusahaan menyebut 100 persen insinyurnya sudah rutin memakai AI dalam pekerjaan sehari-hari. Namun, keterbatasan muncul ketika mereka harus bekerja lintas ratusan juta baris kode dan ratusan layanan yang saling terhubung.

Builderbot dirancang sebagai lapisan orkestrasi yang mengoordinasikan banyak agen AI di seluruh basis kode perusahaan. Block menyebut alat ini kini menjalankan lebih dari 200.000 operasi per hari dan menggabungkan sekitar 1.500 pull request per pekan.

Angka itu setara dengan sekitar 15 persen dari seluruh perubahan kode produksi di perusahaan. Block juga mengatakan pekerjaan yang sebelumnya memerlukan waktu berbulan-bulan kini bisa diselesaikan hanya dalam hitungan hari.

Brad Axen, kepala kemampuan AI di Block, menyebut Builderbot sebagai lapisan yang selama ini hilang antara alat coding berbasis AI dan cara kerja rekayasa perangkat lunak dalam skala besar. Pernyataan itu menegaskan bahwa fokus utama Builderbot bukan sekadar menulis kode, tetapi menghubungkan proses kerja teknis yang kompleks.

Cara kerja Builderbot di dalam perusahaan

Menurut Block, Builderbot dapat memahami layanan, API, dan konvensi rekayasa yang digunakan di seluruh organisasi. Kemampuan ini memungkinkan seorang insinyur yang bekerja di Cash App melakukan perubahan pada layanan Square meski belum pernah menyentuh sistem itu sebelumnya.

Builderbot juga bisa mengambil tiket pekerjaan dari Linear dan Jira lalu menyelesaikan tugas yang diminta. Dengan cara itu, alat ini tidak hanya berperan sebagai asisten penulisan kode, tetapi juga masuk ke alur kerja pengembangan yang sudah berjalan.

Integrasinya juga meluas ke Slack. Karyawan dapat menandai Builderbot dengan permintaan singkat untuk perbaikan bug atau tugas lain, lalu mengikuti proses riset, perencanaan, dan implementasi perubahan di thread yang sama.

Block mengatakan banyak anggota tim bisa mengarahkan Builderbot secara real time tanpa perlu berpindah alat. Pendekatan ini dibuat agar kolaborasi tetap berlangsung di ruang kerja yang sudah akrab digunakan tim internal.

Soal keamanan data, Block menegaskan Builderbot hanya beroperasi pada source code dan konfigurasi sistem. Alat ini disebut tidak mengakses atau memproses data pelanggan, informasi pembayaran, maupun informasi identitas pribadi.

AI sebagai fondasi baru rekayasa Block

Block menyatakan dua tahun terakhir digunakan untuk menjadikan AI sebagai fondasi pekerjaan engineering. Upaya itu mencakup open-source Goose, pengembangan bersama Model Context Protocol atau MCP dengan Anthropic, dan pembangunan alat internal yang sudah dipakai setiap hari oleh para insinyurnya.

MCP sendiri dijelaskan sebagai standar industri untuk menghubungkan agen AI ke alat dan data. Dengan fondasi seperti ini, Builderbot tampak menjadi bagian dari strategi yang lebih luas, bukan proyek terpisah yang berdiri sendiri.

Peluncuran Builderbot juga tidak bisa dilepaskan dari masa restrukturisasi yang sedang dijalani perusahaan. Awal tahun ini, Block memangkas 4.000 pekerja ketika Dorsey menyatakan bisnis perusahaan tetap kuat.

Itu merupakan pengumuman PHK ketiga dalam dua tahun terakhir. Block sebelumnya memberhentikan 931 karyawan pada Maret 2025, setelah putaran lain sekitar dua tahun sebelumnya yang menghapus sekitar 1.000 posisi pada Januari 2024.

Kombinasi antara pengurangan tenaga kerja dan peluncuran alat AI berskala besar membuat langkah Block menjadi sorotan. Di satu sisi, perusahaan menunjukkan efisiensi teknis yang semakin tinggi, sementara di sisi lain, restrukturisasi besar menandai perubahan mendasar dalam cara perusahaan membangun produk dan mengatur kerja engineering.

Source: www.indiatoday.in
Terbaru