Kritik Ekspansi Pusat Data AI, Karyawan Amazon Malah Diperiksa Internal

Author: Qoo Media

Beberapa karyawan Amazon yang secara terbuka mengkritik ekspansi pusat data kecerdasan buatan di Seattle kini dilaporkan sedang diperiksa secara internal. Perkembangan ini mencuat setelah mereka menyampaikan keberatan di hadapan Dewan Kota Seattle dan menyerukan pengawasan yang lebih ketat terhadap proyek-proyek pusat data berskala besar.

Aduan baru yang diajukan ke Seattle Office for Civil Rights menuduh Amazon mulai menyelidiki tindakan para karyawan setelah kesaksian publik tersebut. Isu ini cepat menyita perhatian karena muncul di tengah perdebatan besar soal dampak ledakan infrastruktur AI terhadap pekerjaan, lingkungan, dan komunitas lokal.

Menurut CNBC, aduan itu menyebut tiga karyawan Amazon dipanggil secara terpisah ke pertemuan Zoom dengan perwakilan sumber daya manusia. Dalam pertemuan itu, mereka diberi tahu bahwa perusahaan sedang menyelidiki kekhawatiran yang berkaitan dengan kesaksian mereka di forum publik.

Aduan yang sama juga menyebut para karyawan diberi tahu bahwa penyelidikan tersebut dapat berujung pada tindakan disipliner. Dalam setidaknya satu kasus, konsekuensinya disebut bisa meluas hingga pemutusan hubungan kerja.

Para karyawan itu mengatakan mereka merasa terintimidasi dan tidak yakin terhadap masa depan pekerjaan mereka setelah pertemuan tersebut. Aduan itu juga menuduh Amazon memantau advokasi politik mereka di hadapan Dewan Kota Seattle dan berusaha mengidentifikasi karyawan lain yang terlibat dalam aktivitas politik serupa.

Mengapa isu ini memanas

Kontroversi ini meledak saat Seattle sedang menyusun cara mengatur makin banyaknya proyek pusat data AI yang diajukan di sekitar kota. Pada 9 Juni, Dewan Kota Seattle secara bulat menyetujui moratorium selama satu tahun terhadap pusat data baru berskala besar.

Langkah itu memberi waktu bagi pejabat kota untuk mempelajari dampaknya dan menyusun regulasi baru. Keputusan tersebut diambil setelah muncul penolakan publik terhadap rencana beberapa kompleks pusat data besar di dan sekitar Seattle.

Dalam sidang-sidang sebelum pemungutan suara itu, sejumlah karyawan Amazon mengatakan perusahaan-perusahaan teknologi besar sedang berlomba membangun infrastruktur AI dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mereka menilai laju ekspansi tersebut perlu dikendalikan oleh pemerintah daerah bersama para pemangku kepentingan di komunitas.

Patrick Schloesser, software engineer di Amazon Web Services, menyoroti rencana belanja modal Amazon yang dilaporkan mencapai $200 billion untuk 2026. Menurut dia, sebagian besar dana itu diperkirakan akan diarahkan ke infrastruktur AI dan pusat data.

Schloesser juga mengaitkan dorongan ekspansi itu dengan pemangkasan pekerjaan yang terjadi di perusahaan. Ia menilai situasi tersebut menunjukkan perusahaan teknologi besar sangat ingin membangun kapasitas komputasi sebanyak mungkin dalam waktu secepat mungkin.

Karyawan Amazon lainnya, Liesl Wigand, yang merupakan senior software engineer, mendesak pemerintah lokal mengambil peran lebih kuat dalam mengawasi pembangunan pusat data. Ia memperingatkan agar perusahaan teknologi tidak dibiarkan menentukan sendiri kecepatan ekspansi infrastruktur tersebut.

Posisi Amazon

Amazon membantah bahwa masalah ini berkaitan dengan hak karyawan untuk menyampaikan pandangan pribadi. Juru bicara perusahaan, Margaret Callahan, mengatakan Amazon mendukung hak karyawan untuk berbicara mengenai isu-isu publik.

Namun, menurut Callahan, perusahaan menilai sebagian pekerja mungkin tampak berbicara atas nama Amazon, bukan sebagai warga pribadi. Karena itu, Amazon mengatakan sedang menyelidiki apakah ada pelanggaran terhadap kebijakan internal perusahaan.

Callahan juga mengatakan tindakan lanjutan akan ditentukan berdasarkan hasil temuan penyelidikan. Pada saat yang sama, ia membantah klaim bahwa Amazon telah mengancam karyawan dengan pemecatan dan menegaskan perusahaan tidak menoleransi pembalasan.

Pernyataan itu menjadi pusat sengketa karena inti persoalannya bukan hanya isi kritik para karyawan, tetapi juga cara perusahaan menafsirkan posisi mereka saat berbicara di ruang publik. Di satu sisi, karyawan menilai mereka menyuarakan kekhawatiran sipil tentang dampak pusat data AI, sementara di sisi lain Amazon menekankan kepatuhan pada kebijakan internal.

Dampak yang lebih luas

Kasus ini mencerminkan benturan yang makin sering muncul antara ekspansi AI dan tuntutan akuntabilitas publik. Pusat data dipandang penting untuk menopang perlombaan AI, tetapi proyek-proyek semacam itu juga memunculkan pertanyaan tentang konsumsi sumber daya, dampak lingkungan, dan manfaat nyata bagi warga sekitar.

Perdebatan di Seattle menjadi contoh bagaimana keputusan pembangunan infrastruktur AI kini tidak lagi hanya menjadi urusan perusahaan teknologi. Pemerintah lokal, warga, dan bahkan karyawan di dalam perusahaan sendiri mulai menuntut ruang lebih besar untuk menentukan batas dan aturan ekspansi tersebut.

Untuk saat ini, fokus tertuju pada dua jalur yang berjalan bersamaan. Seattle sedang menyiapkan kerangka regulasi baru untuk pusat data besar, sementara dugaan intimidasi terhadap karyawan Amazon yang bersuara kini masuk ke ranah pengawasan hak-hak sipil.

Source: www.indiatoday.in
Terbaru