FCC Longgarkan Aturan Drone, Tapi DJI Tetap Terkunci Meski Celah Baru Sudah Dibuka

Pelonggaran aturan drone oleh Federal Communications Commission atau FCC di AS ternyata tidak berarti kembalinya drone DJI ke pasar seperti biasa. Celah yang dibuka regulator itu sangat sempit, sehingga model populer yang dipakai hobiis maupun kreator tetap tidak masuk kriteria.

Langkah ini menarik karena menjadi pengecualian besar pertama sejak pengetatan aturan terhadap drone asing pada akhir 2025. Namun, pengecualian itu hanya berlaku untuk kategori “toy drones” dengan batas teknis yang sangat ketat.

FCC menghapus sebagian kecil drone mainan buatan luar negeri dari Covered List. Kebijakan itu mengikuti penetapan baru terkait keamanan nasional dari Department of War.

Meski begitu, ruang yang dibuka hanya mencakup produk berisiko sangat rendah. Artinya, perubahan ini lebih bersifat administratif daripada menjadi sinyal bahwa pasar drone konsumen asing akan kembali longgar.

Sebelumnya, FCC memasukkan semua drone buatan luar negeri dan komponen pentingnya ke Covered List pada Desember 2025. Langkah itu diambil dengan alasan kekhawatiran terhadap keamanan nasional.

Setelah itu, FCC memang sempat membuat beberapa pengecualian. Di antaranya adalah produk Blue UAS yang disetujui dan produk akhir domestik, sebelum kini menambah pengecualian baru untuk drone mainan berisiko rendah.

Syaratnya sangat membatasi

Dalam pemberitahuan publik FCC tertanggal 15 Juni, sebuah drone baru bisa dianggap sebagai mainan jika memenuhi seluruh syarat sekaligus. Tidak cukup hanya lolos sebagian, karena setiap kotak persyaratan harus dicentang penuh.

Bobot drone harus di bawah 150 gram. Jarak terbangnya hanya boleh lurus sampai 100 meter, dengan ketinggian maksimum 300 kaki.

Drone itu juga tidak boleh memiliki GPS, Wi-Fi, koneksi internet, atau konektivitas aplikasi. Dengan kata lain, perangkat tersebut harus sangat sederhana dan nyaris terputus dari ekosistem digital modern.

Batasan lain bahkan lebih ketat untuk fitur perekaman dan sensor. Drone tidak boleh dibekali kamera, mikrofon, perekaman internal, maupun perangkat sensor lain.

Waktu terbang maksimum dibatasi hanya 10 menit. Kecepatannya pun dibatasi sampai 10 meter per detik, dan produk itu harus dipasarkan khusus sebagai mainan.

Pentagon menyatakan kategori produk ini tidak memiliki jangkauan, payload, konektivitas, dan kemampuan pengumpulan data yang bisa menimbulkan kekhawatiran keamanan nasional. Definisi tersebut pada praktiknya menyingkirkan hampir semua drone kamera modern.

Mengapa DJI tetap tertahan

Nama DJI tetap menjadi sorotan karena banyak konsumen berharap pelonggaran ini membuka jalan bagi merek tersebut. Kenyataannya, bahkan drone terkecil DJI masih tidak memenuhi syarat.

DJI Neo menjadi contoh yang paling jelas. Bobotnya memang hanya 135 gram, sehingga lolos batas berat yang ditetapkan FCC.

Namun, spesifikasinya langsung menggugurkan kelayakan pada banyak poin lain. Drone itu memiliki kamera 12MP, GPS, motor brushless, konektivitas nirkabel jarak jauh, dan waktu terbang sekitar 18 menit.

Fitur-fitur itu justru merupakan hal yang dicari banyak pembeli saat ini. Tetapi dalam skema baru FCC, kombinasi kemampuan semacam itu membuat sebuah drone keluar dari kategori mainan berisiko rendah.

Masalah bagi DJI juga bukan hanya soal spesifikasi produk. Pengecualian FCC ini disebut tidak berlaku untuk produk yang dibuat oleh perusahaan yang diidentifikasi di bawah Section 1709 dari FY2025 National Defense Authorization Act.

Artinya, sekalipun ada drone DJI yang dibuat sangat sederhana dan dipangkas fiturnya, produk itu belum tentu otomatis bisa lolos. Hambatannya tetap lebih luas daripada sekadar soal apakah drone tersebut punya kamera atau GPS.

Dampaknya ke pasar konsumen

Bagi konsumen umum, perubahan ini tidak banyak mengubah pilihan nyata di toko. Hobiis, fotografer udara, dan kreator konten yang berharap ada comeback lebih luas dari DJI masih harus menunggu perkembangan lain.

Pengecualian FCC memang menunjukkan bahwa regulator membuka sedikit ruang bagi produk impor tertentu. Tetapi ruang itu hanya untuk drone yang sangat ringan, sangat terbatas, dan hampir tidak memiliki fitur yang kini dianggap standar.

Karena itu, pelonggaran aturan ini lebih relevan untuk segmen mainan sederhana daripada pasar drone konsumen modern. Selama syaratnya tetap mencakup larangan kamera, sensor, GPS, internet, serta pembatasan terbang 10 menit, model yang benar-benar diminati pasar akan tetap berada di luar daftar yang diizinkan.

Source: www.androidauthority.com

Terkait