Mark Zuckerberg Taruh Rp 248 Triliun di AI, Hasilnya Masih Belum Meyakinkan Investor

Mark Zuckerberg kembali menjadi sorotan karena ambisi AI Meta belum memberi hasil yang sebanding dengan dana besar yang sudah digelontorkan. Meski perusahaan disebut telah menghabiskan hingga US$14 miliar atau sekitar Rp 248 triliun, para investor belum melihat tanda yang cukup meyakinkan dari langkah agresif itu.

Salah satu taruhan terbesarnya adalah merekrut Alexandr Wang, sosok muda yang dijuluki “bocah ajaib AI”. Pendiri Scale AI yang berusia 29 tahun itu kini dipercaya memimpin Meta Superintelligence Labs, divisi baru yang disiapkan untuk menjadi ujung tombak strategi kecerdasan buatan Meta.

Taruhan besar Meta di tengah perang AI

Zuckerberg melihat AI sebagai masa depan Meta dan ingin perusahaan bergerak cepat untuk mengejar pesaing seperti OpenAI, Google AI, dan Anthropic. Karena itu, Meta mendorong pengembangan model AI proprietary, termasuk Muse Spark yang diluncurkan Wang pada April lalu.

Muse Spark dirancang agar menyatu dengan ekosistem Meta yang luas. Integrasinya mencakup Facebook, Instagram, dan Ray-Ban Meta Smart Glasses, sehingga secara teori bisa memperkuat posisi Meta di layanan konsumen dan perangkat keras sekaligus.

Namun, pasar belum merespons dengan antusias. Dalam 12 bulan terakhir, saham Meta tercatat turun sekitar 18 persen, menandakan investor belum sepenuhnya percaya bahwa strategi AI tersebut akan segera membuahkan hasil.

Sorotan tajam pada strategi yang dipilih Zuckerberg

Sejumlah analis menilai masalah Meta tidak semata-mata soal besarnya belanja, tetapi juga arah strategi awal yang dipilih. Meta masuk ke perlombaan AI lewat Llama dengan pendekatan open-source, yang membuat developer di seluruh dunia bisa menggunakan dan memodifikasi model AI itu secara gratis.

Pendekatan tersebut memang mendorong inovasi lebih cepat. Tetapi model seperti ini juga membuat Meta kesulitan membangun monetisasi langsung, terutama jika dibandingkan dengan rival yang mengunci produk AI mereka di balik sistem berbayar.

Kondisi itu makin rumit setelah Llama 4 gagal memenuhi ekspektasi pasar tahun lalu. Kegagalan tersebut ikut mendorong Zuckerberg mengambil langkah yang lebih ekstrem dengan mendatangkan Wang ke dalam struktur kepemimpinan AI Meta.

Wang jadi tumpuan, tapi belum cukup menenangkan pasar

Kehadiran Wang dipandang sebagai upaya untuk mengembalikan arah pengembangan AI Meta yang sempat dipertanyakan. Thomas Randall dari Info-Tech Research Group menilai Meta memang belum berada di jalur optimal, tetapi arah yang dibangun mulai terlihat.

Randall juga mengatakan bahwa tanpa Wang, Meta bisa saja kehilangan arah sepenuhnya. Pandangan itu memberi gambaran bahwa investasi besar Zuckerberg belum otomatis gagal, meski hasil nyatanya belum tampak di mata investor.

Yang kini menjadi pertanyaan utama adalah apakah kombinasi dana jumbo, perekrutan talenta muda, dan penguatan divisi baru bisa cukup untuk menutup jarak Meta dengan para pesaing. Sejauh ini, perang AI global menunjukkan bahwa uang besar dan nama besar belum menjamin kemenangan instan.

Source: id.mashable.com

Terkait