7 Remake Dan Remaster Yang Mengecewakan, Saat Versi Baru Justru Lebih Buruk Dari Aslinya

Author: Qoo Media

Game remake dan remaster sering dipasarkan sebagai cara terbaik untuk membawa klasik lama ke generasi baru. Namun, tidak semua pembaruan berhasil menjaga pesona asli, dan beberapa justru membuat pemain kecewa karena bug, fitur hilang, atau kualitas teknis yang turun.

Kasus seperti ini menarik karena ekspektasi terhadap remake dan remaster biasanya sangat tinggi. Pemain berharap mendapat visual yang lebih baik, gameplay yang lebih nyaman, dan pengalaman yang tetap setia pada versi original, tetapi tujuh game berikut justru dinilai gagal memenuhi harapan itu.

Batman: Return to Arkham

Seri Batman: Arkham dari Rocksteady sudah lama dipuji sebagai salah satu pencapaian terbesar di game superhero. Dua game pertamanya memang sempat mendapat versi remaster lewat Batman: Return to Arkham, yang seharusnya memperbaiki visual dan membawa keduanya ke konsol generasi baru.

Hasilnya tidak sejalan dengan harapan. Frame-rate terkunci di 30fps, peningkatan visual terasa tipis, warna terlihat berlebihan, dan teksturnya tidak konsisten.

GoldenEye 007

GoldenEye 007 di Nintendo 64 dikenal bukan hanya karena gameplay aksi dan desain levelnya, tetapi juga karena menjadi game wajib saat bermain bersama teman. Versi remaster-nya sebenarnya punya peluang besar lewat visual yang lebih baik, kontrol yang disempurnakan, dan mode multiplayer online.

Masalahnya, remaster ini dianggap kehilangan “jiwa” versi aslinya. Pendekatan gameplay yang terlalu mirip shooter modern seperti Call of Duty membuat identitasnya memudar, sementara sosok Bond versi Pierce Brosnan diganti menjadi Daniel Craig.

Grand Theft Auto: The Trilogy – The Definitive Edition

Banyak pemain berharap trilogi klasik GTA bisa kembali bersinar lewat Grand Theft Auto: The Trilogy – The Definitive Edition. Harapan itu berubah jadi kekecewaan besar saat versi PC-nya dirilis dalam kondisi bermasalah, penuh bug dan glitch.

Kualitas visual dan pencahayaannya justru turun dibanding game original, sementara desain karakternya dinilai aneh. Keputusan Rockstar menyerahkan pengembangan ke Grove Street Games, studio kecil yang kurang berpengalaman, ikut dikaitkan dengan hasil akhir yang jauh dari memuaskan.

Metal Gear Solid: Master Collection

Konami merilis Metal Gear Solid: Master Collection Vol. 1 untuk merayakan ulang tahun ke-35 seri Metal Gear. Kompilasi ini memuat lima game utama dan sejumlah bonus tambahan, sehingga secara konsep terdengar sangat menjanjikan.

Sayangnya, kualitas teknisnya tidak mendukung. Resolusi dibatasi di 720p, tampilannya kurang optimal di layar modern, dan muncul masalah seperti glitch saat loading serta subtitle yang typo.

Assassin’s Creed: The Ezio Collection

Assassin’s Creed II, Brotherhood, dan Revelations membangun reputasi Ezio Auditore sebagai salah satu tokoh paling populer di seri ini. Tiga game itu punya pacing yang enak, cerita yang berkelanjutan, dan pengalaman bermain yang solid.

Karena itu, The Ezio Collection pada 2016 sempat diharapkan jadi versi definitif trilogi Ezio. Kenyataannya, peningkatan visualnya minim dan bahkan bermasalah, gameplay tidak diperbarui, dan frame-rate tetap terkunci di 30fps.

Call of Duty: Modern Warfare 2

Call of Duty: Modern Warfare 2 pernah mengubah standar genre FPS lewat engine baru, multiplayer yang lebih matang, dan campaign penuh momen dramatis seperti misi “No Russian”. Remaster-nya yang rilis pada 2020 membawa ekspektasi tinggi dari para pemain.

Mode campaign memang diperbarui dengan baik, tetapi absennya multiplayer dan Spec Ops membuat paket ini terasa tidak lengkap. Banyak pemain menilai isinya hanya setengah dari game original yang dulu begitu berpengaruh.

Warcraft III: Reforged

Warcraft III: Reforged awalnya diharapkan menjadi cara baru menikmati perang epik Azeroth dengan visual modern dan fitur yang lebih lengkap. Namun, hasil akhirnya justru jauh dari harapan dan menjadi salah satu kegagalan paling disorot Blizzard dalam beberapa tahun terakhir.

Visual yang dijanjikan tidak sesuai, UI dinilai lebih buruk, dan game ini dipenuhi bug, crash, serta masalah koneksi online. Lebih mengecewakan lagi, beberapa fitur penting dari game original juga hilang, sehingga banyak pemain tetap menganggap versi lawas sebagai pilihan terbaik.

Source: www.idntimes.com
Terbaru