Apple disebut tengah meminta izin dari pemerintahan Trump untuk membeli chip memori dari CXMT, produsen chip asal China yang masuk daftar 1260H Pentagon. Langkah ini muncul saat krisis pasokan memori menekan Apple dari dua arah sekaligus: biaya komponen naik, sementara pilihan pemasok makin sempit.
Permintaan itu pertama kali dibahas Apple dengan Departemen Perdagangan sekitar sebulan lalu, menurut laporan Financial Times. CXMT sendiri ada di daftar perusahaan yang diyakini Departemen Pertahanan terkait dengan Tentara Pembebasan Rakyat, sehingga keputusan Apple berpotensi menimbulkan sorotan politik yang besar.
Tekanan pasokan membuat Apple mencari opsi baru
Saat ini Apple membeli memori dari Micron, Samsung, dan SK Hynix. Ketiga pemasok itu juga ikut terdampak permintaan besar dari pusat data AI yang menyedot pasokan dari elektronik konsumen.
Counterpoint Research mencatat harga memori sudah naik empat kali lipat dalam tiga kuartal terakhir. Dalam kondisi seperti itu, menambah CXMT akan memberi Apple pemasok keempat dan membantu mengurangi ketergantungan pada rantai pasok yang sudah mengetat selama berbulan-bulan.
CEO Apple Tim Cook sebelumnya mengatakan keterbatasan memori kemungkinan akan bertahan beberapa bulan lagi. Masalah ini nantinya juga akan diwariskan kepada CEO berikutnya, John Ternus, yang dijadwalkan mengambil alih pada 1 September.
Risiko politik dan bisnis masih besar
Secara teknis, Apple tidak dilarang membeli dari CXMT karena pembatasan 1260H berlaku untuk Departemen Pertahanan, bukan langsung untuk perusahaan swasta. Namun, langkah itu tetap membawa risiko bagi hubungan kontrak federal Apple jika dilakukan tanpa persetujuan pemerintah.
Kongres sudah memberi sinyal penolakan. John Moolenaar, yang memimpin upaya Kongres untuk menyelidiki pengaruh geopolitik China, mengatakan kepada Financial Times bahwa langkah tersebut akan menjadi kesalahan besar.
CXMT menjadi opsi yang sensitif karena statusnya dalam daftar Pentagon yang mengaitkan perusahaan itu dengan militer China. Karena itu, keputusan akhir bukan hanya soal kebutuhan pasokan, tetapi juga soal konsekuensi geopolitik yang bisa memengaruhi posisi Apple di Washington.
Tekanan biaya ikut memburuk setelah kenaikan harga produk
Kabar ini datang hanya dua hari setelah Apple menaikkan harga di lini Mac dan iPad, dalam kenaikan harga paling luas di era modern perusahaan itu. MacBook Neo naik dari $599 menjadi $699, sementara MacBook Air 13 inci naik dari $1.099 menjadi $1.299.
Harga iPad Pro juga naik $200, dan analis Evercore Amit Daryanani menilai kenaikan itu setara sekitar 17% hingga 25% pada konfigurasi dasar. Setelah langkah itu, saham Apple turun 6,1% pada hari yang sama dan menghapus sekitar $265 miliar dari nilai pasar perusahaan.
Apple belum memberikan komentar atas laporan mengenai CXMT. Pemerintahan Trump juga belum menyatakan apakah permintaan itu akan disetujui, sehingga arah kebijakan berikutnya masih menjadi tanda tanya besar bagi strategi pasokan Apple.
Source: www.notebookcheck.net






