Kecerdasan buatan disebut akan memainkan peran besar dalam gelombang pertumbuhan berikutnya untuk UPI di India. Fokus utamanya bukan hanya memperluas penggunaan, tetapi juga mempermudah pengguna baru masuk ke ekosistem pembayaran digital yang sudah sangat besar.
CEO National Payments Corporation of India, Dilip Asbe, mengatakan AI akan digunakan secara efektif untuk fase berikutnya dari UPI, termasuk untuk menjangkau pengguna baru. Pernyataan itu menandai arah baru ketika UPI sudah memproses lebih dari 750 juta transaksi per hari dan ditargetkan menembus lebih dari satu miliar transaksi harian.
Bagi NPCI, tantangan berikutnya bukan sekadar menambah volume transaksi. Lembaga itu juga ingin membuat proses onboarding lebih sederhana, terutama lewat solusi suara dan dukungan multibahasa.
Asbe menilai asisten suara dapat membantu pengguna lebih mudah bergabung dengan platform UPI. Ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan AI untuk solusi berbasis suara dan multibahasa agar proses masuk ke layanan menjadi lebih mudah.
Langkah ke arah itu sebenarnya sudah mulai terlihat. NPCI meluncurkan sistem interaktif berbasis asisten suara pada 2023, meski Asbe mengakui tingkat adopsinya belum benar-benar lepas landas.
UPI sendiri diluncurkan di India pada April 2016. Sejak saat itu, sistem ini berkembang menjadi salah satu infrastruktur pembayaran digital paling penting di negara tersebut.
Dorongan penggunaan AI tidak berhenti pada sisi akuisisi pengguna. NPCI juga melihat peluang AI untuk memperluas layanan keuangan yang dibangun di atas jejak digital pengguna dan pelaku usaha.
Asbe mengatakan sistem otomatis berbasis AI berpotensi digunakan untuk menyediakan kredit bagi pengguna dan merchant yang memiliki digital footprint. Artinya, AI dapat menjadi bagian dari proses persetujuan pinjaman di masa mendatang.
Arah ini penting karena UPI selama ini identik dengan pembayaran instan, bukan semata layanan kredit. Jika AI dipakai untuk menilai kelayakan berbasis jejak digital, ekosistem pembayaran dapat berkembang menjadi pintu masuk layanan keuangan yang lebih luas.
Namun, ekspansi semacam itu juga membawa risiko. Dalam transaksi online, ancaman penipuan tetap menjadi salah satu perhatian terbesar, dan NPCI menyebut AI sebagai alat penting untuk memperkuat perlindungan.
Asbe menegaskan AI perlu digunakan secara efektif untuk melindungi pengguna, mendeteksi fraud, dan menemukan mule account. Pendekatan ini menunjukkan bahwa penggunaan AI oleh NPCI tidak hanya diarahkan untuk pertumbuhan, tetapi juga untuk kontrol risiko di jaringan pembayaran yang terus membesar.
AI, bank, dan model bahasa kecil
Di luar penerapan langsung pada UPI, Asbe juga melihat peluang yang lebih luas bagi ekosistem keuangan India untuk mengembangkan model AI sendiri. Menurut dia, bank, perusahaan fintech, dan pelaku lain di sektor tersebut memiliki peluang besar membangun small language models yang tajam, spesifik, dan sedapat mungkin deterministik.
Pandangan itu didasarkan pada kekayaan data yang dimiliki ekosistem keuangan India. Dengan basis data yang besar, model bahasa yang lebih kecil dan lebih fokus dinilai dapat lebih relevan untuk kebutuhan operasional sektor keuangan dibanding pendekatan yang terlalu umum.
Komentar Asbe muncul ketika Reserve Bank of India telah mengeluarkan draft pedoman yang mewajibkan mekanisme mirip kill switch untuk seluruh alat AI yang digunakan bank dan lembaga keuangan. Konteks ini menunjukkan bahwa dorongan inovasi AI di sektor keuangan berjalan beriringan dengan upaya pengamanan dan kontrol.
NPCI juga sudah mulai menerapkan teknologi digital dalam pengelolaan operasional lain. Asbe menyebut model penyelesaian sengketa NPCI, FIMI, yang diluncurkan tahun lalu, kini sudah melayani lebih dari satu juta pengguna untuk pembatalan mandat.
Persaingan aplikasi dan target ekspansi
Saat UPI terus tumbuh, pasar aplikasinya masih sangat terkonsentrasi. PhonePe dan Google Pay saat ini menguasai pangsa gabungan lebih dari 80 persen.
NPCI berencana memberlakukan batas pangsa pasar aplikasi hingga 30 persen pada akhir tahun ini. Kebijakan itu berpotensi mengubah peta persaingan di ekosistem UPI yang selama ini didominasi dua pemain besar.
Di sisi lain, aplikasi BHIM UPI milik NPCI baru memiliki sekitar 1 persen pangsa pasar. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan UPI sebagai infrastruktur belum otomatis diikuti pemerataan kekuatan di tingkat aplikasi.
Karena itu, pemanfaatan AI untuk onboarding, dukungan suara, dan layanan multibahasa bisa menjadi faktor penting dalam membuka basis pengguna baru yang lebih luas. Jika strategi itu berjalan efektif, fase berikutnya UPI bukan hanya soal transaksi yang lebih banyak, tetapi juga soal siapa saja yang akhirnya bisa ikut masuk dan menggunakan sistem pembayaran digital India dengan lebih mudah.
Source: www.indiatoday.in






