Polusi udara di Jakarta dinilai tidak akan selesai bila penanganannya hanya bertumpu pada langkah jangka pendek. Sorotan kini mengarah pada sistem energi yang memasok aktivitas perkotaan, termasuk dominasi listrik berbasis batu bara di jaringan Jawa-Bali.
Direktur PT Gema Aset Solusindo, Syam Basrijal, menilai pengembangan pembangkit listrik tenaga surya yang dipadukan dengan Battery Energy Storage System atau PLTS-BESS dapat menjadi bagian penting dari solusi. Menurut dia, sistem itu mampu mengurangi tekanan beban listrik siang hari di kawasan perkotaan sekaligus menurunkan emisi PM2.5 regional secara bertahap.
Syam menyebut pola polusi udara di Jakarta terus berulang dari tahun ke tahun. Hal itu, menurut dia, menunjukkan bahwa masalah yang dihadapi bukan semata urusan lalu lintas, melainkan persoalan struktural dari sistem energi dan industri yang menopang ekonomi nasional.
Selama ini pemerintah telah menempuh berbagai langkah seperti imbauan penggunaan masker, penerapan work from home, rekayasa cuaca, uji emisi kendaraan, hingga pembatasan lalu lintas. Namun, langkah-langkah tersebut dinilai lebih banyak meredam dampak polusi untuk sementara daripada menyentuh akar persoalan.
Tekanan pada sistem energi perkotaan
Jakarta berada dalam sistem kelistrikan Jawa-Bali yang menjadi pusat pasokan energi bagi kawasan industri, pemerintahan, transportasi, pelabuhan, hingga pusat data nasional. Dalam sistem ini, Syam menilai dominasi pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batu bara masih menjadi penyumbang utama emisi pencemar udara.
Ia menyebut PLTU batu bara hingga kini masih mendominasi sekitar 70 persen sistem kelistrikan Jawa-Bali. Ketergantungan yang tinggi pada pembakaran energi fosil dalam skala besar itu dinilai membuat persoalan polusi udara di Jakarta tidak pernah benar-benar selesai.
Di sisi lain, PLTS-BESS dinilai relevan untuk sistem perkotaan modern yang membutuhkan pasokan listrik stabil pada jam-jam sibuk. Syam menyatakan kombinasi teknologi itu bukan ancaman bagi sistem kelistrikan konvensional, melainkan instrumen untuk memperkuat ketahanan energi nasional dan mendorong target Net Zero Emission.
Kemampuan PLTS-BESS, menurut dia, tidak hanya pada sisi pembangkitan listrik bersih. Sistem ini juga disebut dapat memperkuat stabilitas jaringan listrik modern dan mendukung ekosistem kendaraan listrik yang kian membutuhkan infrastruktur energi andal.
Dampak kesehatan dan kualitas hidup
Syam mengingatkan dampak polusi udara kini tidak lagi sebatas isu lingkungan. Masalah ini, menurut dia, telah berkembang menjadi isu kesehatan masyarakat, kualitas hidup, dan kualitas sumber daya manusia.
Ia merujuk pada berbagai penelitian internasional yang menunjukkan keterkaitan antara emisi PLTU batu bara dengan meningkatnya risiko penyakit jantung, stroke, gangguan paru-paru kronis, hingga kematian dini akibat paparan partikel halus PM2.5. Dalam konteks Jakarta, ia menilai persoalan ini sudah menyentuh aspek ketahanan manusia dan masa depan generasi perkotaan.
Pandangan itu menempatkan transisi energi bukan sekadar agenda teknis sektor listrik. Perubahan bauran energi dipandang berkaitan langsung dengan hak masyarakat untuk mendapatkan lingkungan yang sehat di tengah pertumbuhan ekonomi dan ekspansi perkotaan.
Peluang investasi dan industri baru
Menurut Syam, Indonesia sebenarnya sedang berada pada momentum penting untuk mempercepat transisi energi. Ia menyoroti Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik PLN 2025–2034 yang memproyeksikan kebutuhan investasi sektor ketenagalistrikan sekitar 183 hingga 188 miliar dolar Amerika Serikat.
Arah investasi yang mulai berfokus pada energi terbarukan dan sistem penyimpanan energi dinilai menjadi fondasi penting menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan. Syam menilai transisi energi juga harus dilihat sebagai peluang ekonomi nasional dalam skala besar.
Ia menyebut pengembangan PLTS-BESS berpotensi menciptakan lapangan kerja baru. Selain itu, teknologi ini juga dinilai dapat memperkuat industri baterai nasional dan mempercepat hilirisasi mineral strategis seperti nikel.
Manfaat lainnya, menurut dia, adalah peningkatan daya tarik investasi berbasis prinsip Environmental, Social, and Governance atau ESG. Dengan begitu, investasi di energi bersih tidak hanya dipandang sebagai kebutuhan lingkungan, tetapi juga sebagai bagian dari strategi industri dan pembiayaan jangka panjang.
Tantangan regulasi dan iklim investasi
Meski teknologi dinilai siap memainkan peran lebih besar, Syam menegaskan keberhasilan transisi energi tidak hanya ditentukan oleh aspek teknis. Faktor penentu lainnya adalah komitmen pemerintah dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif.
Ia mendorong percepatan perizinan, kepastian regulasi, kemudahan interkoneksi jaringan listrik, serta jaminan kepastian investasi jangka panjang. Langkah-langkah tersebut dinilai penting agar Indonesia dapat menarik lebih banyak modal ke sektor energi bersih.
Menurut dia, bila Jakarta ingin dibangun sebagai kota global yang sehat, kompetitif, dan layak huni, maka dukungan terhadap investasi PLTS-BESS harus menjadi prioritas nasional yang nyata. Dorongan itu mencakup konsistensi regulasi dan kemudahan integrasi proyek energi bersih ke sistem kelistrikan yang sudah ada.
Di akhir pernyataannya, Syam menegaskan ukuran keberhasilan pembangunan tidak hanya terletak pada pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur. Ia menilai kemampuan negara menjaga kualitas hidup masyarakat melalui udara yang lebih bersih juga harus menjadi tolok ukur utama.






