Biang Kerok Harga RAM Tak Mau Turun, AI Diam-Diam Mendorong Konsumen Bayar Lebih Mahal

Author: Qoo Media

Harga RAM dan perangkat teknologi konsumen tampaknya belum akan kembali ramah di kantong. Di balik kenaikan harga itu, ada satu pemicu besar yang terus mendorong pasar ke arah yang sama: kelangkaan cip memori global yang dipicu lonjakan permintaan industri AI.

Kondisi ini membuat konsumen ikut menanggung efek dari perebutan pasokan di level industri. Produsen besar justru lebih banyak mengalihkan kapasitas ke server pelatihan dan pemrosesan model AI, sementara pasokan untuk perangkat konsumen makin ketat.

AI menyedot pasokan, konsumen kena imbas

Pasar memori saat ini dikuasai hanya oleh segelintir perusahaan besar. Samsung Electronics, SK Hynix, dan Micron Technology menjadi tiga nama utama yang mendominasi cip memori DRAM, dan membangun pabrik baru juga memakan waktu bertahun-tahun.

Masalahnya, ketiga raksasa itu kini agresif memindahkan sebagian besar kapasitas produksi untuk melayani kebutuhan AI. Langkah tersebut otomatis menekan pasokan memori bagi perusahaan teknologi konsumen, termasuk komponen yang dipakai untuk gadget dan PC rakitan.

Jim Secreto, konsultan yang pernah bekerja di Departemen Perdagangan AS pada era pemerintahan Biden, menyebut perusahaan AI sebagai pihak dengan “kantong paling tebal” saat ini. Ia menilai mereka berani membayar harga tertinggi untuk mengamankan cip memori, dan beban akhirnya jatuh ke konsumen biasa.

Apple disebut sudah merasakan dampak langsung dari situasi ini. Krisis kelangkaan cip memori menjadi salah satu alasan mendasar di balik keputusan perusahaan itu menaikkan harga jual produk-produk terbaru mereka.

Solusi cepat sulit ditemukan

Pemerintah AS sebenarnya tidak punya banyak alat untuk menyelesaikan krisis ini dengan cepat. Di sisi lain, proyek perluasan kapasitas produksi semikonduktor di dalam negeri juga bergerak lambat karena pembangunan pabrik tidak bisa mengikuti laju perubahan teknologi.

Micron tengah mengejar megaproyek pabrik cip memori di Boise, Idaho, dan Clay, New York. Namun fasilitas pertama di Idaho baru bisa beroperasi pada pertengahan 2027, sedangkan pabrik di New York baru dapat memulai jalur produksinya pada 2030.

Kathryn Mitchell, penasihat kebijakan teknologi di firma hukum DLA Piper yang bekerja sama dengan Departemen Perdagangan AS, menggambarkan situasi ini sebagai pergeseran teknologi yang bergerak sangat cepat tetapi tertahan oleh sistem fisik yang lambat. Artinya, kebutuhan pasar naik sekarang, sementara tambahan pasokan baru masih jauh dari selesai.

Ada pula kekhawatiran lama dari para produsen memori tentang risiko oversupply. Pasar cip memori memang kerap bergerak dalam siklus boom and bust, sehingga perusahaan besar cenderung hati-hati untuk tidak menambah kapasitas terlalu cepat.

Bayang-bayang krisis lama masih menghantui

Keraguan itu bukan tanpa alasan. Pada 2023, SK Hynix sempat mengalami kerugian miliaran dolar dan memangkas produksi karena lesunya industri global, sementara Micron juga memecat 15% karyawannya pada tahun yang sama.

Situasi berubah tajam ketika demam AI meledak. Permintaan cip memori untuk data center dan sistem AI naik sangat besar, dan pusat data AI juga menyerap cip memori tradisional dalam jumlah masif.

Pemerintah AS di bawah Trump sebenarnya bisa saja menginstruksikan produsen untuk mengalokasikan persentase tertentu produksi cip memori bagi produk teknologi konsumen. Tetapi para eksekutif dan analis industri menilai kebijakan seperti itu sulit diterapkan dan justru berisiko menimbulkan gangguan pasokan yang lebih luas.

China bukan jalan keluar yang mudah

Secara teori, China bisa menjadi jalan tercepat untuk meredakan kelangkaan ini, meski hanya sementara. CXMT dan YMTC, dua produsen cip utama dari China, sedang berkembang cepat dan agresif memperluas pasar global mereka.

The Wall Street Journal melaporkan YMTC sedang membangun tiga pabrik baru di China dan menargetkan kapasitas produksinya bisa berlipat ganda pada akhir 2027. CXMT juga memperluas pabrik dan berusaha mengumpulkan dana segar USD 4 miliar lewat IPO di bursa Saham Shanghai.

Pendapatan kuartal pertama CXMT bahkan melonjak lebih dari 700% dibanding periode yang sama tahun lalu, meski perusahaan itu masih mengakui teknologinya tertinggal dari Samsung, SK Hynix, dan Micron. Namun, hambatan terbesar tetap ada pada regulasi keamanan nasional AS yang membuat kerja sama teknologi dengan produsen cip China hampir mustahil dilakukan oleh korporasi AS.

Washington ingin melindungi rahasia teknologi inti sekaligus menjaga posisi pasar bagi Micron serta pemasok dari Korea Selatan dan Jepang. Kevin Wolf, pengacara di firma hukum Akin Gump, menyoroti dilema itu dengan pertanyaan yang tajam: mana ancaman yang lebih besar, kelangkaan komponen atau mendukung China memproduksi memori canggih?

Dilema tersebut juga sudah pernah muncul sebelumnya. Pada 2022, Apple sempat menjalin kesepakatan dengan YMTC untuk memasok memori flash, tetapi rencana itu dibatalkan setelah mendapat tekanan keras dari anggota parlemen AS.

Selama perang dingin teknologi dan demam AI terus berlanjut, tekanan pada pasar memori tampaknya belum akan mereda. Bagi konsumen, itu berarti harga RAM dan komponen sejenis masih berpotensi bertahan di level tinggi untuk waktu yang belum jelas.

Source: id.mashable.com
Terbaru