Google Cloud mendorong perubahan besar di pasar Indonesia dengan menempatkan agentic AI sebagai inti strategi barunya. Di ajang Indonesia Leaders’ Connect 2026, perusahaan itu memperkenalkan arah “AI ready” yang ditujukan untuk membantu organisasi bekerja lebih produktif, efisien, dan personal.
Karim Siregar, Country Director Google Cloud Indonesia yang baru ditunjuk, menegaskan bahwa pergeseran dari sekadar “cloud first” ke “AI ready” menjadi kebutuhan nyata bagi banyak perusahaan. Menurut dia, tantangannya bukan lagi hanya memindahkan sistem ke cloud, melainkan mengintegrasikan AI ke dalam alur kerja dengan hasil bisnis yang terukur.
Indonesia Jadi Ujian Nyata
Karim menyebut Indonesia sebagai pasar yang unik karena jutaan pengguna mobile-first tersebar dari kota metropolitan hingga tier-2 dan tier-3. Kondisi itu membuat kebutuhan engineering jauh lebih rumit dibanding pasar yang lebih homogen.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Google Cloud menawarkan AI stack terpadu dan platform Gemini Enterprise. Tujuannya adalah mengurangi beban integrasi dari sistem yang terfragmentasi, sekaligus membantu perusahaan memodernisasi infrastruktur lama dan mengelola tokenomics secara lebih terukur.
Google Cloud juga menyoroti kemampuan perusahaan untuk membawa autonomous agents dari tahap eksperimen ke produksi dengan ROI yang lebih jelas. Dalam penjelasan Karim, pendekatan ini penting agar AI tidak berhenti sebagai uji coba, tetapi benar-benar masuk ke operasional bisnis.
Hasil Nyata di Media, Telekomunikasi, dan Keuangan
Sejumlah organisasi di Indonesia sudah mulai menggunakan Gemini Enterprise dan menunjukkan hasil yang konkret. Media Indonesia mencatat, dampaknya terlihat di beberapa sektor yang paling dekat dengan konsumen.
| Sektor | Organisasi | Hasil Utama |
|---|---|---|
| Media & Teknologi | Emtek Group (Vidio) | Redevelopment serial “New Keluarga Somat” 30% lebih cepat dan hemat biaya melalui VidioGen. |
| Telekomunikasi | Indosat | Menurunkan user churn 50%, menaikkan ARPU lebih dari 6%, dan berpotensi menghemat jaringan Rp1,3 triliun. |
| Jasa Keuangan | CIMB Niaga | Meluncurkan AI Agents untuk Relationship Manager dan Contact Center, dengan data di-host di region Jakarta. |
Kontrol Biaya Jadi Bagian Penting
Di tengah dorongan adopsi AI, Google Cloud juga menekankan sisi ekonomi penggunaan model. Melalui Gemini Enterprise, perusahaan dapat memilih ukuran model yang sesuai kebutuhan agar biaya tetap efisien.
Google Cloud mengandalkan vertical stack miliknya, dari custom TPU hingga model Gemini, untuk menurunkan biaya per token bagi pelanggan. Perusahaan juga menyediakan alat FinOps dan tata kelola agar pemimpin IT serta keuangan dapat memantau biaya dengan lebih transparan.
Pendekatan ini penting karena banyak perusahaan ingin memperluas inovasi AI tanpa terjebak lonjakan biaya yang sulit diprediksi. Dengan kontrol biaya yang lebih jelas, adopsi AI bisa diarahkan ke penggunaan yang lebih stabil dan terukur.
Tim FDE Diperluas di Indonesia
Untuk mempercepat implementasi, Google Cloud memperluas tim Forward-Deployed Engineer di Indonesia. Tim ini akan ditempatkan langsung di lingkungan kerja pelanggan sebagai perpanjangan dari tim engineering internal.
Dukungan tersebut diharapkan bisa mengurangi risiko kegagalan proyek AI dan mempercepat transisi dari tahap uji coba ke produksi. Fokusnya adalah membantu penerapan di area operasional yang berdampak langsung, seperti otomatisasi analisis data dan efisiensi rantai pasok.
Karim Siregar menutup penjelasannya dengan menekankan bahwa keberhasilan di era AI bukan soal memakai AI di tempat terpisah. Menurut dia, yang dibutuhkan adalah integrasi langsung ke workflow agar hasil bisnisnya benar-benar terlihat.
