2 Kemampuan Manusia yang Tak Tergantikan AI, Empati dan Adaptasi

Author: Qoo Media

Di tengah gelombang kecerdasan buatan yang makin meluas, ada dua kemampuan manusia yang dinilai tetap sulit digantikan. Keduanya bukan soal kecepatan hitung atau kemampuan memproses data, melainkan empati dan daya adaptasi.

Vice President Customer Engineering Google Cloud Asia Pacific, Moe Abdula, menegaskan bahwa kemampuan dasar manusia masih relevan di setiap gelombang perubahan teknologi. Pernyataan ini disampaikan saat menyoroti bagaimana AI bekerja terbatas pada data dan instruksi yang diberikan manusia.

Empati yang Tidak Mudah Ditiru Mesin

Kemampuan pertama adalah empati dan kapasitas membangun koneksi antarsesama. Moe menyebut, memahami emosi, merasakan apa yang dialami orang lain, dan memberi respons sosial yang tepat adalah aspek yang sangat manusiawi.

Ia mencontohkan profesi petugas kepolisian yang harus berinteraksi langsung dengan masyarakat di lapangan. Dalam situasi konflik, polisi dituntut membaca kondisi, meredakan ketegangan, dan membantu seseorang memahami apa yang benar atau salah.

Menurut Moe, keterampilan seperti itu membuat pekerjaan yang bergantung pada penalaran emosional dan hubungan interpersonal akan sangat sulit digantikan oleh AI. Di titik ini, mesin bisa membantu, tetapi belum mampu menyalin sepenuhnya kepekaan manusia.

Adaptasi dan Inovasi Jadi Pembeda Utama

Kemampuan kedua adalah terus mencari tahu cara kerja sesuatu lalu beradaptasi terhadap perubahan. Moe memaparkan bahwa AI pada dasarnya bersifat reaktif karena hanya menjalankan data dan instruksi yang tersedia.

Manusia justru punya modal kreativitas untuk menciptakan cara baru dalam menyelesaikan masalah. Fleksibilitas ini membuat manusia bisa menyesuaikan diri dengan zaman, bahkan ketika teknologi terus bergeser.

Sejarah perkembangan alat bantu kerja juga menunjukkan pola yang sama. Dari memanfaatkan hewan sebagai transportasi hingga menciptakan kendaraan modern, manusia terus berinovasi saat kebutuhan berubah.

Teknologi Tetap Alat Bantu, Bukan Pengganti

Moe juga menyinggung perubahan yang terjadi saat kalkulator ditemukan. Kemampuan berhitung manual yang dulu dianggap penting bergeser, tetapi manusia tidak tersisih.

Alih-alih tergantikan, kalkulator justru dimanfaatkan untuk menyelesaikan persoalan sains yang lebih kompleks. Pola ini menjadi gambaran bahwa teknologi cenderung mengubah cara kerja manusia, bukan menghapus peran manusia sepenuhnya.

Dalam konteks AI, kemampuan beradaptasi dan memanfaatkan teknologi sebagai alat bantu menjadi keterampilan krusial yang perlu terus diasah. Moe menegaskan, manusia akan selalu menemukan cara baru untuk bekerja dan menciptakan inovasi dengan bantuan teknologi.

Source: www.liputan6.com
Terbaru