Di tengah daftar 10 orang terkaya di Indonesia, Marina Budiman menjadi satu-satunya perempuan yang masuk jajaran tersebut. Kekayaannya bertumpu pada bisnis pusat data yang tumbuh seiring kebutuhan infrastruktur digital di Indonesia.
Marina merupakan co-founder dan Presiden Komisaris PT DCI Indonesia Tbk, emiten dengan kode saham DCII. Perusahaan ini menjalankan bisnis data center dan menjadi fondasi utama kekayaan Marina.
Data Forbes per 16 Juli 2026 yang dihimpun tekno.kompas.com mencatat kekayaan bersih Marina mencapai 5,7 miliar dollar AS. Nilai itu menempatkannya di urutan ke-8 Indonesia serta peringkat 727 dalam daftar orang terkaya dunia.
Posisi Marina menarik karena satu tingkat di atasnya ditempati rekan bisnisnya di DCII, Otto Toto Sugiri. Otto kerap dijuluki “Bill Gates Indonesia” dan bersama Marina membangun bisnis teknologi sejak puluhan tahun lalu.
Perjalanan dari perbankan ke teknologi
Marina Budiman lahir pada 1961 dan menempuh pendidikan di University of Toronto dengan fokus ekonomi serta keuangan. Setelah kembali ke Indonesia, ia memulai perjalanan profesionalnya di Bank Bali pada 1985.
Di Bank Bali, Marina pertama kali bertemu Otto Toto Sugiri yang kemudian menjadi mitra bisnisnya. Pertemuan itu menjadi awal kolaborasi panjang keduanya di sektor teknologi informasi dan infrastruktur digital.
Pada 1989, Marina melanjutkan kariernya dengan bergabung di perusahaan teknologi informasi Sigma Cipta Caraka. Pengalaman tersebut memperkuat kiprahnya sebelum masuk ke bisnis layanan internet.
Bersama Otto, Marina mendirikan Indonet pada 1994. Indonet dikenal sebagai penyedia layanan internet atau internet service provider pertama di Indonesia.
Keduanya kemudian melepas kepemilikan saham di Indonet pada 2023. Langkah itu menandai salah satu bab penting setelah perjalanan panjang mereka dalam mengembangkan bisnis teknologi.
DCI Indonesia dan bisnis pusat data
Puncak perjalanan bisnis Marina hadir melalui pendirian PT DCI Indonesia Tbk pada 2011. Perusahaan tersebut dibangun bersama Otto Toto Sugiri dan Han Arming Hanafia.
DCI Indonesia berkembang di sektor pusat data, bidang yang menjadi semakin penting ketika kebutuhan layanan digital terus meningkat. Perusahaan ini memiliki fasilitas di Cibitung, Karawang, dan Jakarta.
| Informasi | Detail |
|---|---|
| Perusahaan | PT DCI Indonesia Tbk (DCII) |
| Tahun berdiri | 2011 |
| Lokasi utama | Cibitung, Karawang, dan Jakarta |
| Harga penawaran awal saham | Rp 420 per saham pada 2021 |
| Kepemilikan saham Marina | 22,51 persen |
DCII disebut sebagai pusat data Tier-IV pertama di Asia Tenggara. Standar tersebut memperlihatkan posisi perusahaan dalam penyediaan infrastruktur untuk kebutuhan digital yang terus berkembang.
Pada 2021, saham DCII resmi melantai di bursa dengan harga penawaran awal Rp 420 per saham. Nilai sahamnya kemudian meningkat jauh dari harga awal, mencerminkan kepercayaan pasar terhadap prospek bisnis pusat data.
Marina tercatat memiliki 22,51 persen saham DCII. Porsi itu menjadi kepemilikan terbesar kedua di perusahaan tersebut setelah Otto Toto Sugiri.
Satu-satunya perempuan di 10 besar
Forbes per 14 Juli 2026 memasukkan Marina sebagai satu-satunya perempuan dalam daftar 10 orang terkaya di Indonesia. Capaian itu menempatkannya di antara tokoh bisnis yang sebagian besar memperoleh kekayaan dari sektor-sektor besar lain.
Bisnis pusat data menjadi pembeda dalam perjalanan Marina di daftar tersebut. Pertumbuhan layanan digital membuat kebutuhan akan penyimpanan, pengolahan, dan infrastruktur data semakin besar.
Dari pengalaman di perbankan, teknologi informasi, hingga pendirian penyedia internet pertama di Indonesia, perjalanan Marina berlanjut ke bisnis data center. Perannya di DCI Indonesia menegaskan bagaimana infrastruktur digital dapat menjadi sumber pertumbuhan bisnis bernilai besar.
Source: tekno.kompas.com






