Retina dari mata donor manusia masih dapat menghasilkan respons listrik terhadap cahaya hingga 10 jam setelah kematian. Temuan ini membuka peluang penting untuk menjaga fungsi mata donor lebih lama sebelum digunakan dalam riset atau pengembangan transplantasi mata.
Tim peneliti berhasil mempertahankan kondisi mata di luar tubuh dengan mengalirkan larutan kaya oksigen melalui pembuluh darahnya. Sistem tersebut juga menjaga struktur retina dan kesehatan jaringan di sekelilingnya hingga 24 jam.
Tantangan Terbesar Bukan Sekadar Menjaga Mata Tetap Hidup
Transplantasi seluruh bola mata belum dapat mengembalikan penglihatan penerima, meski prosedur transplantasi sebagian wajah dan seluruh bola mata telah dilakukan sejak 2023. Hambatan utamanya adalah retina terhubung dengan sistem saraf pusat melalui saraf optik yang harus kembali tersambung ke pusat penglihatan di otak.
Thomas Johnson dari Johns Hopkins University di Baltimore menjelaskan bahwa mata donor tidak dapat mengirimkan sensasi visual ke otak penerima tanpa regenerasi serat saraf optik yang terputus. Ia juga menilai mempertahankan respons cahaya pada mata di luar tubuh sebagai pencapaian luar biasa.
Masalah lain adalah iskemia, yaitu kondisi ketika jaringan kekurangan oksigen. Retina sangat rentan terhadap kerusakan ini, bahkan dalam durasi singkat yang dapat memicu degenerasi permanen pada kepekaan neuron dan sirkuit cahaya.
| Pengujian | Jumlah Mata Donor | Hasil Utama |
|---|---|---|
| Perfusi dibandingkan tanpa perfusi | 6 donor | Perfusi menjaga struktur retina dan jaringan sekitar hingga 24 jam. |
| Uji respons listrik terhadap cahaya | 36 bola mata | 15 mata menunjukkan respons retina terhadap cahaya. |
| Mata yang diperlakukan dengan perfusi | 21 bola mata | Belum diketahui alasan tidak munculnya respons serupa. |
Perangkat Meniru Kondisi Mata Saat Masih di Tubuh
Penelitian ini dipimpin Eimear Byrne dari Barcelona Institute of Science and Technology di Spanyol bersama rekan-rekannya. Mereka berupaya mengurangi kerusakan mata donor dengan mempertahankan kondisi yang mendekati keadaan mata ketika masih berada di dalam tubuh.
Tim memasang selang pada arteri oftalmik untuk memasok cairan ke mata dan jaringan di sekitarnya. Larutan kaya oksigen kemudian dialirkan memakai perangkat khusus bernama Eye-in-Care-Box.
Perangkat itu menggunakan sensor untuk mengatur tekanan dan aliran secara otomatis. Pengaturan tersebut penting untuk menjaga metabolisme jaringan mata setelah kematian dan mengurangi dampak kekurangan oksigen.
Dalam pengujian awal, satu mata dari tiap enam pendonor mendapatkan perfusi, sedangkan mata lainnya dibiarkan tanpa perlakuan serupa. Mata tanpa perfusi mengalami kerusakan lebih cepat dibandingkan mata yang menerima aliran larutan kaya oksigen.
Pada pengujian berikutnya terhadap 36 bola mata donor, 15 di antaranya menghasilkan sinyal listrik retina saat terkena cahaya. Respons itu bertahan sampai 10 jam setelah kematian, dua kali lebih lama dibandingkan hasil penelitian pada 2022 yang mencapai lima jam.
Potensi untuk Riset Terapi Penglihatan
Menurut Liputan6.com yang mengutip New Scientist, lebih dari satu juta penduduk Inggris mengalami kebutaan atau gangguan penglihatan akibat kerusakan permanen, termasuk degenerasi makula yang menyerang retina. Perawatan retina lebih rumit dibandingkan transplantasi kornea karena jaringan ini merupakan bagian dari jalur saraf visual.
Transplantasi kornea dapat membantu memperbaiki penglihatan pada kerusakan kornea dengan mengganti lapisan jernih di bagian depan mata menggunakan jaringan donor. Namun, keberhasilan pendekatan itu tidak serta-merta dapat diterapkan pada retina donor yang harus tetap aktif sekaligus terhubung dengan otak.
Penelitian baru ini belum memecahkan persoalan regenerasi saraf optik. Meski begitu, menjaga mata donor tetap sehat setelah kematian dapat membuat pengembangan pemulihan penglihatan dan transplantasi mata lebih layak untuk diteliti lebih jauh.
Tim Byrne juga menilai Eye-in-Care-Box dapat digunakan untuk menguji terapi penglihatan langsung pada mata manusia, bukan hanya pada hewan. Johnson menambahkan bahwa teknologi ini berpotensi menjadi model in-vitro untuk menguji obat, terapi, serta memahami biologi dan patologi penyakit mata pada manusia.
