China Batasi Pacaran dengan Chatbot AI, Karakter Virtual Doubao Menghilang

Fitur yang memungkinkan pengguna membuat karakter AI dengan kepribadian sendiri kini ditutup oleh Doubao, chatbot populer milik ByteDance. Perubahan itu membuat sejumlah pengguna kehilangan karakter virtual yang telah mereka bangun dan temani selama berbulan-bulan.

Penutupan fitur tersebut terjadi setelah China memberlakukan aturan baru pada 15 Juli 2026. Regulasi ini membatasi hubungan emosional antara pengguna dan chatbot AI, terutama bagi anak-anak serta remaja.

Bagi sebagian pengguna, chatbot pendamping bukan sekadar alat untuk menjawab pertanyaan. Karakter AI dapat berperan sebagai teman berbincang, sosok yang mendengarkan, mentor, hingga pasangan virtual.

Tren tersebut berkembang pesat di China dalam beberapa tahun terakhir, terutama di kalangan generasi muda dan perempuan. Pengguna dapat membentuk ikatan emosional dengan karakter yang dirancang agar memiliki gaya bicara, latar belakang, dan respons tertentu.

Aturan Menyasar Ketergantungan Emosional

Pemerintah China memandang hubungan yang terlalu intens dengan AI companion sebagai persoalan yang perlu diawasi. Salah satu kekhawatirannya ialah ketika pengguna lebih memilih relasi virtual daripada membangun hubungan dengan manusia di dunia nyata.

Kekhawatiran itu muncul di tengah tekanan demografi China yang semakin besar. Pada 2025, populasi negara tersebut menyusut untuk keempat kalinya secara berturut-turut, sementara angka kelahiran turun ke rekor terendah.

China pernah menjadi negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, tetapi posisi itu kini diambil India. Para pemimpin China mengkhawatirkan keengganan generasi muda untuk menikah dan memiliki anak akan memperpanjang tren penyusutan populasi.

AI companion kemudian ikut menjadi sorotan karena dapat menawarkan hubungan yang terasa mudah dan selalu tersedia. Seorang sutradara film dokumenter menyebut sebagian perempuan China memilih AI pendamping karena “pria di dunia nyata tidak punya kesabaran” seperti chatbot.

Fokus AturanDampak yang Disebutkan
Hubungan AI dengan pengguna di bawah umurDilarang membentuk hubungan emosional virtual
Layanan yang mendorong ketergantunganChatbot tidak boleh dirancang agar pengguna kecanduan secara emosional
Chatbot pendamping untuk publikHarus melalui evaluasi regulator sebelum ditawarkan
Layanan yang dinilai tidak amanRegulator dapat menghentikan operasinya

Aturan ini tidak berarti seluruh penggunaan chatbot diblokir. Layanan untuk customer service dan kebutuhan bisnis lain disebut tidak termasuk dalam pembatasan tersebut.

Dengan demikian, chatbot masih dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan mengenai produk atau layanan. Namun, pengembang tidak lagi leluasa menawarkan fitur yang memosisikan AI sebagai kekasih virtual pengguna.

Doubao Menjadi Contoh Dampak Langsung

Doubao menjadi salah satu layanan yang cepat menyesuaikan diri dengan aturan baru ini. ByteDance menonaktifkan fitur custom persona, yang sebelumnya memberi ruang bagi pengguna untuk menciptakan karakter AI ideal mereka.

Fitur tersebut digunakan untuk membuat beragam sosok, mulai dari pacar virtual dan teman dekat hingga mentor. Saat fitur ditutup, banyak pengguna disebut tidak sempat menyimpan atau mendokumentasikan karakter yang telah mereka kembangkan.

Reaksi pengguna di media sosial China pun dilaporkan cukup emosional. Sejumlah orang mengaku merasa kehilangan sahabat, sementara lainnya menangisi karakter virtual yang mendadak tidak lagi dapat diakses.

Dampak ini memperlihatkan bahwa hubungan dengan chatbot bagi sebagian orang sudah melampaui fungsi teknologi biasa. Karakter digital dapat menjadi bagian dari rutinitas dan ruang emosional pengguna, meski relasi itu berlangsung sepenuhnya melalui aplikasi.

Aturan Disebut Lebih Lunak dari Rancangan Awal

Meski membatasi relasi romantis dan emosional dengan chatbot, ketentuan yang berlaku disebut tidak seketat rancangan awalnya. Jeremy Daum dari Yale Law School Paul Tsai China Center menilai aturan 15 Juli tersebut “jauh lebih diperlunak” dibandingkan draf yang diumumkan sebelumnya.

Pelunakan itu menunjukkan regulator tetap mempertimbangkan masukan dari industri AI yang sedang berkembang di China. Pembatasan yang lebih keras berpotensi memberi tekanan lebih besar bagi perusahaan teknologi yang mengembangkan layanan chatbot pendamping.

Menurut laporan tekno.kompas.com yang menghimpun informasi dari Wall Street Journal, Doubao masih dapat dipakai untuk fungsi praktis. Yang dibatasi adalah perannya sebagai pasangan virtual, bukan seluruh kemampuan chatbot untuk membantu pengguna.

Terkait