Unggahan twibbon MPLS yang menampilkan wajah, nama, sekolah, dan domisili dapat memberi pelaku kejahatan siber bahan untuk menyusun profil digital siswa baru. Risiko terbesarnya bukan sekadar data tersebar, melainkan data tersebut dipakai untuk penipuan yang tampak meyakinkan.
Tren bingkai digital di media sosial memang dapat menjadi cara siswa menunjukkan kebanggaan serta membangun kebersamaan pada masa pengenalan lingkungan sekolah. Namun, siswa, orang tua, dan sekolah perlu memahami bahwa informasi yang dibuka untuk publik bisa disalin serta digunakan kembali oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Data kecil dapat disusun menjadi profil lengkap
Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC, Pratama Persadha, mengingatkan bahwa foto wajah, nama lengkap, asal sekolah, dan domisili tidak selalu langsung memicu bahaya. Ancaman meningkat ketika berbagai informasi itu diunggah terbuka dan dapat ditemukan bersamaan di internet.
Pelaku dapat memanfaatkan teknik Open Source Intelligence atau OSINT untuk mengumpulkan, mengorelasikan, dan menyusun informasi yang tersebar menjadi profil digital seseorang. Teknik tersebut tidak mengharuskan pelaku meretas akun korban untuk mendapatkan gambaran mengenai identitasnya.
“Teknik ini memungkinkan berbagai informasi yang tersebar di internet dikumpulkan, dikorelasikan, dan disusun menjadi profil digital seseorang tanpa harus meretas akun miliknya,” ujar Pratama, dikutip Antara. Semakin banyak data dibagikan secara sukarela, semakin mudah pula identitas siswa dipetakan.
Menurut laporan www.liputan6.com, data dasar yang terkumpul dapat dipakai dalam aksi social engineering atau rekayasa sosial. Pelaku bisa menggunakan informasi itu untuk membangun komunikasi yang terasa akrab dan dipercaya oleh calon korban.
Modus yang perlu diwaspadai
Nama sekolah, informasi tentang orang tua, atau keterangan mengenai teman dapat membantu pelaku menyamar sebagai pihak sekolah maupun kerabat. Penipuan dapat terasa lebih meyakinkan karena pelaku sudah memiliki detail yang berkaitan dengan kehidupan siswa.
| Risiko | Data yang dapat dimanfaatkan | Dampak yang disebutkan |
|---|---|---|
| Penipuan dan rekayasa sosial | Nama sekolah, orang tua, atau teman | Penyamaran sebagai pihak sekolah atau kerabat |
| Penyalahgunaan foto | Foto wajah | Manipulasi AI atau pembuatan identitas palsu |
| Gangguan keamanan | Informasi lokasi dan aktivitas | Cyberbullying, stalking, hingga pengawasan aktivitas harian |
Foto wajah yang diunggah dalam twibbon juga berisiko dimanipulasi dengan teknologi AI atau digunakan untuk membuat identitas palsu. Karena itu, tampilan twibbon yang tampak sederhana tetap perlu diperlakukan sebagai bagian dari jejak digital siswa.
Risiko lain menyangkut keamanan fisik dan daring, termasuk perundungan digital serta penguntitan. Informasi yang tersedia dapat membantu pelaku memperkirakan lokasi korban dan mengawasi aktivitas hariannya.
“Hal tersebut sangat berbahaya terutama bagi anak dan remaja yang umumnya belum memiliki kemampuan untuk mengenali berbagai modus manipulasi digital,” kata Pratama. Kelompok usia siswa baru dinilai membutuhkan pendampingan agar mampu mengenali ancaman tersebut.
Batasi informasi pada twibbon
Pratama mendorong sekolah dan orang tua untuk memperkuat edukasi literasi digital sejak dini. Anak perlu memahami pentingnya menjaga data pribadi sekaligus konsekuensi dari jejak digital yang mereka tinggalkan.
Langkah praktis yang dapat diterapkan adalah membatasi informasi yang dicantumkan dalam twibbon MPLS. Sekolah disarankan hanya meminta nama depan atau nama panggilan, tanpa menambahkan data sensitif lain.
Twibbon MPLS tidak harus dihentikan karena tetap dapat menjadi sarana perkenalan dan membangun semangat bersama. Yang dibutuhkan adalah kebiasaan berbagi secara lebih aman agar semangat siswa baru tidak mengorbankan perlindungan data pribadi.
“Twibbon MPLS bukan sesuatu yang harus dihindari. Yang perlu dibangun adalah budaya literasi digital yang lebih baik sehingga semangat memperkenalkan diri tetap bisa dilakukan tanpa mengorbankan keamanan data pribadi,” ujar Pratama.







