Konsep hunian yang memadukan estetika Skandinavia, keindahan Jepang, dan kearifan lokal Bali kini semakin mendapatkan perhatian di pasar properti. Gaya desain ini, yang dikenal sebagai Scandinasian, tidak hanya menawarkan keindahan visual, tetapi juga fungsi yang mengedepankan kenyamanan dan koneksi dengan alam.
Identitas budaya Skandinavia mencerminkan nilai-nilai seperti kesederhanaan dan fungsionalitas, serta pendekatan hidup yang menekankan keseimbangan. Hal ini terlihat dalam desain rumah yang minimalis, dengan garis-garis tegas dan penggunaan material alami. Menurut Amanda Gunawan, Founding Partner OWIU Studio, desain Skandinavia berusaha menciptakan harmoni dalam sebuah ruang, menekankan pentingnya kualitas pengerjaan dan daya tahan desain.
Paduan ini semakin kaya dengan sentuhan Jepang yang menekankan detail dan harmoni. Filosofi ‘lagom’ dari Swedia, yang berarti “tidak kurang, tidak berlebihan”, membuat hunian terasa lebih nyaman dan mewah. Ditambah dengan konsep harmoni yang khas Bali, hunian ini menjadi lebih akrab dan segar, menarik bagi pembeli lokal maupun internasional.
Perencanaan ruang pada hunian-hunian ini mengikuti prinsip Skandinavia, di mana setiap area dirancang multi-fungsi. Namun, skala ruangnya lebih besar untuk mengakomodasi kecenderungan pembeli mancanegara yang umumnya lebih menyukai ruang yang lapang. Material yang digunakan pun mencakup kayu dengan sentuhan akhir alami untuk menciptakan kedalaman visual, sementara aksen logam menghadirkan kesan elegan.
Keberhasilan investasi properti juga bergantung pada perawatan yang tepat, terutama di Bali yang memiliki iklim tropis. Kolaborasi antara desain dan perawatan menjadi kunci dalam menjaga keindahan hunian. “Membangun di kawasan tropis membuat sentuhan akhir jadi lebih sensitif terhadap kelembapan dan kerusakan akibat sinar Matahari,” jelas Gunawan.
Di area Munggu, Badung, Bali, sebuah proyek baru yang melambangkan konsep ini sedang dalam tahap pengembangan. Leviro Residences, yang dikembangkan oleh Core Concept Living, didirikan oleh duo Swedia, Shanny Poijes dan Victoria Fernandez. Proyek ini bertujuan untuk menggabungkan gaya Scandinasian, Japandi, dan jiwa Bali dalam satu hunian. Shanny menyebut bahwa pembangunan dijadwalkan dimulai pada Desember 2025, dengan serah terima unit pada kuartal IV 2027.
Pembeli properti kini semakin selektif dalam memilih hunian, yang membuat mereka lebih cerdas dalam investasi. Shanny menggarisbawahi bahwa konsumen tidak hanya membeli properti, tetapi juga berinvestasi dalam gaya hidup yang mencerminkan perspektif global mereka. “Prinsip Scandinasian adalah untuk menawarkan desain yang tidak hanya estetik tetapi juga fungsional, menciptakan ruang yang menyatu dengan lingkungan,” ungkapnya.
Terlepas dari fungsionalitas, pencahayaan alami juga menjadi perhatian utama dalam desain hunian ini. Jendela besar diletakkan untuk memaksimalkan cahaya, tanpa mengurangi privasi penghuni. Konsep penyimpanan yang diadopsi adalah built-in khas Skandinavia, yang memberikan kemudahan dan kerapihan.
Dengan pertumbuhan pasar properti yang pesat dan semakin banyaknya perhatian terhadap desain yang berkualitas, tren Scandinasian x Japandi x Balinese Soul berpotensi menjadi pionir dalam industri real estate Bali. Keseimbangan antara estetika dan fungsi akan menarik lebih banyak calon pembeli untuk memilih hunian yang tidak hanya indah, tetapi juga nyaman dan berkelanjutan.
Keberagaman dalam desain ini mencerminkan keragaman latar belakang budaya para pembeli, menciptakan ruang yang tidak hanya merepresentasikan satu budaya, tetapi juga menyatukan berbagai nilai dari seluruh dunia. Dengan demikian, konsep hunian ini tidak hanya menciptakan tempat tinggal, tetapi juga pengalaman hidup yang unik dan kaya makna.







