Penggunaan kecerdasan buatan (AI) yang tepat dapat meningkatkan produktivitas individu secara signifikan jika dilakukan dengan bijaksana dan berlandaskan etika. Pernyataan ini disampaikan oleh Prof. Eko Indrajit, pakar teknologi informasi sekaligus Rektor Pradita University, dalam sebuah pelatihan AI untuk jurnalis pada Senin (15/9). Dia menegaskan bahwa sejatinya AI merupakan alat bantu yang berfungsi meningkatkan kualitas karya manusia tanpa menggantikan peran pengambil keputusan yang tetap berada di tangan manusia.
Menurut Prof. Eko, penggunaan AI harus dilandasi oleh pemahaman bahwa AI adalah teknologi pendukung, bukan pengganti. "AI hakikatnya digunakan untuk membantu manusia, sementara yang mengarahkan dan memutuskan adalah manusia itu sendiri," ujarnya. Dengan pendekatan yang tepat, produktivitas seseorang bisa bertambah karena kemudahan mengolah data dan informasi yang disediakan oleh AI dapat mempercepat proses kerja serta meningkatkan akurasi hasil pekerjaan.
Kewaspadaan terhadap hasil AI
Meski AI memiliki banyak keunggulan, Prof. Eko mengingatkan agar pengguna tidak sepenuhnya mempercayai hasil yang diberikan oleh mesin. Ketelitian tetap diperlukan untuk memverifikasi setiap keluaran yang dihasilkan AI guna mencegah kesalahan atau informasi yang menyesatkan. Hal ini penting mengingat maraknya konten buatan AI yang beredar di media sosial, yang kadang sulit dibedakan oleh masyarakat umum.
"Kita tidak bisa lagi menghindar dari teknologi. Suatu keniscayaan bahwa manusia harus hidup berdampingan dengan AI," tambahnya. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa AI sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern, dan sikap adaptif diperlukan agar dapat memanfaatkannya secara optimal.
Etika penggunaan AI dalam komunikasi dan profesi
Lebih lanjut, Prof. Eko menekankan pentingnya etika dalam menggunakan teknologi AI, terutama dalam konteks komunikasi dan penyebaran informasi. Selain memastikan penggunaan AI ditujukan untuk tujuan kebaikan, transparansi juga harus ditegakkan dengan mendeklarasikan bahwa suatu produk atau konten memang dihasilkan menggunakan AI.
Dalam bidang profesi seperti kedokteran dan jurnalistik, AI tidak dapat menggantikan peran utama para profesional. Namun, menurut Prof. Eko, "AI memang tidak bisa menggantikan dokter atau jurnalis, tetapi mereka akan dikalahkan oleh dokter ataupun jurnalis yang menggunakan AI dalam pekerjaannya." Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan AI sebagai alat bantu kerja dapat memberikan keunggulan dibandingkan dengan mereka yang tidak menggunakan teknologi ini.
Mendorong literasi AI untuk masyarakat
Salah satu aspek penting yang disoroti adalah perlunya memperkuat literasi AI. Prof. Eko menyebutkan, edukasi masyarakat agar mampu membedakan konten hasil AI dan bukan sangat dibutuhkan. Dengan demikian, risiko tertipu oleh informasi palsu atau manipulatif dari konten buatan AI dapat diminimalisir. Pendekatan ini juga mendorong penggunaan AI secara bertanggung jawab dan sesuai kode etik.
Secara keseluruhan, penggunaan AI secara tepat dan bijak dapat menjadi faktor krusial dalam meningkatkan produktivitas individu di berbagai sektor. Penerapan teknologi ini harus disertai dengan sikap kritis, etis, dan kesadaran teknologi agar manfaat yang diperoleh dapat maksimal tanpa mengabaikan aspek kemanusiaan dan nilai-nilai moral. Kondisi ini menjadikan kolaborasi antara manusia dan AI sebagai kunci penting yang tidak dapat dihindari di era digital saat ini dan masa depan.
