Komet Antar Bintang 3IATLAS Diduga Berasal dari Ujung Galaksi Purba

Author: Qoo Media

Komet antar bintang 3I/ATLAS menjadi sorotan para astronom setelah penelitian terbaru mengungkapkan kemungkinan asal-usulnya dari wilayah terpencil di galaksi Bima Sakti. Objekt ini diyakini sebagai peninggalan purba dari masa awal pembentukan galaksi, yang usianya bahkan diperkirakan lebih tua daripada Matahari.

3I/ATLAS pertama kali terdeteksi pada akhir Juni dan dikonfirmasi NASA pada awal Juli lalu. Komet ini merupakan komet antar bintang ketiga yang tercatat, menyusul 1I/‘Oumuamua dan 2I/Borisov. Ukurannya yang besar, dengan diameter antara 4,8 hingga 11,2 kilometer, menjadikan 3I/ATLAS sebagai yang terbesar di antara komet antar bintang yang pernah ditemukan.

Lintasan dan Kecepatan Melintas di Tata Surya

Saat ini, 3I/ATLAS sedang melakukan perjalanan melintasi tata surya dalam perjalanan “tur galaksi” yang diestimasikan berlangsung selama beberapa bulan. Pada 3 Oktober, komet ini melintasi orbit Mars dan dijadwalkan akan mencapai titik terdekat dengan Matahari pada 30 Oktober 2025. Setelah itu, ia akan melewati orbit Jupiter pada Maret 2026 sebelum meluncur kembali ke ruang antarbintang. NASA menegaskan bahwa keberadaan komet ini tidak menimbulkan ancaman bagi Bumi.

Bergerak dengan kecepatan luar biasa mencapai sekitar 210.000 kilometer per jam, perjalanan 3I/ATLAS telah berlangsung selama jutaan hingga miliaran tahun mengarungi galaksi Bima Sakti. Lintasan komet ini dipengaruhi oleh gaya gravitasi bintang-bintang yang dilaluinya, mirip dengan teknik “gravity assist” yang digunakan pesawat ruang angkasa untuk menambah kecepatan.

Pencarian Jejak dengan Data Gaia

Untuk melacak asal-usul 3I/ATLAS, para ilmuwan memanfaatkan data dari teleskop ruang angkasa Gaia milik Badan Antariksa Eropa (ESA). Penelitian yang dipublikasikan di arXiv melacak perjalanan objek ini hingga 4,27 juta tahun ke belakang. Dari analisis tersebut teridentifikasi 62 bintang terdekat yang mungkin pernah berinteraksi dengan komet, namun tidak satu pun yang secara signifikan mempengaruhi lintasannya.

Xabier Pérez-Couto, penulis utama studi dari Universidade da Coruña di Spanyol, menyatakan, “Kami menemukan bahwa tidak ada bintang di sekitar tata surya yang dapat menjelaskan kecepatan dan arah unik 3I/ATLAS.” Bahkan satu-satunya bintang dengan massa sekitar 70% dari Matahari yang sedikit memengaruhi lintasan komet memiliki dampak yang sangat minimal.

Asal-Usul dari Galaksi Purba

Para peneliti menduga 3I/ATLAS berasal dari perbatasan antara cakram tipis dan cakram tebal galaksi Bima Sakti. Cakram tipis dikenal sebagai tempat lahirnya bintang-bintang muda yang kaya unsur berat, sedangkan cakram tebal dihuni oleh bintang-bintang kuno yang miskin logam dan sudah berhenti membentuk bintang baru.

Jika hipotesis ini benar, usia komet tersebut bisa mencapai lebih dari 10 miliar tahun, atau dua kali lebih tua dibandingkan Matahari. “Komet ini berpotensi sebagai kapsul waktu alami yang membawa informasi berharga dari masa purba galaksi,” tambah Pérez-Couto. Komet ini diduga terlempar dari sistem planet purba melalui interaksi gravitasi dan kini menjadi “pesan dari masa lalu” yang melintas di tata surya kita.

Pengamatan dan Penelitian Lanjutan

Meskipun asal-usul pasti 3I/ATLAS masih menjadi misteri, pengamatan lanjutan dengan menggunakan teleskop di Bumi, serta pengamatan dari Mars dan orbit Jupiter, dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai komposisi dan sejarah kosmik objek ini. Data tersebut menjadi kunci penting untuk memahami tidak hanya evolusi awal galaksi Bima Sakti, tetapi juga kondisi awal pembentukan sistem planet di alam semesta.

Penemuan 3I/ATLAS membuka babak baru dalam studi tentang benda antar bintang dan perjalanan objek-objek purba yang memberi wawasan mendalam tentang sejarah kosmos yang selama ini tersembunyi. Para ahli terus memantau perjalanan dan karakteristiknya, berharap dapat mengungkap cerita spektakuler dari perjalanan lintas galaksi yang luar biasa ini.

Source: mediaindonesia.com

Terbaru