Komet Antarbintang 3I/ATLAS Pancarkan Semburan Es dan Debu Dekati Matahari

Shopee Flash Sale

Komet antarbintang 3I/ATLAS baru-baru ini terdeteksi memancarkan semburan es dan debu yang dramatis saat mendekati Matahari. Fenomena ini muncul ketika permukaan inti komet mulai memanas akibat paparan sinar Matahari, memicu pelepasan gas dan partikel ke luar angkasa. Rekaman semburan ini diambil dari Observatorium Teide di Kepulauan Canary dan memberikan wawasan penting mengenai aktivitas objek luar tata surya saat memasuki wilayah Matahari.

Semburan Es dan Debu dari Inti Komet

Komet 3I/ATLAS merupakan salah satu dari sedikit objek antarbintang yang diketahui pernah melewati tata surya kita. Dalam citra komposit yang baru dirilis, inti komet terlihat sebagai titik hitam besar yang dikelilingi oleh coma, yaitu atmosfer kabur berwarna putih. Dari inti tersebut, terlihat semburan berwarna ungu yang mengarah ke arah Matahari. Fenomena ini terjadi karena bagian permukaan komet yang langsung terkena sinar Matahari memanas dan menyebabkan gas yang terperangkap di bawah lapisan es keluar dengan tekanan membentuk jet atau semburan.

Menurut Miquel Serra-Ricart, astrofisikawan dan Kepala Sains di Light Bridges yang terlibat dalam pengamatan, panjang semburan gas dan debu ini diperkirakan mencapai sekitar 10.000 kilometer. "Semburan ini mengandung karbon dioksida dan partikel debu, serupa dengan yang diperoleh dari pengamatan Teleskop Luar Angkasa James Webb NASA," ujar Serra-Ricart melalui Live Science. Semburan tersebut menunjukkan perilaku khas dari komet es di tata surya, dimana material terlepas dari inti dan tertiup oleh tekanan angin Matahari membentuk ekor komet yang indah terlihat.

Objek Antarbintang yang Melintas Cepat

3I/ATLAS merupakan objek antarbintang ketiga yang telah teridentifikasi melintasi tata surya, setelah komet dan benda luar angkasa antarbintang sebelumnya yang juga memberikan wawasan unik soal kondisi ruang antar bintang. Komet ini diperkirakan akan mencapai perihelion atau titik terdekat dengan Matahari pada 30 Oktober mendatang, berada pada jarak sekitar 1,8 satuan astronomi (AU) dari Bumi. Jarak ini cukup dekat sehingga memungkinkan pengamatan menggunakan teleskop kecil sebelum komet kembali melaju menuju luar angkasa.

Monitoring aktivitas 3I/ATLAS dan perubahan pada inti komet selama pendekatan ini sangat penting untuk memahami komposisi dan dinamika objek antarbintang. Informasi terbaru mengenai semburan gas ini diterbitkan pada 15 Oktober dalam Astronomer’s Telegram, forum resmi komunitas astronomi internasional yang dikoordinasi oleh profesor Robert Rutledge dari Universitas McGill.

Pengamatan Melalui Observatorium Teide

Semburan 3I/ATLAS terekam dengan jelas melalui Two-meter Twin Telescope di Observatorium Teide, Tenerife, Kepulauan Canary. Gambar dicomposite dari 159 eksposur berdurasi 50 detik yang diambil pada 2 Agustus lalu. Proses pengamatan ini dilakukan oleh tim yang melibatkan berbagai ahli astronomi dan astrofisika serta didukung oleh lembaga riset swasta seperti Light Bridges. Meskipun citra tersebut belum melewati tinjauan sejawat, hasilnya sudah memperlihatkan detail fenomena yang khas dari komet yang mengandung material beku.

Menurut Serra-Ricart, aktivitas semburan ini merupakan perilaku umum pada komet karena paparan sinar Matahari yang membuat permukaan es menguap dan menciptakan gas. Kombinasi rotasi komet serta aturan radiasi menyebabkan sebagian material gas tertangkap tetap di coma sementara yang lain terdorong ke belakang membentuk ekor.

Fenomena yang Mirip dengan Komet Lain

Semburan gas dan material yang terlihat pada 3I/ATLAS mirip dengan kejadian yang berlangsung pada komet C/2020 F3 NEOWISE, yang sempat terlihat dengan mata telanjang pada 2020. Di kedua kasus, intensitas pemanasan oleh Matahari menghasilkan tekanan yang cukup untuk mendorong material lepas dan menciptakan struktur ekor yang menarik untuk diamati dan dipelajari.

Penelitian terhadap objek antarbintang seperti 3I/ATLAS tidak hanya memperkaya wawasan tentang tata surya tetapi juga tentang materi dan kondisi di ruang antar bintang. Pengamatan lanjutan diharapkan dapat memberikan data lebih lengkap terkait komposisi kimia serta interaksi dinamika antara komet dengan medan radiasi Matahari, membuka peluang pemahaman lebih dalam mengenai pergerakan dan evolusi benda langit antarbintang.

Dengan melewati tata surya dan memancarkan aktivitas yang mencolok, 3I/ATLAS menjadi salah satu objek langka yang terus menjadi fokus penelitian astronom internasional dalam mempelajari fenomena alami luar angkasa yang jauh dari jangkauan langsung manusia.

Source: mediaindonesia.com

Berita Terkait

Back to top button