Global Anti Scam Alliance (GASA) bersama Mastercard dan Indosat Ooredoo Hutchison resmi meluncurkan laporan terbaru berjudul “State of Scams in Indonesia 2025.” Laporan ini memberikan gambaran menyeluruh mengenai situasi penipuan digital di Indonesia dan menegaskan urgensi meningkatkan kesadaran serta ketahanan siber, khususnya di kalangan Generasi Z dan Milenial, yang merupakan kelompok pengguna digital terbesar di tanah air.
Lanskap Penipuan Digital di Indonesia
Dari hasil survei yang dilakukan terhadap 1.000 responden berusia 18 tahun ke atas di seluruh wilayah Indonesia, ditemukan bahwa sebanyak dua dari tiga orang dewasa (66 persen) mengalami ancaman penipuan digital dalam setahun terakhir, dengan rata-rata 55 paparan penipuan per individu setiap tahun. Sekitar 35 persen responden mengaku pernah menjadi korban, sementara 14 persen mengalami kerugian finansial yang cukup signifikan.
Kerugian ekonomi dari penipuan digital ini mencapai total Rp49 triliun atau sekitar 3,3 miliar dolar AS, dengan rata-rata kerugian mencapai Rp1,7 juta per orang dalam 12 bulan terakhir. Media yang paling sering digunakan pelaku penipuan adalah pesan langsung, seperti aplikasi pesan instan dan SMS. Dalam survei, 34 persen masyarakat percaya bahwa lembaga publik, termasuk pemerintah, memiliki tanggung jawab utama untuk melindungi warga dari penipuan digital.
Teknologi dan Kolaborasi sebagai Upaya Pencegahan
Reski Damayanti, Ketua GASA Indonesia Chapter sekaligus Chief Legal & Regulatory Officer Indosat Ooredoo Hutchison, menekankan bahwa pemanfaatan teknologi canggih, terutama kecerdasan buatan (AI), menjadi kunci dalam memperkuat sistem pencegahan penipuan. “Indonesia perlu didukung oleh kemitraan kuat dan regulasi yang jelas untuk menciptakan lingkungan digital yang aman, inklusif, dan terpercaya,” ujarnya dalam peluncuran laporan di kantor Google Indonesia, Jakarta, pada 31 Oktober 2025.
Senada, Aileen Goh, Country Manager Mastercard Indonesia dan Wakil Ketua GASA Indonesia Chapter, menyatakan bahwa perkembangan ekonomi digital menghadirkan risiko sistemik penipuan yang harus dihadapi secara kolektif. Mastercard mengusung strategi kolaboratif dengan berbagi intelijen dan mendukung inovasi untuk membangun ketahanan siber nasional.
Komitmen Google dan Peran Edukasi
Google Indonesia juga berperan aktif dalam menghadirkan ekosistem digital yang aman melalui fitur keamanan AI di produk-produknya, seperti deteksi penipuan real-time di Google Messages dan fitur Safe Browsing di Chrome yang melindungi pengguna dari situs phishing. “Kami percaya bahwa tantangan penipuan digital memerlukan kerja sama lintas sektor dan governance yang kuat,” kata Putri Alam, Director Government Affairs & Public Policy Google Indonesia.
Dalam perannya sebagai pimpinan Komite Edukasi dan Kesadaran GASA Indonesia, Google fokus memberdayakan masyarakat agar dapat beraktivitas di dunia digital dengan percaya diri dan aman.
Dampak Penipuan Digital bagi Masyarakat
Brian D. Hanley, GASA APAC Director, mengingatkan bahwa setiap kasus penipuan memiliki dampak manusiawi yang nyata, mulai dari orang tua kehilangan tabungan hingga pelaku UMKM yang terpuruk. Penipuan tidak hanya merugikan uang, tetapi juga merusak kepercayaan sosial yang menjadi dasar interaksi digital.
Rekomendasi Strategis dari Laporan
Laporan GASA ‘State of Scams in Indonesia 2025’ merumuskan 10 rekomendasi utama yang terbagi dalam tiga area aksi berikut:
- Memberdayakan konsumen melalui edukasi berkelanjutan, pelayanan bantuan nasional, dan dukungan terpadu bagi korban penipuan.
- Mewujudkan internet yang lebih aman dengan pemblokiran penipuan di tingkat jaringan serta peningkatan kemampuan pelacakan transaksi penipuan di berbagai platform dan sistem pembayaran.
- Memperkuat kerja sama lintas sektor melalui pembentukan jaringan pusat anti-penipuan, kejelasan tanggung jawab penyedia layanan, tindakan pencegahan yang lebih efektif, serta kolaborasi global dalam investigasi dan penegakan hukum.
Rekomendasi ini berperan sebagai panduan utama bagi GASA Indonesia Chapter untuk mendukung visi Indonesia Emas 2045 dengan membangun kepercayaan digital dan menjaga pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Selain menjadi alat edukasi publik dan acuan pengembangan kebijakan, laporan ini juga diharapkan dapat meningkatkan ketahanan siber komunitas nasional secara kolektif.
Metodologi Penelitian
Survei daring yang menjadi basis laporan ini dijalankan pada periode 26 Februari hingga 14 Maret 2025, dengan sampel yang disesuaikan representatif terhadap seluruh populasi orang dewasa di Indonesia. Responden diminta mengisi kuesioner terkait pengalaman, paparan, dan pandangan mereka terhadap penipuan digital serta aspek pencegahannya.
GASA sebagai organisasi global bereputasi internasional berperan sebagai penggerak utama inisiatif ini dengan kerja sama para pemangku kepentingan dari sektor pemerintah, industri, dan masyarakat sipil. GASA Indonesia Chapter sendiri berdiri resmi sejak Juli 2025, menguatkan kolaborasi anti-penipuan digital di kawasan Asia Tenggara.
Peluncuran laporan ini sekaligus menjadi momentum penting dalam meningkatkan kewaspadaan masyarakat dan memperkuat sinergi dalam menjaga ekosistem digital Indonesia yang semakin berkembang.
Source: www.medcom.id







