Tren belanja masyarakat Indonesia mulai menunjukkan pergerakan positif yang berimplikasi langsung pada kenaikan penyaluran kredit konsumer di tahun 2026. Bank-bank besar seperti Bank Tabungan Negara (BTN) dan Bank Danamon optimistis kredit konsumsi tahun ini akan melaju lebih kencang dibandingkan 2025, didorong oleh pembelian masyarakat kelas menengah yang semakin meningkat.
Data Bank Indonesia menunjukkan kredit konsumsi pada Desember 2025 mencapai Rp2.351,9 triliun dengan pertumbuhan tahunan sebesar 6,4%. Meski angka ini menunjukkan perlambatan dari pertumbuhan 7,2% pada bulan sebelumnya, para bankir menilai perlambatan tersebut bersifat sementara dan akan berbalik arah menjadi tren kenaikan di tahun ini.
Optimisme Bankir Terhadap Kredit Konsumer 2026
Enriko Sutarto, Consumer Lending Business Head Bank Danamon, menegaskan prospek kredit konsumer tahun 2026 lebih cerah. Ia menyampaikan bahwa perluasan kelas menengah Indonesia dan peningkatan daya beli mendorong permintaan pada produk-produk kredit seperti kartu kredit, Kredit Pemilikan Rumah (KPR), serta pembiayaan konsumtif lainnya. Faktor ini diyakini bakal menjadi motor penggerak utama pertumbuhan kredit.
Senada dengan itu, Direktur Risk Management BTN, Setiyo Wibowo, mengungkapkan meskipun terjadi penurunan kredit konsumer pada 2025 dibanding tahun sebelumnya, tanda-tanda positif sudah nyata di kuartal IV/2025. Ia menambahkan bahwa penurunan Non-Performing Loan (NPL) menjadi indikasi perbaikan tekanan ekonomi dan memberikan sinyal pemulihan dalam kegiatan kredit konsumer.
Tantangan dan Strategi Selektif Bank
Meski bersemangat menghadapi potensi pertumbuhan, bank-bank tetap menempatkan kewaspadaan tinggi. Lani Darmawan, Presiden Direktur Bank CIMB Niaga, menyebut bahwa pelemahan permintaan kredit pada akhir 2025 disebabkan oleh sikap konservatif nasabah prima yang lebih memilih menyimpan uang tunai daripada mengambil kredit baru. Kondisi ini mencerminkan kekhawatiran sebagian kalangan atas ketidakpastian ekonomi dan kebutuhan likuiditas mendesak.
Untuk mengantisipasi risiko kredit bermasalah, bank-bank terus menjalankan seleksi kredit secara ketat. Penerapan prinsip kehati-hatian ini penting agar kualitas aset tetap sehat dan beban pembentukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) tidak membebani keuangan bank secara berlebihan dalam jangka panjang.
Faktor Pendukung Pertumbuhan Kredit Konsumer 2026
- Peningkatan konsumsi masyarakat kelas menengah yang makin besar.
- Pemulihan ekonomi yang mulai menggeliat di kuartal IV/2025.
- Penurunan NPL yang memberikan ruang bagi ekspansi kredit.
- Penyesuaian kebijakan bank dalam mengelola risiko kredit.
Dengan kondisi tersebut, industri perbankan diprediksi akan tancap gas menyalurkan kredit konsumsi lebih agresif sepanjang 2026. Daya beli yang membaik dan kebijakan kredit yang prudent menjadi kunci agar pertumbuhan kredit bisa optimal tanpa mengorbankan kualitas aset. Bank dan pelaku pasar patut terus memantau perkembangan konsumsi dan perilaku nasabah demi respons yang cepat dan tepat di tahun ini.
Baca selengkapnya di: finansial.bisnis.com