Selat Hormuz memiliki peranan penting dalam menentukan harga minyak dunia karena merupakan jalur utama pengiriman energi global. Setiap hari, sekitar 20 juta barel minyak mentah melewati selat ini, yang artinya sekitar 30 persen minyak laut dunia mengandalkan koridor sempit tersebut. Gangguan di Selat Hormuz secara langsung dapat memicu lonjakan harga minyak.
Lokasi strategis Selat Hormuz menghubungkan Teluk Arab dengan Laut Arab, dan berada di antara Iran serta Oman dan Uni Emirat Arab. Jalur pelayaran ini memiliki lebar hanya 33 kilometer di titik tersempit, menjadikannya sangat rentan terhadap ketegangan geopolitik. Negara-negara besar penghasil minyak, seperti Iran, Arab Saudi, dan Kuwait, sangat bergantung pada selat ini untuk mengekspor energi mereka.
Ketegangan baru-baru ini antara Iran dan Amerika Serikat memicu kekhawatiran soal potensi penutupan Selat Hormuz. Pejabat Iran bahkan mengirim sinyal administratif yang melarang transit kapal di wilayah tersebut. Meski belum resmi tertutup, beberapa perusahaan tanker menangguhkan pengiriman minyak sembari mengantisipasi risiko keamanan, memperlihatkan betapa rawannya jalur ini.
Dampak langsung ketidakstabilan yakni melambatnya arus minyak global yang berimbas pada menaiknya harga di pasar internasional. Analis Muyu Xu menyatakan bahwa tidak hanya minyak mentah, tapi juga bahan bakar jet dan bensin yang sekitar 16 hingga 20 persen pasokannya melewati jalur ini. Hal ini menyebabkan potensi harga minyak tetap tinggi untuk waktu yang cukup lama bila situasi konflik berlanjut.
Selain itu, risiko penutupan Selat Hormuz tidak hanya berdampak pada sektor energi. Ali Vaez dari International Crisis Group memperingatkan gangguan besar bisa mengganggu seperlima perdagangan minyak dunia dalam semalam. Ketakutan pasar energi kemungkinan memicu lonjakan harga yang signifikan, menimbulkan efek domino seperti inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi global.
Lonjakan harga minyak juga rawan memicu inflasi serius di berbagai negara. Ekonom Hamad Hussain mengingatkan bahwa jika harga minyak mentah bertahan di angka 100 dolar AS per barel, inflasi global bisa naik sekitar 0,6 hingga 0,7 persen. Hal ini menyulitkan pelonggaran kebijakan moneter, terutama di negara berkembang yang sangat rentan terhadap perubahan harga komoditas.
Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran biasa, melainkan urat nadi perdagangan energi dunia. Semua negara pengimpor minyak dan gas terutama di Asia sangat bergantung pada stabilitas jalur ini. Karenanya, ketegangan geopolitik dan ancaman penutupan Selat Hormuz akan terus menjadi faktor krusial yang menentukan dinamika harga minyak dan kondisi ekonomi global ke depan.
Baca selengkapnya di: www.medcom.id






