Gempa Bitung Lumpuhkan Dua Cabang BCA, Layanan Digital Jadi Andalan Nasabah

PT Bank Central Asia Tbk. atau BCA menghentikan sementara operasional dua kantor cabang di Bitung, Sulawesi Utara, setelah gempa bumi magnitudo 7,6 mengguncang wilayah laut di tenggara Kota Bitung pada Kamis, 2 April 2026, pukul 05.48 WIB. Langkah ini diambil menyusul dampak guncangan terhadap aktivitas perbankan di area terdampak dan sekitarnya.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menyampaikan bahwa perseroan memahami situasi darurat yang terjadi akibat bencana tersebut. Ia mengatakan operasional dua kantor cabang pembantu, yakni KCP Bitung dan KCP Kas Girian, dihentikan mulai Kamis siang pukul 13.00 WITA hingga kondisi dinyatakan aman oleh otoritas terkait.

Dua kantor cabang yang terdampak

BCA menegaskan penghentian sementara ini hanya berlaku untuk dua titik layanan di Kota Bitung. Kebijakan tersebut diambil untuk menjaga keselamatan karyawan, nasabah, dan operasional kantor di tengah kondisi pascagempa yang masih perlu dipantau.

  1. KCP Bitung
  2. KCP Kas Girian

Hera menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang timbul akibat penyesuaian layanan tersebut. BCA juga meminta nasabah untuk memahami bahwa keputusan itu bersifat sementara dan mengikuti perkembangan kondisi lapangan serta arahan otoritas setempat.

Layanan perbankan tetap bisa diakses

Meski dua kantor cabang ditutup sementara, BCA memastikan nasabah masih dapat bertransaksi melalui kanal digital dan jaringan layanan lain. perusahaan menyebut layanan tetap tersedia melalui myBCA, BCA mobile, KlikBCA, ATM BCA, serta kantor cabang terdekat.

Berikut kanal layanan yang masih bisa digunakan nasabah:

  1. myBCA
  2. BCA mobile
  3. KlikBCA (internet banking)
  4. ATM BCA
  5. Kantor cabang BCA terdekat

Ketersediaan layanan alternatif ini penting untuk menjaga kebutuhan transaksi dasar tetap berjalan, terutama bagi nasabah di wilayah yang terdampak gempa. Dalam situasi bencana, akses ke layanan digital biasanya menjadi opsi utama karena lebih cepat dan tidak bergantung pada satu lokasi fisik.

Gempa Bitung dan peringatan tsunami dari BMKG

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG mencatat gempa tektonik itu memiliki magnitudo 7,6 dengan pusat gempa di koordinat 1,25 LU dan 126,25 BT pada kedalaman 62 kilometer. Gempa berada di wilayah laut tenggara Kota Bitung dan memicu peringatan dini tsunami di sejumlah wilayah sekitar.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa gempa tersebut berpotensi menimbulkan gelombang tsunami di Kota Ternate, Halmahera, Tidore, dan Bitung. BMKG kemudian mencatat gelombang tsunami telah terukur di beberapa lokasi dengan ketinggian berbeda.

  1. Halmahera Barat: 0,3 meter
  2. Bitung: 0,2 meter
  3. Minahasa Utara: 0,75 meter

BMKG menyebut gempa itu tergolong gempa dangkal. Menurut Teuku Faisal, karakter gempa tersebut terjadi akibat aktivitas deformasi kerak bumi, yang memang kerap memunculkan dampak lebih luas saat berada dekat permukaan laut dan wilayah pesisir.

Dampak operasional di sektor layanan publik

Kondisi pascagempa seperti ini biasanya memaksa perusahaan menyesuaikan operasional secara cepat, terutama jika lokasi kantor berada di zona rawan atau akses menuju kantor belum sepenuhnya aman. Dalam kasus BCA, penghentian sementara menjadi langkah preventif agar layanan perbankan tidak menambah risiko bagi pegawai maupun nasabah.

Di sisi lain, kejadian ini menunjukkan pentingnya kesiapan infrastruktur layanan keuangan saat bencana alam. Bank besar seperti BCA umumnya memiliki jalur layanan cadangan, sehingga aktivitas transaksi dasar tetap bisa berjalan meski sebagian kantor fisik terdampak.

BCA belum menyampaikan jadwal pasti pembukaan kembali dua kantor cabang tersebut, karena operasional akan dibuka lagi setelah situasi dinyatakan aman oleh otoritas. Hingga saat itu, nasabah di Bitung dan sekitarnya masih diarahkan memanfaatkan layanan digital dan jaringan ATM untuk kebutuhan transaksi harian.

Baca selengkapnya di: finansial.bisnis.com
Exit mobile version