Pemerintah mulai mendorong pendekatan berbasis data untuk membaca tekanan ekonomi yang dialami generasi sandwich di Indonesia. Kelompok usia produktif ini harus menopang kebutuhan dua arah sekaligus, yakni membiayai anak dan membantu orang tua.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno menegaskan, beban itu tidak bisa terus diletakkan tanpa batas pada satu kelompok usia. Ia menyebut generasi sandwich harus tetap produktif, tetapi kapasitas mereka juga punya limitasi.
NTA Jadi Alat Baca Beban Antar Generasi
National Transfer Accounts atau NTA kini dipakai sebagai instrumen analisis untuk memetakan aliran sumber daya ekonomi antar kelompok usia. Metode ini melihat siapa yang mengonsumsi, siapa yang menghasilkan, dan siapa yang kembali membutuhkan dukungan pada fase usia tertentu.
Pendekatan ini membantu pemerintah membaca distribusi beban ekonomi secara lebih utuh. Aliran dana yang terjadi di keluarga, pajak, hingga kepemilikan aset bisa dianalisis dengan lebih terukur.
Pratikno mengatakan, kebijakan publik harus disusun berdasarkan data, bukan asumsi. Menurut dia, cara pandang ini penting agar beban antar generasi tidak menumpuk pada kelompok usia produktif saja.
Mengapa Sandwich Generation Jadi Sorotan
Istilah sandwich generation merujuk pada kelompok yang berada di tengah tekanan ekonomi keluarga lintas usia. Mereka harus membiayai kebutuhan anak sekaligus membantu orang tua yang sudah menua.
Dalam penjelasannya, Pratikno menekankan bahwa kemampuan kelompok ini tetap memiliki batas. “Sandwich generation itu harus produktif. Kalau tidak, dia tidak bisa menopang ke bawah dan tidak bisa menopang ke atas. Tetapi, kemampuan sandwich generation juga ada batasnya,” ujarnya dalam agenda Dialog Menuju Kesejahteraan Antar-Generasi di Gedung Bappenas, dikutip dari Antara.
Tekanan ini tidak hanya bersifat finansial, tetapi juga berdampak pada kesehatan mental dan stabilitas rumah tangga. Karena itu, pemerintah menilai perlu ada alat baca yang bisa menunjukkan di mana beban paling besar terjadi.
Apa yang Diukur NTA
NTA tidak hanya menghitung uang yang berpindah antar usia, tetapi juga membaca pola konsumsi dan produksi sepanjang daur hidup seseorang. Dengan begitu, pemerintah dapat melihat apakah suatu kelompok usia lebih banyak menerima manfaat atau justru menanggung beban.
Berikut gambaran sederhana fungsi NTA:
- Anak-anak umumnya menjadi kelompok konsumsi, karena belum menghasilkan pendapatan sendiri.
- Usia produktif menjadi kelompok penghasil utama yang menopang ekonomi.
- Lansia kembali menjadi kelompok yang membutuhkan dukungan, terutama di bidang kesehatan dan perlindungan sosial.
Model ini membantu pemerintah melihat siapa yang membiayai pendidikan anak, siapa yang menanggung layanan kesehatan lansia, dan seberapa besar peran keluarga, negara, serta masyarakat dalam menutup kebutuhan itu. Pratikno bahkan mencontohkan pertanyaan sederhana: siapa yang membayar sekolah anak dan siapa yang membayar perawatan rumah sakit untuk kakek-nenek.
Relevan untuk Indonesia Emas 2045
Pemerintah menilai NTA juga penting sebagai alat proyeksi jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045. Data dari metode ini bisa dipakai untuk memperkirakan kebutuhan guru, tenaga kesehatan, dan infrastruktur yang berubah seiring struktur demografi.
Dengan perubahan komposisi penduduk, kebutuhan layanan publik juga ikut bergeser. Daerah dengan populasi anak yang besar membutuhkan fokus pendidikan, sementara wilayah dengan penduduk lanjut usia yang meningkat perlu memperkuat layanan kesehatan dan bantuan sosial.
Pendekatan ini dinilai penting agar investasi pemerintah lebih tepat sasaran. Setiap rupiah anggaran diharapkan memberi dampak terbesar bagi kualitas hidup warga di tiap kelompok usia.
Mengapa Pendekatan Berbasis Data Dibutuhkan
Selama ini, tekanan pada generasi sandwich sering dibahas sebagai masalah keluarga. Namun, pemerintah mulai melihatnya sebagai isu kebijakan publik yang berkaitan dengan siklus kehidupan masyarakat secara luas.
Ada tiga alasan utama mengapa NTA dianggap relevan:
- Membantu memetakan beban ekonomi antar kelompok usia secara lebih akurat.
- Menjadi dasar penyusunan kebijakan yang lebih adil antara pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial.
- Memudahkan pemerintah pusat dan daerah menyesuaikan program dengan kondisi demografi setempat.
Pendekatan ini juga berpotensi mencegah kebijakan yang terlalu umum dan tidak sesuai kebutuhan wilayah. Sebuah daerah bisa saja memerlukan prioritas pendidikan anak, sementara daerah lain lebih membutuhkan dukungan bagi lansia.
Dampak pada Kebijakan Publik Daerah
Pratikno menekankan bahwa implementasi NTA tidak bisa disamaratakan di seluruh daerah. Kerangka nasional memang bisa dibuat, tetapi pelaksanaannya harus menyesuaikan struktur penduduk di masing-masing wilayah.
Artinya, pemda perlu membaca data demografi dengan lebih cermat sebelum menentukan program. Jika tidak, bantuan dan investasi publik bisa meleset dari kebutuhan paling mendesak.
Dengan model ini, pemerintah berharap tekanan ekonomi pada generasi sandwich bisa lebih terkendali. Di saat yang sama, manfaat pembangunan bisa dibagi lebih seimbang untuk anak, usia produktif, dan lansia.
Arah Kebijakan yang Lebih Seimbang
NTA pada dasarnya mendorong negara untuk melihat pembangunan sebagai siklus antargenerasi. Anak-anak butuh pendidikan, orang dewasa butuh ruang untuk produktif, dan lansia butuh perlindungan saat penghasilan menurun.
Jika beban hanya dibebankan pada rumah tangga, generasi sandwich akan terus berada dalam posisi rentan. Karena itu, negara, keluarga, dan masyarakat perlu berbagi peran agar kesejahteraan antar generasi bisa lebih adil dan berkelanjutan.
Pendekatan berbasis data seperti NTA memberi pemerintah alat yang lebih kuat untuk membaca kebutuhan nyata warga. Dari sana, kebijakan bisa dirancang agar tidak hanya menopang generasi hari ini, tetapi juga menjaga daya tahan sosial dan ekonomi Indonesia di masa depan.
Baca selengkapnya di: www.medcom.id