PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk atau SIDO mencatat penurunan rasio dividen pada tahun buku 2025. Rasio pembagian laba ke pemegang saham itu turun menjadi sekitar 89%, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang masih 100%.
Perusahaan tetap menyalurkan dividen tunai dalam jumlah besar, tetapi porsinya terhadap laba bersih tidak lagi penuh. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan, SIDO menetapkan dividen tunai total Rp441,5 miliar atau setara Rp15 per saham, dengan yield sekitar 2,9%.
Dividen menurun, arus kas jadi perhatian
Penurunan rasio dividen ini tidak lepas dari langkah perusahaan menjaga likuiditas. SIDO diketahui mencatat cash ratio di bawah satu kali pada tahun buku 2025, sehingga manajemen dinilai perlu lebih berhati-hati dalam mengalokasikan kas.
Direktur PT Indovesta Utama Mandiri, Rivan Kurniawan, menilai keputusan menahan sebagian laba dapat dibaca sebagai sinyal positif. Ia menyebut langkah tersebut memberi ruang bagi perusahaan untuk memperkuat kas dan tidak menghabiskan seluruh dana untuk pembagian dividen.
Dalam penjelasannya, Rivan juga mengaitkan penurunan rasio dividen dengan pembagian dividen penuh atas laba tahun sebelumnya serta aksi buyback saham senilai Rp300 miliar. Kombinasi dua kebijakan itu membuat ruang kas SIDO menjadi lebih sempit.
Posisi kas terkoreksi cukup dalam
Analis Mirae Asset Sekuritas, Andreas Saragih, menyebut posisi kas SIDO turun 45,9% secara tahunan menjadi Rp463 miliar pada akhir 2025. Penurunan ini terjadi setelah perseroan mengembalikan dana ke pemegang saham melalui dividen tunai senilai Rp1,28 triliun dan program buyback saham Rp299,62 miliar.
Program buyback tersebut berakhir pada Oktober 2025 dan mencakup pembelian kembali 564,8 juta saham. Jumlah itu setara 1,89% dari saham beredar dengan harga rata-rata Rp530 per saham.
Meski kas menipis, Andreas menegaskan neraca SIDO masih kuat dan perusahaan tetap tidak memiliki utang. Kondisi itu memberi bantalan bagi perseroan untuk menjaga stabilitas operasional sambil tetap mengembalikan nilai kepada investor.
Kinerja laba tetap tumbuh
Dari sisi fundamental, SIDO justru masih membukukan pertumbuhan. Laba perusahaan sepanjang 2025 naik 4,97% menjadi Rp1,23 triliun dari Rp1,17 triliun pada periode sebelumnya.
Kenaikan laba itu ditopang oleh pertumbuhan penjualan 4% menjadi Rp4,08 triliun. Segmen jamu herbal dan suplemen masih menjadi penyumbang terbesar dengan penjualan Rp2,49 triliun.
Berikut rincian kontribusi pendapatan SIDO pada tahun buku 2025:
- Jamu herbal dan suplemen: Rp2,49 triliun
- Makanan dan minuman: Rp1,46 triliun
- Produk farmasi: Rp128,27 miliar
Komposisi tersebut menunjukkan bisnis tradisional Sido Muncul masih menjadi mesin utama pendapatan. Di saat yang sama, segmen lain tetap memberi dukungan meski porsinya belum sebesar lini herbal dan suplemen.
Dividen besar, tetapi ruang ekspansi perlu dijaga
Dalam konteks pasar, rasio dividen 89% tetap tergolong tinggi. Angka itu menunjukkan SIDO masih konsisten mengalirkan laba kepada pemegang saham, tetapi tidak lagi membagikan seluruh keuntungan seperti sebelumnya.
Bagi investor, perubahan ini penting karena menggambarkan prioritas baru manajemen. Perusahaan tampak memilih menjaga likuiditas, memperkuat kas, dan mempertahankan fleksibilitas keuangan di tengah kebutuhan ekspansi serta pengelolaan modal kerja.
Secara keseluruhan, SIDO menutup tahun buku 2025 dengan laba yang naik, penjualan yang tumbuh, dan neraca tanpa utang, namun kas yang lebih tipis setelah dividen dan buyback. Kombinasi faktor tersebut membuat kebijakan dividen pada periode ini terlihat lebih konservatif meski tetap berada pada level yang tinggi.
