Pembangunan pabrik melamin senilai US$600 juta atau setara Rp10,26 triliun di Kawasan Ekonomi Khusus Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) Gresik menjadi salah satu proyek industri kimia yang paling disorot saat ini. Fasilitas ini diproyeksikan memperkuat struktur industri nasional sekaligus mendorong agenda industrialisasi berbasis nilai tambah dan efisiensi energi.
Proyek tersebut dikembangkan oleh Golden Elephant (GEABH) dan dirancang sebagai salah satu pabrik melamin terbesar di dunia. Integrasi proses dari hulu ke hilir menjadi poin utama, mulai dari pengolahan gas alam menjadi amonia, urea, hingga produk melamin akhir yang dibutuhkan berbagai sektor industri.
Pabrik Terintegrasi dari Hulu ke Hilir
Model produksi terintegrasi menjadi daya tarik utama proyek ini karena mampu memangkas rantai pasok yang panjang. Dengan alur bahan baku yang tersambung langsung, fasilitas ini dapat mengurangi ketergantungan pada pasokan eksternal dan memberi kepastian pasokan bagi industri domestik.
Pendekatan tersebut juga sejalan dengan kebutuhan Indonesia untuk memperkuat industri berbasis sumber daya alam. Di tengah tekanan efisiensi dan standar lingkungan yang makin ketat, proyek seperti ini dinilai relevan untuk mendukung transformasi industri nasional yang lebih modern dan kompetitif.
Lei Lin, Chairman Golden Elephant (GESC), menyebut proyek di JIIPE sebagai pengembangan rantai industri kimia berbasis ekonomi sirkular. Dalam keterangan tertulis pada Jumat (10/4/2026), ia menegaskan bahwa proyek ini tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik, tetapi juga membuka ruang transfer teknologi dan kolaborasi industri lintas negara.
Efisiensi Energi dan Teknologi Baru
Salah satu keunggulan teknis yang ditonjolkan dalam proyek ini adalah penggunaan teknologi proses generasi terbaru. Teknologi tersebut diklaim mampu menghasilkan efisiensi energi 30% lebih rendah dibandingkan rata-rata standar industri global.
Selain efisiensi energi, fasilitas ini juga menekankan optimalisasi pemanfaatan produk samping melalui proses daur ulang. Langkah tersebut penting untuk mendukung industri kimia rendah karbon, yang kini menjadi arah pengembangan banyak negara dalam menghadapi tuntutan dekarbonisasi.
Berikut poin penting dari proyek pabrik melamin di JIIPE:
- Nilai investasi mencapai US$600 juta atau Rp10,26 triliun.
- Mengusung integrasi produksi dari gas alam hingga melamin akhir.
- Menggunakan teknologi proses generasi terbaru.
- Menargetkan efisiensi energi 30% lebih rendah dari standar global.
- Memanfaatkan produk samping melalui daur ulang.
- Diperkirakan menyerap lebih dari 1.000 tenaga kerja.
JIIPE Jadi Pusat Daya Saing Industri
Direktur Utama PT Berkah Kawasan Manyar Sejahtera (BKMS) atau JIIPE, Bambang Soetiono, menilai integrasi kawasan menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan proyek ini. Menurut dia, JIIPE dirancang untuk menopang rantai nilai industri secara end-to-end, mulai dari bahan baku, infrastruktur, hingga konektivitas logistik.
“Kami menyiapkan kawasan yang mendukung efisiensi dan keberlanjutan dalam jangka panjang,” ujar Bambang. Dengan fasilitas pelabuhan laut dalam dan status sebagai Kawasan Ekonomi Khusus, JIIPE memang memiliki posisi strategis untuk industri yang menuntut distribusi cepat dan biaya logistik yang efisien.
Dampak untuk Industri dan Ekonomi Regional
Duta Besar China untuk Indonesia, Wang Lutong, menilai proyek ini memberi kontribusi pada ketahanan industri kimia nasional. Ia juga menyebutnya sebagai pencapaian penting dalam kerja sama ekonomi Indonesia dan China, terutama pada sektor yang berkaitan dengan industri strategis.
Menurut Wang, pengembangan rantai industri melamin di JIIPE akan memperkuat ketersediaan produk kimia strategis dan mendukung agenda industrialisasi Indonesia. Dampaknya juga diperkirakan merembet ke ekonomi regional karena proyek ini menyerap banyak tenaga kerja dan membuka ruang penguatan industri turunan.
Keberadaan pabrik melamin ini berpotensi memberi efek berantai ke sektor pertanian, manufaktur, dan logistik. Di sisi lain, proyek tersebut juga memperlihatkan bagaimana kawasan industri terintegrasi seperti JIIPE dapat menjadi magnet bagi investasi besar yang membawa transfer teknologi, efisiensi produksi, dan penguatan basis industri kimia nasional.







