
Stefano Gabbana resmi mundur dari posisi ketua Dolce & Gabbana di tengah upaya perusahaan menata ulang kepemilikan saham dan menghadapi tekanan pembiayaan yang makin besar. Langkah ini menjadi bagian dari perubahan manajemen di rumah mode mewah Italia tersebut, sementara Alfonso Dolce kini mengambil alih kursi ketua pada awal tahun ini.
Keputusan itu muncul ketika Dolce & Gabbana menyiapkan pembicaraan baru dengan bank-bank pemberi pinjaman. Di saat yang sama, perusahaan juga mengevaluasi sejumlah opsi terkait saham sekitar 40% milik Stefano Gabbana, menurut sumber yang mengetahui proses tersebut.
Perubahan di pucuk pimpinan
Stefano Gabbana dan Domenico Dolce membangun Dolce & Gabbana menjadi salah satu nama paling kuat di industri fesyen mewah dunia. Meski keduanya telah berpisah secara personal lebih dari dua dekade lalu, Domenico Dolce tetap menjadi mitra bisnis utama dan masih memegang sekitar 40% saham melalui unit holding.
Sisa kepemilikan perusahaan berada di tangan Domenico, Alfonso Dolce, dan saudari mereka Dorotea Dolce. Struktur ini membuat keputusan strategis perusahaan tetap sangat dipengaruhi oleh lingkaran keluarga pendiri, terutama ketika pasar barang mewah sedang melambat.
Tekanan dari utang dan perlambatan pasar
Dolce & Gabbana kini menghadapi tekanan dari perlambatan berkepanjangan di sektor barang mewah. Kondisi ekonomi global yang tidak pasti, termasuk dampak perang di Iran, ikut menambah beban terhadap laba dan menyulitkan perusahaan memenuhi ketentuan utang.
Para kreditur dikabarkan meminta injeksi modal baru hingga €150 juta atau sekitar US$176 juta. Permintaan itu menjadi bagian dari rencana pembiayaan kembali utang perusahaan yang totalnya mencapai €450 juta.
Untuk mencari dana tambahan, perusahaan mempertimbangkan beberapa langkah, termasuk penjualan aset properti dan perpanjangan lisensi. Opsi ini menunjukkan bahwa Dolce & Gabbana sedang berusaha menjaga ruang gerak bisnis tanpa mengorbankan kendali penuh atas merek.
Langkah restrukturisasi yang lebih luas
Perubahan ini tidak berdiri sendiri karena perusahaan juga menata ulang jajaran eksekutifnya. Dolce & Gabbana disebut tengah bersiap menunjuk mantan CEO Gucci, Stefano Cantino, ke posisi manajemen puncak, sebagai bagian dari penguatan struktur kepemimpinan.
Sebelumnya, Bloomberg News melaporkan bahwa perusahaan telah mendapat nasihat dari Rothschild & Co. Keterlibatan penasihat keuangan ini menandakan bahwa proses restrukturisasi dan negosiasi utang berjalan dalam skala serius.
Berikut ringkasan informasi kunci yang relevan:
| Isu utama | Detail |
|---|---|
| Posisi Stefano Gabbana | Mundur dari jabatan ketua |
| Waktu pengunduran diri | Terjadi pada Desember |
| Pengganti | Alfonso Dolce |
| Porsi saham Stefano Gabbana | Sekitar 40% |
| Total utang yang dibahas | €450 juta |
| Permintaan kreditur | Hingga €150 juta |
| Langkah lain | Penjualan aset properti, perpanjangan lisensi |
Industri mewah ikut berubah arah
Kasus Dolce & Gabbana muncul saat rumah mode Italia lain juga mulai membuka diri terhadap dukungan modal eksternal. Valentino, misalnya, menerima suntikan €100 juta setelah melanggar ketentuan utangnya, sementara Prada SpA mengakuisisi Gianni Versace Srl.
Giorgio Armani juga disebut berencana menjual sekitar 15% saham awal perusahaannya. Rangkaian langkah ini menunjukkan bahwa tekanan di industri mewah telah mendorong banyak eksekutif untuk lebih fleksibel dalam mencari pendanaan dan memperkuat neraca.
Di sisi lain, Dolce & Gabbana tetap berupaya mempertahankan independensi. Perusahaan memperluas bisnis ke sektor kecantikan, properti, dan perhotelan, sambil menegosiasikan ulang struktur pembiayaan yang pada tahun lalu sempat diperpanjang hingga Februari 2030 dengan pinjaman baru sebesar €150 juta.
Dengan perubahan di level pimpinan, evaluasi kepemilikan saham, dan negosiasi utang yang masih berjalan, arah strategi Dolce & Gabbana dalam beberapa waktu ke depan akan sangat menentukan posisi merek tersebut di tengah pasar mewah yang sedang bergejolak.









