OCBC NISP Kantongi Laba Rp 5,1 Triliun, Kredit Cuma Naik 2 Persen Tapi DPK Melonjak 18 Persen

PT Bank OCBC NISP Tbk mencatat laba bersih Rp 5,1 triliun sepanjang periode pelaporan 2025. Angka ini tumbuh 4 persen dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang sebesar Rp 4,9 triliun, menandakan kinerja bank tetap solid di tengah persaingan industri perbankan yang ketat.

Pencapaian tersebut didorong oleh pertumbuhan yang disebut berkualitas dan didukung kondisi permodalan serta likuiditas yang tetap kuat. Presiden Direktur OCBC NISP, Parwati Surjaudaja, menyampaikan bahwa fokus perusahaan tetap berada pada pertumbuhan jangka panjang saat paparan publik tahunan di Tower OCBC, Jakarta, pada Kamis (9/4/2026).

Strategi pertumbuhan dijaga seimbang

OCBC NISP menempuh strategi yang menyeimbangkan ekspansi kredit, pengelolaan risiko, dan penguatan dana murah. Pendekatan ini penting agar pertumbuhan bisnis tidak hanya cepat, tetapi juga tetap sehat dan berkelanjutan.

Perusahaan juga terus memperluas basis nasabah untuk memperkuat posisi bisnisnya. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga sumber pendanaan yang stabil sekaligus mendukung ekspansi di sisi pembiayaan.

Pendapatan operasional naik, penyaluran kredit tetap tumbuh

Kinerja operasional bank juga menunjukkan perbaikan yang cukup kuat. Pendapatan operasional naik 10 persen menjadi Rp 13,09 triliun, mencerminkan aktivitas bisnis yang masih bergerak positif.

Di sisi intermediasi, penyaluran kredit bruto bertumbuh 2 persen menjadi Rp 173 triliun. Rasio kredit bermasalah bruto atau non performing loan (NPL) tetap terjaga di level 1,9 persen, yang menunjukkan kualitas aset masih terkendali.

Berikut ringkasan sejumlah indikator utama OCBC NISP:

  1. Laba bersih: Rp 5,1 triliun
  2. Pendapatan operasional: Rp 13,09 triliun
  3. Kredit bruto: Rp 173 triliun
  4. NPL bruto: 1,9 persen
  5. Dana pihak ketiga: Rp 243,5 triliun
  6. Total aset: Rp 308,1 triliun
  7. CAR: 24,5 persen

Penghimpunan dana menguat tajam

Salah satu penopang utama pertumbuhan bank datang dari dana pihak ketiga atau DPK. Sepanjang periode tersebut, DPK naik 18 persen menjadi Rp 243,5 triliun, menunjukkan kepercayaan nasabah yang terus meningkat.

Kenaikan DPK ikut mendorong total aset bank menjadi Rp 308,1 triliun. Nilai tersebut tumbuh 10 persen dibandingkan periode sebelumnya dan memperlihatkan ruang ekspansi yang lebih besar bagi bank.

Modal tetap tebal untuk menopang ekspansi

Dari sisi permodalan, posisi OCBC NISP masih sangat kuat. Rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) tercatat 24,5 persen, naik 93 basis poin secara tahunan.

CAR yang tinggi memberi fleksibilitas lebih besar bagi bank untuk menjaga stabilitas bisnis dan mendukung rencana pertumbuhan di masa mendatang. Kondisi ini juga membantu bank tetap adaptif menghadapi dinamika pasar dan perubahan kebutuhan nasabah.

Digital banking jadi mesin pertumbuhan baru

Transformasi digital memberi kontribusi besar terhadap pencapaian OCBC NISP. Frekuensi transaksi digital naik 46 persen sepanjang 2025, menandakan penggunaan layanan digital yang makin intens dari nasabah.

Jumlah pengguna aktif internet banking dan OCBC Mobile Banking juga naik 13 persen. Sementara itu, pengguna aktif OCBC Business Mobile, yang menyasar nasabah korporasi, tumbuh 19 persen.

Nilai transaksi digital yang dibukukan bank mencapai sekitar Rp 1.500 triliun sepanjang periode tersebut. Angka ini menunjukkan bahwa layanan digital bukan hanya pelengkap, tetapi sudah menjadi bagian penting dari strategi pertumbuhan bank.

Kombinasi antara pertumbuhan laba, penguatan dana pihak ketiga, kualitas kredit yang terkendali, serta lonjakan aktivitas digital menempatkan OCBC NISP dalam posisi yang cukup kuat. Dengan fondasi permodalan yang solid dan strategi bisnis yang terjaga, bank ini masih memiliki ruang untuk melanjutkan ekspansi secara hati-hati namun konsisten.

Berita Terkait

Back to top button