Negara Asia Memohon Perpanjangan Sanksi Minyak Rusia, AS Didesak Longgarkan Lagi

Beberapa negara di Asia mendorong Amerika Serikat untuk memperpanjang pengecualian sanksi atas minyak Rusia agar pasokan energi mereka tetap terjaga. Desakan ini muncul di tengah pasar minyak global yang masih bergejolak akibat konflik di Ukraina dan ketegangan di Timur Tengah.

India dan Filipina termasuk negara yang aktif menyampaikan permintaan tersebut kepada otoritas AS. Pengecualian sementara yang berlaku saat ini memberi ruang bagi pembelian minyak mentah Rusia yang sudah terlanjur dimuat ke kapal tanker, dan masa berlakunya disebut akan berakhir pada 11 April 2026.

Lobi untuk menjaga pasokan energi

Permintaan perpanjangan ini mencerminkan dilema yang dihadapi banyak negara Asia. Di satu sisi, mereka ingin menjaga hubungan dengan Washington dan sekutunya di Eropa, tetapi di sisi lain mereka harus memastikan kebutuhan energi domestik tetap terpenuhi.

Situasi ini makin rumit karena harga energi dunia masih rentan terhadap guncangan geopolitik. Konflik di Iran ikut menekan pasokan dan mendorong negara-negara pengimpor besar mencari celah agar ketersediaan minyak tetap aman.

India dan Filipina jadi sorotan

Duta Besar Filipina untuk AS, Jose Manuel G Romualdez, mengatakan bahwa proses perpanjangan pengecualian sanksi minyak Rusia masih berlangsung. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa diskusi antara pemerintah terkait belum selesai dan masih bergerak di jalur diplomatik.

Di sisi lain, seorang pejabat India menyebut New Delhi berharap pengecualian itu diperpanjang. Namun, pejabat tersebut membantah adanya lobi resmi, meski juga mengakui bahwa India telah membeli minyak Rusia dalam jumlah besar.

Langkah India tidak hanya menyasar Rusia

Delegasi India di Washington juga disebut mendesak perpanjangan penangguhan sanksi atas minyak mentah Iran. Sanksi terkait Iran itu akan berakhir pada akhir bulan ini, sementara India juga ingin memperluas pengecualian untuk gas alam cair atau LNG Rusia.

Berikut daftar permintaan yang disebut mengemuka dalam pembicaraan tersebut:

  1. Perpanjangan pengecualian sanksi untuk minyak Rusia yang sudah berada di tanker.
  2. Penangguhan sanksi atas minyak mentah Iran.
  3. Perluasan pengecualian untuk LNG Rusia.

Tiga isu itu menunjukkan fokus utama negara-negara Asia adalah menjaga arus pasokan energi agar harga tetap terkendali. Langkah ini juga mencerminkan upaya mereka menekan risiko gangguan pada impor energi di tengah situasi internasional yang belum stabil.

Eropa dan AS punya kepentingan berbeda

Permintaan dari negara-negara Asia memunculkan ketegangan dengan Eropa dan sebagian anggota Kongres AS. Eropa mendorong pembatasan yang lebih keras agar keuntungan finansial Presiden Rusia Vladimir Putin dari penjualan minyak semakin kecil di tengah perang Ukraina.

Sementara itu, pemerintah AS menghadapi tekanan dari berbagai arah karena harus menimbang kepentingan sekutu, pasar energi global, dan dampak domestik terhadap harga bahan bakar. Menteri Keuangan Scott Bessent bahkan menyebut kebijakan pengecualian itu sebagai “tindakan jangka pendek yang disengaja.”

Juru bicara Gedung Putih menolak berkomentar soal desakan perpanjangan itu. Departemen Keuangan AS juga belum merespons permintaan komentar, yang menandakan isu ini masih sensitif secara diplomatik dan kebijakan.

Harga minyak masih di level tinggi

Pasar minyak global telah mengalami lonjakan besar sejak operasi militer AS dan Israel dimulai. Harga minyak disebut masih berada lebih dari 30% di atas level sebelum konflik, yang menunjukkan betapa kuatnya pengaruh gejolak geopolitik terhadap komoditas energi.

Harga Brent juga melonjak tajam sejak konflik di Iran terjadi. Kenaikan itu ikut mendorong biaya hidup, termasuk harga bensin di AS, dan menambah tekanan pada konsumen di banyak negara.

Kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran yang diumumkan pada awal pekan ini memberi harapan baru bagi pasar. Kesepakatan itu menyerukan pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pengiriman energi paling penting di dunia, setelah sebelumnya ancaman penutupan selat tersebut sempat menghambat aliran sekitar seperlima pasokan minyak global.

Exit mobile version