Iran Wajibkan Tol Selat Hormuz Dibayar Bitcoin, Langkah Berani Lawan Sanksi AS

Iran mengambil langkah yang jarang terjadi di dunia perdagangan energi dengan mewajibkan pembayaran tol Selat Hormuz memakai kripto. Kebijakan ini langsung menarik perhatian karena menyentuh jalur pelayaran paling strategis bagi distribusi minyak dunia sekaligus menabrak pola pembayaran internasional yang selama ini bergantung pada dolar AS.

Aturan baru itu berlaku untuk kapal tanker minyak yang melintas di selat tersebut dan membawa beban biaya transit berbasis aset digital, terutama Bitcoin dan stablecoin. Pemerintah Iran mendorong mekanisme ini sebagai cara untuk menjaga arus pendapatan negara sekaligus mengurangi risiko pembekuan dana akibat sanksi finansial.

Tol Selat Hormuz Dibayar dengan Aset Digital

Berdasarkan laporan Financial Times, parlemen Iran telah mengesahkan Undang-Undang Pengelolaan Jalur Selat Hormuz dan mulai menjalankannya secara penuh. Dalam aturan itu, setiap barel minyak mentah yang diangkut dikenai tarif 1 dolar AS, lalu pembayarannya diminta dilakukan dalam bentuk kripto.

Artinya, beban biaya bagi kapal besar bisa sangat tinggi. Sebuah supertanker atau VLCC yang terisi penuh dapat membawa hingga 2 juta barel minyak, sehingga biaya transitnya bisa mencapai sekitar 2 juta dolar AS atau sekitar Rp 32 miliar dalam Bitcoin, seperti dilaporkan Fortune dan dirangkum Tekno.

Iran memosisikan kebijakan ini sebagai alat untuk menjaga kelancaran perdagangan di tengah tekanan geopolitik. Dengan pembayaran berbasis kripto, otoritas setempat berharap transaksi lebih sulit dilacak atau dibekukan oleh sistem keuangan yang terhubung ke sanksi Barat.

Proses Bayar yang Dibuat Sangat Cepat

Operator kapal harus mengirim email berisi manifes kargo, daftar kru, dan pelabuhan tujuan maksimal 96 jam sebelum kedatangan. Setelah mendapat persetujuan, kru kapal hanya diberi waktu sangat singkat, disebut hanya beberapa detik, untuk menyelesaikan transfer Bitcoin.

Model pembayaran itu menunjukkan bahwa Iran tidak sekadar memakai kripto sebagai alternatif, tetapi sebagai bagian dari sistem kontrol akses yang ketat. Mekanisme ini juga dirancang untuk menekan peluang intervensi dari pihak luar yang bisa mengganggu pembayaran.

Berikut alur sederhananya:

  1. Operator kapal mengirim data kapal dan muatan.
  2. Otoritas Iran memeriksa dokumen sebelum kedatangan.
  3. Tarif transit ditetapkan berdasarkan muatan.
  4. Pembayaran dilakukan dalam kripto dalam waktu sangat singkat.
  5. Kapal mendapat izin lanjut melintas setelah transaksi dinyatakan sah.

Tarif Tidak Sama untuk Semua Negara

Iran juga menerapkan skema berjenjang berdasarkan hubungan geopolitik. Kapal dari negara yang dinilai bersahabat, termasuk China dan India, mendapat perlakuan yang lebih ringan melalui diskon khusus.

Sebaliknya, kapal tanker yang terindikasi terkait dengan Amerika Serikat atau Israel dilarang melintas. Kebijakan ini memperlihatkan bahwa aset digital dipakai bukan hanya sebagai alat pembayaran, tetapi juga sebagai instrumen kebijakan luar negeri.

Dampak ke Perdagangan Minyak Global

Selat Hormuz adalah jalur penting bagi pengiriman minyak mentah dunia, sehingga setiap perubahan aturan di wilayah ini punya dampak luas. Bila biaya dan prosedur melintas berubah, perusahaan pelayaran dan perusahaan energi harus menyesuaikan strategi logistik mereka dengan cepat.

Langkah Iran juga bisa memicu diskusi baru soal masa depan pembayaran lintas negara di sektor energi. Penggunaan kripto untuk tol laut menunjukkan bahwa aset digital kini tidak lagi terbatas pada perdagangan ritel atau investasi, tetapi mulai masuk ke wilayah yang sangat sensitif secara strategis.

Kebijakan ini hadir saat Iran masih berada di bawah tekanan sanksi ekonomi dan upaya pembatasan akses ke sistem keuangan global. Dalam konteks itu, tol kripto di Selat Hormuz menjadi sinyal bahwa Teheran mencari jalur transaksi yang lebih mandiri, sambil tetap menjaga kendali atas salah satu titik paling vital dalam perdagangan minyak internasional.

Exit mobile version