Rupiah Terseret Blokade Hormuz, Harga Minyak Menembus US$100 dan Tekan APBN

Author: Qoo Media

Nilai tukar rupiah bergerak terbatas di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) setelah sebelumnya tertekan, seiring lonjakan harga minyak mentah global yang dipicu blokade Selat Hormuz oleh militer Amerika Serikat. Pada pembukaan perdagangan Senin, rupiah sempat menguat tipis 0,04% ke level Rp17.099 per dolar AS, sebelum kembali stagnan di Rp17.106 per dolar AS, sama seperti penutupan akhir pekan lalu.

Pergerakan itu menunjukkan pasar masih sangat sensitif terhadap eskalasi geopolitik di Timur Tengah. Ketika suplai energi global terganggu, investor cenderung melepas aset berisiko dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman.

Blokade Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak

Blokade Selat Hormuz diumumkan militer AS mulai Senin pagi waktu New York dan menyasar kapal yang keluar-masuk pelabuhan Iran. Kebijakan ini muncul setelah negosiasi akhir pekan antara Washington dan Teheran gagal mencapai kesepakatan meski berlangsung sekitar 21 jam di Islamabad.

Dampaknya cepat terasa di pasar komoditas. Harga minyak mentah Brent melompat 8,37% menjadi US$103,17 per barel pada pukul 07.00 WIB, sedangkan WTI naik 8,59% ke US$104,87 per barel.

Kenaikan itu penting karena Selat Hormuz merupakan jalur strategis pengiriman minyak dunia. Ketika jalur ini terganggu, pasar langsung menghitung ulang risiko pasokan, biaya logistik, dan potensi kenaikan inflasi di banyak negara pengimpor energi.

Tekanan merembet ke mata uang Asia

Sentimen negatif dari minyak yang melonjak turut menekan mata uang Asia yang sudah diperdagangkan lebih dulu. Won Korea Selatan melemah 0,9%, ringgit Malaysia turun 0,47%, dolar Singapura terkoreksi 0,31%, yen Jepang melemah 0,3%, dan yuan offshore turun 0,2%.

Pelemahan serentak ini memperlihatkan investor menghindari aset berisiko saat ketidakpastian meningkat. Dalam kondisi seperti ini, mata uang negara berkembang biasanya lebih rentan karena aliran dana portofolio bisa cepat keluar dari pasar keuangan.

Tekanan pada rupiah juga datang saat pasar mulai memperkirakan efek lanjutan dari lonjakan harga energi. Jika harga minyak bertahan tinggi, biaya impor energi dan tekanan terhadap neraca perdagangan dapat meningkat, terutama ketika permintaan global belum sepenuhnya stabil.

Dampak ke inflasi dan APBN Indonesia

Dari sisi domestik, kenaikan harga minyak global berpotensi menambah tekanan inflasi di Indonesia. Pemerintah memang berupaya menahan gejolak harga dengan menjaga harga BBM bersubsidi, tetapi biaya produksi di sejumlah sektor tetap naik.

Berikut beberapa jalur dampak yang paling cepat terasa di dalam negeri:

  1. Harga bahan baku ikut terdorong naik, termasuk plastik dan bahan baku tekstil.
  2. Produsen berpotensi menaikkan harga jual untuk menjaga margin.
  3. Beban subsidi energi dalam APBN bisa membesar jika harga minyak dunia bertahan tinggi.
  4. Ekspektasi inflasi dapat meningkat dan menekan daya beli masyarakat.

Bloomberg Technoz melaporkan, jika Brent terus berada di atas US$100 per barel, ruang fiskal Indonesia bisa makin sempit. Kondisi itu membuat pasar mencermati kemampuan pemerintah menjaga keseimbangan antara stabilitas harga, subsidi energi, dan disiplin anggaran.

Investor mencermati risiko fiskal dan pasar obligasi

Kekhawatiran terhadap melebar atau tidaknya defisit anggaran ikut memengaruhi sentimen investor. Saat pasar menilai risiko fiskal meningkat, rupiah biasanya mendapat tekanan tambahan dan imbal hasil surat utang negara bisa ikut naik.

Situasi ini penting karena pelemahan rupiah dan kenaikan harga minyak sering bergerak beriringan. Ketika biaya energi naik, tekanan inflasi meningkat, sementara pada saat yang sama pasar keuangan menuntut premi risiko yang lebih besar.

Dalam kondisi geopolitik yang masih rapuh, posisi Indonesia ikut diperhitungkan pasar karena neraca energi dan kebutuhan subsidi sangat sensitif terhadap harga minyak dunia. Di tengah dinamika itu, manuver diplomasi Indonesia juga mulai terlihat melalui rencana kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia untuk bertemu Presiden Vladimir Putin dalam waktu dekat, yang menandakan upaya menjaga komunikasi di tengah memanasnya ketegangan global.

Terbaru