Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjelaskan bahwa kenaikan harga Pertamax terjadi karena bahan bakar itu termasuk BBM nonsubsidi. Karena statusnya berbeda, harga Pertamax mengikuti pergerakan minyak dunia, sementara Pertalite dan Solar tetap berada dalam skema subsidi pemerintah.
Teddy menyampaikan penjelasan itu saat menanggapi sorotan publik atas penyesuaian harga BBM. Ia menegaskan, “Pertamax adalah BBM nonsubsidi. Artinya, harga Pertamax harus mengikuti harga minyak dunia.”
Alasan kenaikan harga Pertamax
Lonjakan harga minyak global dalam beberapa bulan terakhir menjadi pemicu utama penyesuaian harga Pertamax. Teddy menyebut kenaikan itu berkaitan dengan meningkatnya ketegangan geopolitik internasional, termasuk konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Pemerintah, menurut Teddy, sempat menahan kenaikan harga selama beberapa bulan agar beban masyarakat tidak langsung meningkat. Ia juga mengatakan harga Pertamax di Indonesia masih lebih rendah dibanding BBM dengan RON 92 dan RON 95 di sejumlah negara lain.
Harga BBM subsidi tetap
Di tengah penyesuaian Pertamax, pemerintah memastikan harga BBM subsidi tidak berubah. Pertalite tetap dijual Rp 10.000 per liter, sedangkan Solar subsidi masih berada di Rp 6.800 per liter.
Pemerintah menegaskan kebijakan ini bertujuan menjaga daya beli masyarakat. Langkah tersebut juga diarahkan agar subsidi energi tetap tepat sasaran bagi kelompok yang membutuhkan.
Perbandingan harga di kawasan ASEAN
Sekretariat Kabinet juga menampilkan perbandingan harga BBM setara RON 92 dan RON 95 di beberapa negara Asia Tenggara. Data itu menunjukkan harga di Indonesia masih lebih rendah dibanding sejumlah negara tetangga.
Harga BBM setara RON 92/95 disebut berada di Filipina pada Rp 22.158 per liter, Myanmar Rp 25.085 per liter, dan Thailand Rp 28.910 per liter. Laos tercatat Rp 31.945 per liter, sedangkan Singapura mencapai Rp 42.971 per liter.
Sorotan publik terhadap kebijakan BBM
Penjelasan Teddy muncul di tengah perhatian besar masyarakat terhadap kebijakan penyesuaian harga BBM nonsubsidi. Isu ini juga ikut mengemuka dalam aksi demonstrasi mahasiswa di kawasan Bundaran HI dan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat.
Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia bersama sejumlah elemen mahasiswa memasukkan penurunan harga BBM ke dalam lima tuntutan utama mereka. Pemerintah tetap menegaskan bahwa penyesuaian harga hanya berlaku untuk Pertamax dan BBM nonsubsidi lain, tanpa menyentuh Pertalite maupun Solar yang banyak dipakai masyarakat.
