Lupakan Revolut, Neobank Bitcoin Incar Kepemilikan Aset Penuh Dengan Self-Custody

Author: Qoo Media

Di tengah persaingan aplikasi keuangan modern, Blockrise menantang satu asumsi besar: neobank populer seperti Revolut, N26, dan Monzo memang terasa lebih segar, tetapi tetap dibangun di atas struktur bank lama. Menurut CEO Blockrise Jos Lazet, Bitcoin-native companies kini punya arsitektur untuk membangun model yang berbeda secara mendasar.

Lazet menyampaikan pandangan itu di BTC Prague pada June 11, 2026. Ia menyebut alternatif yang ia incar sebagai “anarchistic neobank”, yaitu rekening bank layanan penuh yang menempatkan kepemilikan aset langsung di tangan pengguna melalui self-custody.

Masalah utama neobank

Bagi Lazet, perubahan yang dibawa neobank selama ini lebih banyak terjadi di tampilan, bukan pada kepemilikan. Bank digital seperti Revolut disebut hanya memoles sistem perbankan lama dengan antarmuka yang lebih menarik.

Struktur dasarnya tetap sama. Model tersebut masih bergantung pada fractional reserves, custody institusional, dan correspondent banking rails.

Dalam praktiknya, aset yang disimpan di platform seperti Revolut bukan sepenuhnya milik pengguna seperti uang tunai di dompet. Pengguna hanya memegang klaim atas Revolut, bukan kepemilikan langsung atas aset itu.

Risiko itu menjadi nyata jika akun dibekukan, platform diretas, atau perusahaan gagal bayar. Lazet menyoroti kasus Nuri, neobank ramah kripto yang lebih dulu kolaps, sebagai contoh bagaimana aset bisa ikut terjebak di balance sheet pihak lain.

Karena itu, ia menilai banyak produk crypto banking yang berjalan di rel yang sama sebenarnya belum benar-benar menjadi crypto banking. Bagi Lazet, model itu hanya banking lama dengan harga Bitcoin ditempelkan di sisi produk.

Apa yang dimaksud anarchistic neobank

Istilah “anarchistic” dipakai secara sengaja untuk menekankan aspek kepemilikan, bukan kekacauan hukum. Blockrise tetap berada dalam jalur regulasi, termasuk di bawah kerangka EU’s MiCAR dan terdaftar di Dutch central bank sebagai asset manager.

Visi yang ditawarkan berpusat pada wallet on-chain yang terpisah dan memakai struktur multisig. Dalam skema itu, nasabah memegang satu kunci, sementara Blockrise memegang kunci lain untuk kebutuhan pengelolaan.

Pendekatan tersebut mengikuti prinsip lama di dunia Bitcoin: not your keys, not your coins. Dengan model seperti ini, pengguna tetap memiliki kontrol yang lebih langsung atas aset mereka dibandingkan dengan model kustodian penuh.

Blockrise juga menawarkan layanan pembayaran dan asset management. Perusahaan itu memungkinkan pengguna menarik Bitcoin kapan saja, sementara pendapatannya berasal dari akses dan eksekusi, bukan dari menahan aset milik klien.

Langkah nyata: IBAN Euro lewat bunq

Untuk menunjukkan bahwa konsep itu bukan sekadar gagasan konferensi, Blockrise meluncurkan akun bank Euro IBAN untuk penggunanya. Layanan itu didukung oleh platform Banking-as-a-Service milik bunq.

Langkah tersebut disebut sebagai penggunaan pertama infrastruktur BaaS bunq di Eropa. Dalam struktur ini, Blockrise menangani pengalaman pengguna yang berbasis Bitcoin, sedangkan bunq menyediakan plumbing perbankan berlisensi di belakang layar.

Salah satu elemen penting dari skema itu adalah perlindungan simpanan hingga €100,000 per pengguna melalui Dutch Deposit Guarantee Scheme. Artinya, pengguna mendapat jembatan antara kepemilikan Bitcoin dan kebutuhan perbankan euro harian dalam satu akun.

Model ini memungkinkan gaji masuk, tagihan keluar, dan aset BTC dikelola bersamaan. Bagi platform kripto, pendekatan BaaS seperti ini juga membantu mengalihkan beban lisensi dan kepatuhan, sehingga fokus tetap berada pada self-custody dan fitur yang khas Bitcoin.

Arah pasar yang dibidik

Blockrise saat ini mendukung Bitcoin dan Ethereum. Perusahaan mengenakan biaya custody dan management hingga 1%, ditambah 15% performance fee untuk strategi yang dikelola.

Model harga itu juga sedang bergerak ke struktur subscription yang mirip dengan paket berjenjang Revolut. Arah ini menunjukkan target Blockrise bukan hanya komunitas kripto yang sangat maksimalis, melainkan pengguna umum yang menginginkan kesederhanaan tanpa melepas kontrol.

Di sisi lain, bank tradisional yang mulai mengintegrasikan layanan kripto bergerak dari arah berlawanan. Mereka masuk dengan asumsi kustodian lebih dulu, bukan dengan prinsip self-sovereign seperti yang ditekankan Blockrise.

Dari sini, pertarungan yang muncul bukan lagi sekadar soal aplikasi keuangan mana yang paling nyaman dipakai. Yang diperebutkan adalah apakah layanan bank modern akan tetap bergantung pada kepemilikan terpusat, atau benar-benar memberi pengguna kendali langsung atas aset mereka.

Terbaru