PT Bukit Asam (PTBA) menargetkan konstruksi proyek gasifikasi batu bara menjadi dimetil eter atau DME dimulai pada kuartal I-2028. Target itu disampaikan Direktur Utama PTBA Arsal Ismail dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII, dan menjadi penanda bahwa proyek substitusi LPG tersebut masih berada pada tahap persiapan teknis dan investasi.
Rencana ini penting karena DME diposisikan sebagai bagian dari hilirisasi batu bara yang ditujukan untuk menekan ketergantungan impor LPG. PTBA juga menyebut proyek itu akan menjadi salah satu langkah strategis untuk memberi nilai tambah yang lebih besar pada batu bara domestik.
Target waktu proyek bergerak lebih realistis
Pernyataan PTBA menunjukkan jadwal proyek masih perlu melalui beberapa tahap sebelum masuk ke fase konstruksi. Berdasarkan penjelasan perusahaan, titik keputusan perencanaan proyek dijadwalkan selesai sebelum kuartal IV-2026, lalu final investment decision atau FID ditargetkan rampung sebelum kuartal IV-2027.
Setelah seluruh tahapan itu selesai, konstruksi baru diarahkan mulai pada awal 2028. Jika sesuai rencana, fasilitas hilirisasi tersebut diproyeksikan bisa beroperasi penuh pada kuartal IV-2030.
Perubahan jadwal ini juga menjadi sorotan karena sebelumnya sempat muncul sinyal berbeda dari BPI Danantara yang menyebut groundbreaking bisa terjadi lebih cepat. Namun, paparan terbaru PTBA menunjukkan bahwa proses penyusunan desain, skema bisnis, dan struktur pendanaan masih membutuhkan waktu.
Kapasitas besar dan nilai tambah tinggi
Arsal menjelaskan pabrik DME yang dirancang PTBA memiliki kapasitas produksi sekitar 1,4 juta ton per tahun. Angka ini menunjukkan proyek tersebut tidak hanya ditujukan untuk kebutuhan energi, tetapi juga untuk membangun rantai nilai baru dari batu bara.
Dalam rapat bersama Komisi XII, Arsal mengatakan proyek ini dapat menciptakan nilai tambah sekitar 4,3 kali dibandingkan penggunaan batu bara secara langsung. Pernyataan tersebut memperkuat alasan PTBA mendorong hilirisasi sebagai strategi jangka panjang perusahaan.
Berikut ringkasan tahapan utama proyek berdasarkan paparan PTBA:
- Penyelesaian titik keputusan perencanaan: sebelum kuartal IV-2026
- Penyelesaian final investment decision: sebelum kuartal IV-2027
- Mulai konstruksi: kuartal I-2028
- Operasi penuh: kuartal IV-2030
Peran PTBA dan Pertamina dalam skema bisnis
Dalam skema yang disiapkan, PTBA akan berperan sebagai operator pabrik sekaligus pemasok bahan baku batu bara. Di sisi lain, PT Pertamina (Persero) akan menjadi offtaker yang menyerap seluruh hasil produksi.
Model ini penting karena kepastian penyerapan produk biasanya menjadi faktor utama dalam proyek hilirisasi energi. Dengan adanya offtaker tunggal, PTBA dapat memiliki proyeksi pasar yang lebih jelas saat proyek memasuki tahap investasi dan pembangunan.
Minat investor China dan tantangan keekonomian
PTBA juga menjajaki kerja sama dengan sejumlah investor asal China, termasuk East China Engineering Science and Technology Co Ltd atau ECEC. Perusahaan itu disebut telah mengajukan proposal awal dengan usulan processing service fee atau PSF di kisaran US$412 hingga US$488 per ton.
Usulan tersebut lebih tinggi dibanding ekspektasi Kementerian ESDM pada 2021 yang berada di level US$310 per ton. Perbedaan ini menunjukkan bahwa faktor keekonomian masih menjadi salah satu tantangan utama yang perlu dinegosiasikan lebih lanjut.
Arsal berharap nilai keekonomian proyek bisa terus membaik melalui koordinasi dengan Danantara. Penguatan struktur finansial dinilai penting agar proyek DME tidak hanya layak secara teknis, tetapi juga bankable bagi investor dan mitra strategis.
Mengapa proyek DME PTBA penting untuk energi nasional
Proyek DME PTBA menjadi relevan di tengah upaya pemerintah mencari bahan bakar alternatif yang bisa mengurangi impor LPG. Jika terealisasi sesuai target, proyek ini dapat memberi dampak pada rantai pasok energi nasional sekaligus memperkuat hilirisasi batu bara di dalam negeri.
Di sisi korporasi, proyek ini juga dapat memperluas sumber pertumbuhan PTBA di luar bisnis batubara konvensional. Dengan kapasitas 1,4 juta ton per tahun, jadwal investasi bertahap, dan dukungan offtaker besar seperti Pertamina, proyek DME tetap menjadi salah satu agenda industri yang paling diperhatikan di sektor energi saat ini.
