Ketergantungan Indonesia pada impor minyak yang mencapai sekitar 60 persen dari total kebutuhan nasional kembali menyoroti rapuhnya ketahanan energi. Di tengah gejolak pasar global, kondisi ini membuat pasokan bahan bakar minyak mudah terdampak jika jalur impor terganggu.
Data yang dirujuk dari Money menunjukkan kebutuhan BBM harian nasional mencapai 1,6 juta barel, sementara kapasitas kilang domestik baru sanggup menghasilkan 1 juta barel. Artinya, ada celah pasokan yang masih harus ditutup melalui impor minyak mentah maupun BBM jadi.
Defisit Pasokan Masih Besar
Produksi minyak mentah dalam negeri hanya sekitar 600.000 barel per hari. Dengan kebutuhan yang jauh lebih tinggi, Indonesia terpaksa mengimpor sekitar 400.000 barel minyak mentah untuk diproses di kilang lokal dan menambah sekitar 600.000 barel produk BBM jadi setiap hari.
Ketimpangan ini menunjukkan bahwa ketahanan energi nasional belum bertumpu pada produksi domestik yang kuat. Ketika harga minyak dunia naik, ongkos logistik meningkat, atau suplai dari negara pemasok tersendat, dampaknya cepat terasa ke pasar dalam negeri.
Risiko Meningkat di Tengah Gangguan Logistik
CEO Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menilai kondisi stok saat ini tetap berisiko meski pemerintah dan Pertamina menyebut pasokan aman. Ia menyoroti gangguan jalur logistik di kawasan Timur Tengah yang telah berlangsung lebih dari 45 hari sebagai faktor yang memperbesar ancaman terhadap ketersediaan energi.
Fabby menegaskan bahwa cadangan BBM yang biasa dihitung aman untuk 21 hari tidak bisa dibaca dengan cara yang sama saat pasar dunia sedang tidak normal. “Yang harus dipahami bahwa kita sedang dalam kondisi krisis. Dalam kondisi normal, cadangan (BBM) 21 hari itu mungkin aman. Tapi ini kondisinya tidak normal karena ada gangguan impor,” ujarnya.
Apa yang Membuat Ketahanan Energi Rentan
Kerentanan energi nasional tidak hanya dipicu oleh volume impor yang besar. Ada beberapa faktor yang saling memperkuat dan membuat risiko pasokan semakin tinggi.
- Ketergantungan pada impor membuat Indonesia sangat sensitif terhadap gangguan eksternal.
- Kapasitas kilang domestik belum cukup untuk memenuhi permintaan harian yang terus tumbuh.
- Produksi minyak mentah dalam negeri masih jauh di bawah kebutuhan konsumsi nasional.
- Gangguan logistik global dapat langsung memengaruhi kelancaran suplai BBM.
- Perubahan harga pasar internasional bisa menekan biaya impor dan distribusi.
Kondisi tersebut membuat ruang gerak kebijakan energi menjadi lebih sempit. Saat pasokan global terganggu, pemerintah harus menjaga distribusi dalam negeri sekaligus memastikan stok tidak menipis di level pengecer.
Penghematan Energi Jadi Langkah Jangka Pendek
Fabby mendorong masyarakat ikut menekan konsumsi energi agar tekanan terhadap stok nasional tidak semakin besar. Ia meminta penggunaan kendaraan pribadi dibatasi dan perjalanan jauh yang bersifat rekreasi atau tidak mendesak ditunda bila memungkinkan.
Langkah ini terlihat sederhana, tetapi cukup penting dalam situasi pasokan yang sensitif. Jika konsumsi tetap tinggi sementara impor tersendat, risiko kelangkaan di sejumlah titik distribusi bisa meningkat dan memicu kepanikan publik.
Pemerintah dan Pertamina saat ini disebut terus menjaga jalur distribusi agar tetap lancar. Namun, stabilitas pasokan tidak hanya bergantung pada suplai dari hulu, melainkan juga pada disiplin konsumsi energi dari masyarakat dan percepatan penguatan produksi dalam negeri.
Tekanan Struktural yang Perlu Dijawab
Ketergantungan impor minyak sebesar 60 persen memperlihatkan bahwa tantangan energi Indonesia bersifat struktural, bukan sekadar gangguan sesaat. Selama produksi domestik, kapasitas kilang, dan efisiensi konsumsi belum diperbaiki, risiko yang sama akan terus muncul setiap kali pasar global bergejolak.
Dalam situasi seperti ini, ketahanan energi nasional ditentukan oleh kombinasi kebijakan pasokan, penguatan infrastruktur pengolahan, dan kedisiplinan konsumsi. Tanpa perbaikan di tiga sisi itu, ketergantungan pada impor akan tetap menjadi titik rawan bagi keamanan energi Indonesia.







