Laba Phapros Melonjak 109 Persen, Strategi Hijau Ubah Rugi Jadi Untung

PT Phapros Tbk mencatat lonjakan laba bersih yang sangat kuat pada periode Januari–Desember 2025 setelah menjalankan strategi hijau yang fokus pada efisiensi energi, pengelolaan limbah, dan optimalisasi sumber daya. Kinerja ini menandai pemulihan besar bagi emiten farmasi tersebut, sekaligus menunjukkan bahwa agenda keberlanjutan dapat berjalan seiring dengan penguatan bisnis.

Perusahaan membukukan peningkatan laba bersih 109 persen dibanding periode sebelumnya. Pada 2024, Phapros masih merugi Rp 290,63 miliar, sementara pada 2023 perseroan hanya mencetak laba Rp 6,01 miliar, sehingga capaian terbaru menjadi sinyal perbaikan yang jauh lebih solid.

Strategi hijau yang mendorong kinerja

Phapros menyebut keberlanjutan sebagai bagian dari strategi bisnis, bukan sekadar program tambahan. Penerapannya terlihat dari langkah-langkah operasional yang menekan konsumsi energi dan memperbaiki proses produksi agar lebih efisien.

Langkah tersebut mencakup penyesuaian kapasitas chiller dengan refrigerant ramah lingkungan, transformasi teknologi boiler agar lebih hemat energi, serta modifikasi filter untuk mendukung proses yang lebih bersih. Perusahaan juga memperkuat pengelolaan limbah agar dampaknya terhadap lingkungan semakin kecil.

Dalam laporan yang dirujuk, strategi tersebut menghasilkan penurunan emisi sebesar 3.442,74 ton CO2e sepanjang 2025. Pada saat yang sama, limbah B3 turun 17,62 ton, yang menunjukkan adanya perbaikan nyata dalam tata kelola lingkungan produksi.

Kinerja penjualan ikut menguat

Perbaikan operasional Phapros tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada sisi pendapatan. Penjualan perusahaan tercatat mencapai Rp 940,88 miliar pada 2025, naik 26,34 persen secara tahunan.

Pertumbuhan itu terjadi di seluruh segmen bisnis, termasuk obat bebas tanpa resep atau OTC yang tumbuh paling tinggi, yakni 43,20 persen. Data ini menunjukkan permintaan pasar yang membaik sekaligus efektivitas strategi distribusi dan penjualan perseroan.

Berikut ringkasan data penting yang tercatat dari laporan perusahaan:

  1. Laba bersih naik 109 persen pada periode Januari–Desember 2025.
  2. Kerugian 2024 tercatat Rp 290,63 miliar.
  3. Laba 2023 hanya Rp 6,01 miliar.
  4. Penjualan 2025 mencapai Rp 940,88 miliar.
  5. Emisi turun 3.442,74 ton CO2e sepanjang 2025.
  6. Limbah B3 turun 17,62 ton.
  7. Segmen OTC tumbuh 43,20 persen secara tahunan.

Pengakuan lewat Proper Hijau

Selain kinerja keuangan, Phapros juga memperoleh pengakuan dari Kementerian Lingkungan Hidup melalui Proper Hijau 2025. Penghargaan ini menegaskan bahwa praktik pengelolaan lingkungan yang dilakukan perusahaan dinilai memenuhi standar yang baik.

Plt Direktur Utama PT Phapros Tbk, Ida Rahmi Kurniasih, menegaskan bahwa keberlanjutan telah menjadi bagian dari arah bisnis perusahaan. Ia mengapresiasi raihan Proper Hijau sebagai bukti komitmen Phapros dalam menerapkan praktik yang ramah lingkungan.

Menurut catatan Kementerian Lingkungan Hidup, ada 5.476 perusahaan yang masuk penilaian Proper pada 2026, naik 22 persen dibanding tahun sebelumnya. Dalam konteks itu, pencapaian Phapros menunjukkan daya saing yang makin baik di tengah meningkatnya tuntutan kepatuhan lingkungan di industri.

Efisiensi dan reputasi berjalan seiring

Capaian Phapros memperlihatkan pola yang penting bagi industri manufaktur dan farmasi, yaitu efisiensi produksi dapat mendukung profitabilitas sekaligus memperkuat reputasi keberlanjutan. Ketika biaya energi, limbah, dan proses operasional lebih terkendali, perusahaan memiliki ruang lebih besar untuk memperbaiki margin dan menjaga daya saing.

Di sisi lain, penghargaan lingkungan seperti Proper Hijau memberi nilai tambah pada persepsi pasar, terutama bagi investor dan pemangku kepentingan yang kini semakin memperhatikan aspek ESG. Phapros pun menunjukkan bahwa strategi hijau bukan hanya relevan untuk kepatuhan, tetapi juga bisa menjadi motor pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

Terkait