
PT Pertamina International Shipping (PIS) dan PT PGN resmi menandatangani nota kesepahaman untuk membangun infrastruktur serta moda pengangkutan maritim energi rendah karbon. Kesepakatan ini menjadi langkah baru dalam penguatan ekosistem energi berkelanjutan di lingkungan Pertamina Group.
Kolaborasi tersebut mencakup pemanfaatan infrastruktur pengangkutan untuk LNG, amonia, dan hidrogen. Arah kerja sama ini muncul seiring meningkatnya kebutuhan energi yang lebih ramah lingkungan dan tuntutan efisiensi rantai pasok energi nasional.
Dorong infrastruktur energi rendah karbon
PIS menilai pengembangan transportasi gas memerlukan fondasi infrastruktur yang lebih kuat agar mampu menjawab kebutuhan jangka panjang. Perusahaan juga melihat peluang investasi pada fasilitas terapung dan moda angkut maritim sebagai cara untuk memperluas kapabilitas logistik energi.
Direktur Utama PIS Surya Tri Harto menyebut kerja sama ini tidak hanya ditujukan bagi satu entitas, melainkan untuk nilai optimal seluruh Pertamina Group. Ia menegaskan bahwa opsi investasi perlu dikaji agar bisnis tidak terlalu rentan terhadap fluktuasi harga pasar global.
“Pada kerjasama ini kita bicara tentang optimal value untuk Pertamina Group, bukan hanya untuk PIS atau PGN. Kita coba kaji opsi investasi, supaya dalam jangka panjang tidak terlalu terekspos risiko fluktuasi harga pasar,” kata Surya Tri Harto.
Jejak pengiriman LNG semakin kuat
Secara operasional, PIS telah melakukan 17 kali pengangkutan LNG untuk PGN sejak tahun 2024. Pengiriman itu melayani sejumlah fasilitas strategis, termasuk FSRU Lampung, Jawa Barat, dan Terminal Arun melalui skema spot charter.
Data tersebut menunjukkan bahwa sinergi kedua perusahaan sudah berjalan di level operasional sebelum kesepahaman baru ini ditandatangani. Dengan pengalaman tersebut, kerja sama lanjutan dinilai lebih mungkin diarahkan pada pengelolaan infrastruktur yang lebih terintegrasi.
Arah kerja sama meluas ke midstream dan downstream
PGN melihat kebutuhan infrastruktur gas akan semakin kompleks karena porsi penggunaan LNG terus meningkat. Direktur Utama PGN Arief Kurnia Risdianto mengatakan sinergi dengan PIS akan ditingkatkan ke level kepemilikan dan pengelolaan sektor midstream hingga downstream gas.
Langkah itu penting agar Pertamina Group memiliki kesiapan infrastruktur yang lebih matang untuk mendukung transisi energi. Selain itu, penguatan rantai pasok juga diharapkan membuat distribusi energi lebih efisien dan lebih tangguh menghadapi dinamika pasar.
Fokus tim kerja bersama
Untuk merealisasikan rencana tersebut, PIS dan PGN akan membentuk tim kerja bersama. Tim ini akan mengkaji proyek konkret dari sisi teknis sekaligus menyusun skema kerja sama jangka panjang yang bisa dijalankan secara bertahap.
Fokus utamanya adalah memastikan setiap inisiatif sejalan dengan target pemerintah dalam menurunkan emisi karbon. Dalam konteks ini, pemanfaatan LNG, amonia, dan hidrogen menjadi penting karena ketiganya dipandang sebagai bagian dari transisi menuju sistem energi yang lebih bersih.
Elemen utama kerja sama PIS dan PGN
- Pengembangan infrastruktur pengangkutan energi rendah karbon.
- Pemanfaatan moda maritim untuk LNG, amonia, dan hidrogen.
- Penguatan rantai pasok gas dari midstream hingga downstream.
- Kajian investasi untuk mengurangi risiko fluktuasi harga pasar.
Sinergi PIS dan PGN memperlihatkan bahwa transisi energi tidak hanya bergantung pada pasokan, tetapi juga pada kesiapan logistik dan infrastruktur pendukung. Dalam jangka panjang, penguatan aset transportasi dan pengelolaan gas diperkirakan menjadi salah satu penopang utama bagi percepatan energi rendah karbon di Indonesia.









