Dirjen Bea Cukai Tancap Gas di Jateng dan Jatim, Kejar Penerimaan Negara dengan Integritas Tegas

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Letjen TNI (Purn.) Djaka Budhi Utama turun langsung ke Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk mendorong kinerja penerimaan negara tetap terjaga di tengah situasi global yang tidak menentu. Kunjungan ini juga menegaskan bahwa pengawasan, pelayanan, dan integritas pegawai harus berjalan seimbang agar target penerimaan tidak terganggu.

Djaka mendatangi tiga titik konsolidasi, yakni Bea Cukai Kudus, Bea Cukai Kediri, dan Bea Cukai Pasuruan. Melalui pertemuan terpusat itu, ia memberi arahan kepada jajaran di Kanwil Bea Cukai Jawa Tengah dan DIY, Kanwil Bea Cukai Jawa Timur II, serta Kanwil Bea Cukai Jawa Timur I secara langsung.

Fokus pada penerimaan dan pengawasan

Dalam arahannya di Bea Cukai Kudus, Djaka menekankan bahwa kondisi global yang penuh konflik tidak boleh membuat kualitas pelayanan dan pengawasan menurun. Ia menilai Bea Cukai harus tetap bekerja dengan ritme tinggi karena institusi ini memegang peran penting dalam menjaga arus penerimaan negara dan kelancaran perdagangan.

Ia juga menyoroti perubahan peran Bea Cukai Kudus yang kini tidak hanya bertumpu pada sektor cukai, tetapi juga tumbuh kuat di kawasan berikat. Karena itu, ia meminta pegawai tetap fokus pada dua core business tersebut sambil menjaga capaian kinerja menuju target penerimaan 2026.

Djaka mengingatkan bahwa target organisasi hanya bisa dicapai jika seluruh unsur bekerja dalam satu tim yang solid. Menurutnya, kolaborasi menjadi kunci karena beban pelayanan dan pengawasan tidak bisa dipikul secara individual.

Integritas jadi sorotan utama

Pada kunjungan ke Bea Cukai Kediri, Djaka mengapresiasi capaian penerimaan di wilayah itu. Namun ia menegaskan bahwa prestasi tersebut harus diikuti penguatan integritas, terutama di tengah masih adanya aduan masyarakat terhadap layanan kepabeanan dan cukai.

Ia menyebut kasus operasi tangkap tangan sebagai peringatan keras bagi seluruh pegawai agar terus berbenah. Pesan itu ia sampaikan agar aparat Bea Cukai menjaga kepercayaan publik dan tidak memberi ruang pada praktik yang dapat merusak reputasi institusi.

  1. Menjaga integritas dalam setiap proses layanan.
  2. Menerapkan prinsip zero fraud di seluruh lini kerja.
  3. Menghindari praktik yang berpotensi mencederai kepercayaan masyarakat.
  4. Memperkuat kerja sama antarunit untuk menjaga konsistensi kinerja.

Teknologi dibutuhkan untuk menjawab keterbatasan SDM

Djaka juga menyoroti tantangan lain di wilayah Kanwil Bea Cukai Jawa Timur II, yakni keterbatasan sumber daya manusia di tengah bertambahnya jumlah kawasan berikat. Ia mendorong pemanfaatan teknologi dan inovasi agar pelayanan tetap cepat dan pengawasan tetap efektif.

Dalam konteks itu, Bea Cukai diminta tetap menjaga keseimbangan antara optimalisasi penerimaan negara dan pemberian fasilitas kepada pelaku usaha. Keseimbangan tersebut penting agar dunia usaha mendapat kepastian, sementara negara tetap memperoleh penerimaan yang maksimal.

Kondisi itu menunjukkan bahwa tugas Bea Cukai kini tidak sekadar memungut penerimaan, tetapi juga memastikan sistem kepabeanan mampu mengikuti perubahan arus industri dan perdagangan. Karena itu, pembenahan layanan berbasis teknologi menjadi kebutuhan yang semakin mendesak.

Perhatian pada industri hasil tembakau dan rokok ilegal

Isu strategis lain yang disorot Dirjen adalah ketergantungan penerimaan pada industri hasil tembakau. Ia menegaskan perlunya pengawasan yang lebih kuat untuk melindungi industri legal dari peredaran rokok ilegal yang bisa menggerus penerimaan negara.

Menurut Djaka, kepercayaan publik hanya bisa dijaga jika petugas menunjukkan kinerja terbaik. Ia meminta seluruh jajaran bekerja lebih cermat karena praktik ilegal di bidang cukai kerap muncul dalam bentuk modus baru yang menuntut respons cepat.

Pengawasan yang kuat juga dinilai penting untuk menjaga iklim usaha tetap sehat dan berkeadilan. Jika peredaran produk ilegal dibiarkan, maka pelaku usaha formal bisa dirugikan dan penerimaan negara ikut tertekan.

Pasuruan jadi penopang utama cukai nasional

Rangkaian kunjungan ditutup di Bea Cukai Pasuruan yang disebut sebagai salah satu tulang punggung penerimaan cukai nasional. Djaka mengatakan bahwa kantor tersebut merupakan penyumbang penerimaan cukai terbesar di Indonesia, sehingga pencapaian target di wilayah itu sangat penting bagi negara.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan tidak cukup dinilai dari angka penerimaan semata. Menurutnya, kontribusi nyata dalam menjaga stabilitas penerimaan dan mengawasi potensi pelanggaran juga menjadi ukuran penting dalam menilai kinerja institusi.

Di Pasuruan, pesan pengawasan kembali dipertegas karena wilayah ini berhadapan langsung dengan risiko pelanggaran yang terus berkembang. Djaka meminta jajaran tetap waspada terhadap modus baru yang bisa mengganggu sistem kepabeanan dan cukai.

Komitmen pelayanan yang lebih cepat dan akuntabel

Kunjungan ke tiga kantor wilayah itu sekaligus memperlihatkan dorongan kuat untuk memperkuat integritas pegawai Bea Cukai. Di sisi lain, pimpinan juga menekankan perlunya pelayanan yang semakin cepat, transparan, dan akuntabel bagi pelaku usaha.

Pola kerja seperti ini menjadi penting karena dunia usaha menuntut kepastian layanan yang efisien, sementara negara membutuhkan pengawasan yang ketat. Jika dua kepentingan itu dapat dijaga secara seimbang, maka penerimaan negara dan iklim usaha sama-sama bisa terbantu.

Dalam situasi ekonomi yang masih dibayangi ketidakpastian global, pesan yang dibawa Djaka di Jawa Tengah dan Jawa Timur cukup jelas. Bea Cukai diminta tetap menjaga penerimaan, memperkuat integritas, dan memastikan pengawasan berjalan efektif agar kepentingan negara serta pelaku usaha dapat terlindungi secara bersamaan.

Source: www.medcom.id

Berita Terkait

Back to top button