PT Matahari Department Store Tbk atau LPPF menyetujui pembagian dividen tunai dari laba bersih tahun buku 2025 senilai Rp556,81 miliar. Keputusan itu diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan pada Rabu, 15 April 2026, bersamaan dengan langkah penting lain berupa perubahan identitas perusahaan.
Manajemen menyampaikan bahwa dividen final yang dibagikan setara Rp250 per saham. Pembagian itu mencerminkan 76,76 persen dari laba bersih perusahaan yang tercatat sebesar Rp725,4 miliar, sehingga pemegang saham tetap memperoleh porsi besar dari hasil kinerja tahunan perseroan.
Dividen turun seiring kinerja yang melemah
Nominal dividen tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun buku sebelumnya yang mencapai Rp677,4 miliar. Perubahan tersebut sejalan dengan pelemahan kinerja keuangan Matahari Department Store sepanjang 2025.
Pendapatan bersih perseroan turun dari Rp6,39 triliun pada 2024 menjadi Rp5,78 triliun pada 2025. Tekanan pada penjualan kemudian merembet ke laba operasional yang terkoreksi menjadi Rp1,12 triliun dari sebelumnya Rp1,27 triliun.
Pada akhirnya, laba bersih tahun berjalan ikut menyusut dari Rp827,65 miliar menjadi Rp725,4 miliar. Kondisi ini menunjukkan bahwa ruang perusahaan untuk membagikan dividen masih ada, tetapi berada dalam situasi yang lebih ketat dibandingkan tahun sebelumnya.
Jadwal pembayaran dan hak pemegang saham
Manajemen telah menetapkan pembayaran dividen tunai pada 4 Mei 2026. Sementara itu, batas akhir perdagangan saham yang memuat hak dividen atau cum dividen jatuh pada 23 April 2026.
Informasi jadwal ini menjadi penting bagi investor yang ingin memastikan kepemilikan sahamnya tercatat sebagai pihak yang berhak menerima dividen. Dengan pembagian Rp250 per saham, keputusan tersebut memberi kepastian atas arus pengembalian kepada pemegang saham di tengah tekanan kinerja perusahaan.
Perubahan nama perusahaan disetujui mayoritas pemegang saham
Selain agenda dividen, RUPSLB juga mengesahkan perubahan nama badan usaha. Sebanyak 93,18 persen suara pemegang saham yang hadir menyetujui pergantian nama PT Matahari Department Store Tbk menjadi PT MDS Retailing Tbk.
Perubahan ini menandai langkah penyesuaian identitas korporasi di tengah transformasi bisnis yang sedang dijalankan. Manajemen menempatkan perubahan nama sebagai bagian dari upaya menghadapi tantangan yang semakin besar di sektor ritel.
Langkah tersebut muncul saat perseroan harus berhadapan dengan persaingan ketat dari ritel modern lain dan perkembangan e-commerce. Di sisi lain, perusahaan juga dituntut untuk memulihkan margin keuntungan yang terus tertekan agar tetap relevan di pasar yang berubah cepat.
Transformasi bisnis di tengah tekanan industri
Perubahan nama perusahaan bukan sekadar administrasi, melainkan sinyal arah baru yang ingin dibangun manajemen. Di industri ritel, identitas korporasi sering menjadi bagian dari strategi untuk menyesuaikan citra perusahaan dengan model bisnis yang sedang berkembang.
Bagi investor, dua keputusan dalam satu rangkaian rapat ini menunjukkan fokus ganda perseroan, yakni menjaga pengembalian kepada pemegang saham sekaligus menata ulang posisi bisnis. Tantangan terbesar tetap berada pada kemampuan perusahaan memperbaiki pendapatan dan laba setelah penurunan yang terjadi sepanjang tahun buku 2025.
Dengan dividen Rp556,81 miliar dan nama baru PT MDS Retailing Tbk, Matahari Department Store memasuki fase baru yang menempatkan efisiensi, persaingan ritel, dan adaptasi terhadap e-commerce sebagai isu utama yang akan terus dicermati pasar.
