China kembali menghidupkan proyek gasifikasi batu bara Fuxin yang sempat lama tertunda, dengan jadwal operasional pada Oktober 2026. Proyek milik negara melalui Datang Corp. ini menjadi bagian dari upaya Beijing mengurangi ketergantungan pada impor gas alam di tengah gangguan pasokan energi global.
Pembangunan infrastruktur senilai 25 miliar yuan itu kembali berjalan sejak musim gugur tahun lalu setelah terbengkalai selama sekitar satu dekade. Proyek ini sebelumnya berhenti pada 2014 karena kendala teknis, logistik, dan persoalan lingkungan, sehingga kebangkitannya kini menarik perhatian pasar energi.
Dorongan dari kondisi pasar dan pasokan energi
Langkah menghidupkan kembali proyek Fuxin tidak muncul tiba-tiba. Analis OilChem, Wang Haohao, menjelaskan bahwa perencanaan proyek berbasis batu bara seperti ini sudah dimulai jauh sebelum konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran pasokan energi.
“China mulai merencanakan proyek-proyek berbasis batubara tersebut jauh sebelum perang Timur Tengah,” kata Wang Haohao, dikutip dari sumber referensi. Ia menilai kondisi pasar saat ini justru memberi dorongan tambahan bagi investor untuk mempercepat penyelesaian proyek.
Menurut Wang, faktor ekonomi ikut memperkuat minat pembangunan di lapangan. “Peningkatan profitabilitas mendorong investor untuk mempercepat pembangunan,” ujarnya.
Bagian dari strategi energi Beijing
Reaktivasi proyek Fuxin mencerminkan strategi Beijing untuk memanfaatkan lebih banyak batu bara domestik sebagai bahan baku energi. Di saat pasokan gas global rentan terganggu, China mencari jalur alternatif agar kebutuhan energinya tetap aman dan tidak terlalu bergantung pada impor.
Pemerintah China tercatat memiliki 13 proyek serupa yang masih berjalan pada tahap perencanaan maupun konstruksi. Beberapa perusahaan besar ikut terlibat dalam pengembangan ini, termasuk China Energy Investment Corp dan Sinopec Group.
Ekspansi tersebut diperkirakan mampu mendorong produksi gas sintetis hingga 52 miliar meter kubik per tahun. Jumlah itu setara 12 persen dari total pasokan nasional, sehingga proyek berbasis batu bara dipandang punya peran yang tidak kecil dalam arsitektur energi China.
Xinjiang jadi wilayah kunci
Selain Fuxin, perhatian industri juga mengarah ke wilayah terpencil seperti Xinjiang yang memiliki cadangan batu bara murah. Wilayah ini dinilai cocok untuk pengembangan proyek gasifikasi karena ketersediaan bahan baku menjadi salah satu faktor penting dalam menekan biaya produksi.
BloombergNEF memperkirakan biaya produksi di Xinjiang hanya berada di kisaran US$5 hingga US$9 per juta BMTU. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan harga spot LNG Asia yang sempat melonjak akibat perang, sehingga memberi ruang bagi proyek berbasis batu bara untuk terlihat lebih kompetitif secara ekonomi.
Arah industri gas sintetis China
China selama ini terus mencari cara untuk menyeimbangkan kebutuhan energi, biaya produksi, dan keamanan pasokan. Dalam konteks itu, proyek gasifikasi batu bara Fuxin menjadi contoh bagaimana kebijakan energi dan dinamika geopolitik saling memengaruhi keputusan industri.
Di satu sisi, proyek sempat tersendat karena hambatan teknis dan lingkungan. Di sisi lain, situasi pasar yang lebih menguntungkan membuat sejumlah investor bergerak lebih cepat untuk menyelesaikan infrastruktur yang kini kembali diposisikan sebagai aset strategis bagi pasokan energi nasional.
