PT Pertamina (Persero) resmi menaikkan harga BBM nonsubsidi pada 18 April. Kebijakan ini menyasar produk seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex, seiring lonjakan harga minyak dunia dan tekanan krisis energi global.
Penyesuaian harga tersebut tidak berlaku untuk BBM subsidi. Pemerintah tetap menahan harga Pertalite dan Biosolar agar tekanan biaya hidup masyarakat luas tidak ikut membesar.
Pelarasan Harga Mengikuti Pasar
Langkah ini dipahami sebagai bentuk penyesuaian terhadap mekanisme pasar. Pakar ekonomi energi Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, menilai kebijakan tersebut sejalan dengan karakter BBM nonsubsidi yang memang dipengaruhi kondisi ekonomi global.
Fahmy menyebut kenaikan harga BBM non-subsidi sebagai koreksi atas kebijakan sebelumnya yang tidak naik saat pasar dunia bergerak. Ia juga menegaskan bahwa harga untuk jenis RON 92 ke atas seharusnya mengikuti dinamika pasar secara langsung.
Menurut Fahmy, penyesuaian saat harga minyak mentah internasional naik memang perlu dilakukan. Di sisi lain, pemerintah dinilai tepat karena tetap menjaga BBM subsidi agar inflasi tidak melonjak lebih tinggi.
Dampak ke Inflasi Dinilai Terbatas
Fahmy menilai dampak kebijakan ini terhadap masyarakat tidak terlalu besar. Alasannya, pengguna BBM nonsubsidi jumlahnya lebih kecil dibanding konsumen Pertalite dan Solar.
Ia juga menyoroti bahwa BBM nonsubsidi bukan bahan bakar utama untuk angkutan kebutuhan pokok. Karena itu, kenaikan harga pada kelompok ini dinilai tidak langsung memukul konsumsi harian masyarakat luas.
Pandangan serupa disampaikan pakar ekonomi Universitas Negeri Manado, Robert Winerungan. Ia menyebut konsumsi BBM nonsubsidi umumnya datang dari kelompok masyarakat menengah ke atas, sehingga pengaruhnya terhadap inflasi relatif kecil.
Namun, Robert mengingatkan adanya risiko perpindahan konsumsi dari BBM nonsubsidi ke subsidi. Ia menilai pengawasan harus diperketat agar distribusi BBM subsidi tetap tepat sasaran.
Harga BBM Subsidi Tetap Dijaga
Pemerintah menempatkan BBM subsidi sebagai instrumen utama untuk menjaga daya beli. Karena itu, harga Pertalite dan Biosolar tidak ikut dinaikkan meski harga minyak dunia sedang bergejolak.
Fahmy menegaskan bahwa kenaikan Pertalite dan Solar akan memberi efek yang jauh lebih luas. Menurutnya, perubahan pada kedua jenis BBM itu bisa memicu inflasi sekaligus menekan kemampuan belanja masyarakat.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia juga menekankan pembedaan regulasi antara BBM subsidi dan nonsubsidi. Ia menjelaskan bahwa BBM untuk industri dan nonsubsidi mengikuti harga pasar, sedangkan BBM bersubsidi berada dalam pengaturan pemerintah.
Daftar Harga BBM Pertamina di Jakarta
Data MyPertamina menunjukkan lonjakan paling tinggi terjadi pada Dexlite dan Pertamina Dex. Berikut ringkasan harga per liter di wilayah Jakarta:
- Pertamax Turbo: dari Rp13.100 menjadi Rp19.400
- Dexlite: dari Rp14.200 menjadi Rp23.600
- Pertamina Dex: dari Rp14.500 menjadi Rp23.900
- Pertamax (RON 92): tetap Rp12.300
- Pertamax Green 95: tetap Rp12.900
- Pertalite: tetap Rp10.000
- Biosolar: tetap Rp6.800
Kenaikan pada varian nonsubsidi tersebut memperlihatkan kuatnya tekanan dari pasar energi global. Hingga kini, pemerintah disebut terus memastikan pasokan BBM subsidi aman untuk mencegah antrean panjang di SPBU.
Potensi Perubahan Perilaku Konsumen
Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira Adhinegara, melihat ada peluang sebagian konsumen menengah ke atas melirik kendaraan listrik. Ia menyebut kelompok yang biasa memakai Pertamax Turbo atau Pertamina Dex bisa mempertimbangkan EV sebagai alternatif.
Meski begitu, Bhima menilai transisi itu tidak berlangsung mudah. Ia menyoroti gangguan rantai pasok global dan biaya produksi kendaraan listrik yang ikut terdampak situasi geopolitik.
Bhima juga menyebut insentif kendaraan listrik menjadi faktor penting dalam keputusan konsumen. Dengan berbagai penyesuaian harga energi dan perubahan dukungan pasar, perilaku konsumsi masyarakat diperkirakan tetap berbeda pada tiap kelompok pengguna.







