Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, Jutaan Barel Minyak Terjebak di Teluk Persia

Aktivitas pelayaran komersial melalui Selat Hormuz terhenti total setelah lonjakan ketegangan baru antara Iran dan Amerika Serikat memicu gangguan serius di jalur air strategis itu. Data pelacakan kapal yang dihimpun Bloomberg menunjukkan tidak ada pergerakan penyeberangan pada Minggu, saat Iran kembali menutup akses setelah insiden penembakan kapal di kawasan tersebut.

Penutupan ini langsung menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global karena jutaan barel minyak mentah dan gas alam cair tertahan di Teluk Persia. Selat Hormuz selama ini menjadi salah satu jalur paling penting bagi perdagangan energi dunia, sehingga setiap gangguan kecil saja dapat memicu dampak luas bagi pasar dan pengiriman internasional.

Ketegangan memuncak setelah insiden di laut

Situasi di lapangan memburuk setelah laporan adanya kontak senjata dan intimidasi terhadap kapal-kapal komersial. Operasi Perdagangan Maritim Inggris atau UKMTO menyebut satu kapal tanker didekati kapal perang Korps Garda Revolusi Islam di lepas pantai Oman sebelum akhirnya ditembak.

UKMTO juga melaporkan kapal kontainer terkena proyektil tak dikenal, disusul gangguan air di dekat kapal komersial lain. Rangkaian peristiwa itu memperkuat kekhawatiran bahwa jalur pelayaran di sekitar selat tidak lagi aman bagi kapal sipil.

Pembukaan singkat yang berakhir cepat

Sebelum penutupan total, lalu lintas kapal sempat melonjak singkat pada Sabtu. Sebanyak 13 kapal tanker minyak dilaporkan berbalik arah menuju Teluk Persia setelah sempat mencoba keluar usai pengumuman pembukaan selat oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.

Namun, pembukaan itu tidak bertahan lama karena perbedaan sikap antara Teheran dan Washington segera merusak situasi. Iran berharap akses pelayaran bisa kembali normal dalam periode gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah di Lebanon, tetapi eskalasi diplomatik membuat rencana tersebut berubah cepat.

Sikap AS dan respons Iran

Presiden AS Donald Trump menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka secara teknis untuk pelayaran global. Meski begitu, ia menegaskan bahwa blokade Angkatan Laut AS terhadap kapal-kapal milik Teheran akan terus diberlakukan secara ketat di laut lepas.

Pemerintah Iran menilai syarat itu tidak dapat diterima. Dari titik inilah pengetatan kembali terjadi, dan 18 kapal komersial yang sempat melintas dalam periode pembukaan singkat pada Sabtu pagi menjadi kelompok terakhir yang berhasil keluar.

Dampak pada kapal yang terkait Iran

Berdasarkan data pelacakan, hampir separuh kapal yang berhasil keluar memiliki hubungan dengan Iran. Delapan kapal di antaranya berstatus terkena sanksi AS, tetapi kapal-kapal tersebut dilaporkan gagal menembus blokade di Teluk Oman dan akhirnya berlabuh di sekitar pesisir Uni Emirat Arab dan Oman.

Dalam situasi seperti ini, operator kapal diperkirakan akan mencari cara untuk menghindari deteksi. Salah satu langkah yang kemungkinan meningkat adalah mematikan sinyal pelacakan otomatis atau AIS agar kapal bisa mencoba melewati blokade tanpa mudah dipantau.

Hingga Minggu pagi, sebuah kapal kargo yang menuju Teluk Persia dilaporkan masih tertahan di lepas pelabuhan Bandar Abbas, tepat di mulut Selat Hormuz. Kondisi itu menunjukkan bahwa jalur pelayaran strategis tersebut masih berada dalam tekanan besar dan setiap pergerakan kapal tetap bergantung pada perkembangan ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat.

Berita Terkait

Back to top button