
IHSG berpeluang melanjutkan penguatan dan menguji area 8.332 hingga 8.354 pada perdagangan Senin (20/4/2026). Ruang kenaikan itu didorong oleh aksi beli bersih investor asing yang mencapai Rp1,23 triliun serta efek pelonggaran kebijakan moneter Bank Indonesia yang mulai meresap ke pasar modal.
Pergerakan indeks juga mendapat dukungan dari posisi teknikal yang masih terjaga. Area support berada di 8.181, sementara resistansi terdekat tercatat di 8.390, sehingga level tersebut menjadi titik yang banyak dicermati pelaku pasar.
Arus asing jadi penopang utama
Dana masuk dari investor asing memberi sinyal kepercayaan terhadap pasar saham domestik. Masuknya modal asing senilai Rp1,23 triliun memperkuat posisi IHSG di zona hijau dan membantu menjaga stabilitas indeks di tengah sentimen global yang masih bergerak fluktuatif.
Analis dari Indo Premier Sekuritas menilai pergerakan IHSG masih berada dalam jalur penguatan yang sehat. Meski begitu, volatilitas global tetap perlu dicermati karena bisa memengaruhi arah perdagangan jangka pendek di pasar reguler.
Efek penurunan suku bunga mulai terasa
Pelonggaran moneter Bank Indonesia ikut memberi dorongan tambahan bagi pasar saham. BI Rate kini berada di level 4,75 persen, dengan akumulasi pelonggaran 125 basis poin sejak awal tahun lalu.
Dampak kebijakan itu mulai terlihat pada biaya pendanaan di sektor keuangan. Hingga Februari 2026, bunga kredit baru turun sekitar 40 basis poin, sedangkan bunga deposito tenor satu bulan menyusut 64 basis poin.
Kondisi ini cenderung menjadi angin segar bagi emiten dengan beban utang besar. Di saat bersamaan, turunnya biaya dana dapat membantu memperbaiki sentimen terhadap saham-saham yang sensitif terhadap arah suku bunga.
Saham bank besar masih terkoreksi
Meski IHSG menguat, saham-saham perbankan big caps justru belum sepenuhnya pulih. Hingga 17 April 2026, beberapa emiten besar masih mencatat koreksi year to date, sehingga menarik perhatian investor yang berburu saham diskon.
Berikut pergerakan empat bank besar yang menjadi sorotan pasar:
| Emiten | Harga Saham | Koreksi YTD |
|---|---|---|
| PT Bank Central Asia Tbk | Rp6.425 | -20,43% |
| PT Bank Negara Indonesia Tbk | Rp3.710 | -15,1% |
| PT Bank Mandiri Tbk | Rp4.620 | -9,41% |
| PT Bank Rakyat Indonesia Tbk | Rp3.430 | -6,28% |
Koreksi itu dinilai belum sepenuhnya sejalan dengan prospek fundamental sektor perbankan. Pasar masih memproyeksikan pertumbuhan kredit berada di kisaran high single digit hingga low double digit, sehingga ruang pemulihan tetap terbuka bila sentimen membaik.
Sektor lain mulai memberi warna
Di luar perbankan, sektor teknologi dan telekomunikasi juga ikut menjadi perhatian pelaku pasar. PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) melaporkan lonjakan laba bersih, sementara target harga analis untuk saham ini berada di level Rp210 per lembar saham.
PT Indosat Tbk (ISAT) juga masuk radar pasar meski hasil sembilan bulannya berada di bawah konsensus. Namun, perbaikan ARPU pada kuartal ketiga menunjukkan adanya sinyal efisiensi operasional yang mulai bekerja.
Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa pasar tidak hanya digerakkan oleh saham bank, tetapi juga oleh emiten-emiten lain yang menunjukkan perbaikan kinerja. Dalam kondisi seperti ini, pelebaran basis penguatan bisa membantu IHSG menjaga momentum selama aliran dana asing tetap konsisten.
Level yang perlu dicermati pelaku pasar
Selama indeks bertahan di atas support 8.181, peluang menuju resistansi 8.390 masih terbuka. Jika area itu ditembus, pasar akan mendapatkan sinyal penguatan lanjutan yang lebih meyakinkan.
Namun, pelaku pasar tetap perlu memperhatikan faktor eksternal seperti pergerakan Rupiah, data inflasi bulanan dari BPS, dan pengumuman dividen dari emiten besar. Kombinasi faktor-faktor tersebut akan menentukan apakah reli IHSG bisa bertahan atau justru melemah di tengah tekanan sentimen global.









